Hujan turun sejak sore.
Tidak deras, hanya rintik panjang yang membuat seluruh rumah terasa semakin dingin dan sunyi. Kabut turun perlahan dari arah Gunung Ciremai, menutupi halaman belakang hingga sumur tua nyaris tidak terlihat dari jendela dapur.
Aku duduk sendirian di ruang tengah sambil menatap kitab tua milik ibu yang terbuka di atas meja.
Halaman-halamannya mulai rapuh.
Tulisan tangan ibu memenuhi hampir seluruh bagian pinggir kitab. Catatan kecil, doa-doa pendek, potongan ayat, dan simbol-simbol yang dulu tidak pernah benar-benar kupahami.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Setelah mendengar pengakuan ayah, satu demi satu kepingan ingatan mulai tersusun dengan cara yang membuat dadaku sesak.
Ibu tidak pernah sekadar berdzikir.
Ia sedang menjaga sesuatu.
Atau lebih tepatnya—
menahan sesuatu.
—
Dari kamar, terdengar suara Rania batuk kecil.
Sejak kejadian di sumur, kondisinya belum benar-benar membaik. Ia lebih sering diam dan mudah ketakutan setiap mendengar suara dari lorong.
Kadang ia tiba-tiba menangis tanpa sebab.
Kadang ia terbangun sambil membaca doa yang terpotong-potong.
Aku mulai memahami kenapa ibu dulu hampir tidak pernah tidur nyenyak.
Rumah ini tidak pernah benar-benar tenang.
—
Aku membuka kembali halaman terakhir kitab tua itu.
Di sana ada tulisan tangan ibu yang lebih berantakan dibanding halaman lain, seolah ditulis dalam keadaan sangat lelah.
“Jika dzikir berhenti terlalu lama, ia mulai mendekat.”
Tenggorokanku terasa kering.
Di bawahnya ada kalimat lain.
“Ia belajar dari suara manusia.”
Tanganku menegang memegang halaman.
Dan semakin aku membaca…
semakin muncul rasa bersalah yang perlahan menghancurkan dadaku.
Karena selama ini aku membenci ibu.
Aku pikir ibu lebih mencintai doa dibanding keluarganya.
Lebih memilih sajadah daripada anak-anaknya.
Aku masih ingat bagaimana waktu kecil aku sering marah karena ibu selalu menolak tidur cepat. Hampir setiap malam ia duduk sendirian di kamar sambil berdzikir sampai larut.
Aku pikir itu fanatik.
Aku pikir ibu menjauh dari kami.
Padahal kenyataannya…
ibu sedang menjaga kami.
—
“Aa…”
Aku menoleh.
Rania berdiri di ambang lorong sambil memegang selimut tipis.
Wajahnya masih pucat.
Namun malam itu matanya terlihat lebih sadar dibanding beberapa hari terakhir.
“Kamu belum tidur?” tanyaku pelan.
Ia menggeleng.
“Aku takut kalau mati lampu lagi.”
Aku menarik kursi di dekatku.
“Duduk sini.”
Rania duduk perlahan.
Matanya tertuju pada kitab tua di meja.
“Itu punya ibu?”
“Iya.”
Hening sejenak.
Suara hujan memenuhi rumah.
Lalu Rania berkata pelan, “Aku dulu sering lihat ibu nangis habis dzikir.”
Dadaku langsung menegang.
“Kapan?”
“Hampir setiap malam.”
Tatapan Rania kosong mengarah ke lorong.
“Kadang ibu sampai gemetar sendiri.”
Aku memejamkan mata perlahan.
Selama ini kami benar-benar tidak tahu apa yang ibu hadapi sendirian.