Listrik mati tepat selepas Isya.
Rumah langsung tenggelam dalam gelap yang terasa terlalu pekat untuk disebut malam biasa. Hanya suara hujan tipis dan angin dari arah Gunung Ciremai yang terdengar dari luar jendela.
Ayah menyalakan lampu minyak tua dari dapur.
Cahayanya kecil. Kuning redup. Bayangan kami bergerak panjang di dinding kayu rumah seperti sosok-sosok lain yang ikut duduk bersama malam itu.
Rania sudah tertidur di kamar setelah tadi kembali menggigil tanpa sebab. Sesekali terdengar ia mengigau pelan memanggil ibu.
Aku duduk bersila di depan ayah.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pulang…
ayah tampak benar-benar siap menceritakan semuanya.
—
“Tahun sembilan delapan…” suaranya lirih, “…orang-orang udah kehilangan pegangan.”
Lampu minyak kecil memantulkan cahaya pada wajahnya yang tampak jauh lebih tua malam itu.
“Radio tiap hari ngomongin Reformasi. Di Jakarta rusuh. Toko dibakar. Orang dijarah. Harga sembako naik gila-gilaan gara-gara Krisis Moneter.”
Aku diam mendengarkan.
Karena yang terdengar dari suara ayah bukan sekadar cerita lama.
Melainkan trauma.
“Ada kabar massa mulai bergerak ke daerah-daerah,” lanjutnya. “Orang kampung mulai takut. Takut rumahnya dibakar. Takut anak-anaknya hilang. Takut kelaparan.”
Ia menelan ludah pelan.
“Belum lagi isu Ninja.”
Dadaku langsung menegang.
Aku masih ingat samar masa kecilku saat warga ronda tiap malam membawa golok dan celurit.
Lampu kampung dimatikan.
Orang asing dicurigai.
Semua terasa seperti hidup di tengah perang.
“Katanya para Ninja nyari kiai dan tokoh agama,” lanjut ayah. “Orang-orang makin panik.”
“Ayah pikir tulisan MILIK HAJI itu buat perlindungan,” kataku pelan.
Ayah tertawa kecil.
Tawa pahit.
“Itu cuma supaya massa lewat enggak curiga.”
Tatapannya perlahan bergerak ke arah halaman belakang rumah.
“Karena perlindungan sebenarnya…”
suaranya mengecil,
“…dilakukan di belakang rumah ini.”
—
Hujan terdengar semakin jelas.
Lampu minyak bergoyang kecil tertiup angin.
Dan ayah mulai menceritakan malam yang mengubah segalanya.
—
“Orang itu datang pakai baju putih, dengan beberapa pengikut.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Siapa?”
“Orang yang memimpin ritual.”
Suara ayah perlahan berubah berat.
“Waktu pertama datang… semua orang percaya dia kiai.”
Dadaku mulai terasa dingin.
“Dia pakai sorban. Bawa tasbih besar. Cara ngomongnya tenang. Dalilnya banyak.”
Ayah memejamkan mata sejenak.
“Dia bahkan baca ayat Qur’an.”
Aku langsung merasakan hawa aneh menjalar di tengkuk.
“Orang-orang hormat sama dia?”
“Ayah juga.”
Jawaban itu keluar cepat.
Penuh penyesalan.
“Dia ngomong tentang ikhtiar. Tentang melindungi keluarga. Tentang menjaga kampung dari fitnah dan kerusuhan.”
Lampu minyak berkedip kecil.
Dan entah kenapa…
aku mulai memahami bagaimana warga desa bisa tertipu.
Karena kejahatan paling berbahaya memang jarang datang dengan wajah menyeramkan.
Kadang ia datang membawa ayat.
Membawa doa.
Membawa penampilan orang alim.