Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #22

DARIS HANCUR

Hujan belum berhenti sejak malam sebelumnya.

Rumah tua itu terasa semakin lembap dan dingin, seolah seluruh kayunya menyerap ketakutan yang terus tumbuh di dalamnya. Setelah kejadian suara ibu di lorong tadi malam, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidur.

Rania terus demam.

Ayah duduk di ruang tengah sambil membaca ayat pelan sampai Subuh.

Sementara aku…

aku mulai merasa diriku sendiri perlahan runtuh.

Semua yang selama ini kuyakini ternyata salah.

Aku membenci ibu bertahun-tahun karena mengira ia meninggalkan kami demi doa dan dzikirnya.

Aku marah karena merasa ia lebih mencintai sajadah dibanding anak-anaknya.

Aku bahkan pernah berkata dalam hati bahwa semua ibadah ibu sia-sia karena tetap tidak bisa menyelamatkan keluarga kami.

Namun sekarang kenyataannya justru jauh lebih menyakitkan.

Ibu tidak pernah meninggalkan kami.

Ia menjaga kami.

Sendirian.

Sampai tubuh dan hidupnya habis sedikit demi sedikit.

Dan aku…

aku justru pergi meninggalkannya.

Menjelang malam, rasa sesak di dadaku semakin berat.

Aku duduk di kamar lama sambil menatap tasbih 98 butir milik ibu yang tergeletak di meja.

Butiran kayunya tampak kusam dimakan usia.

Namun entah kenapa malam itu terasa berbeda.

Aku menyentuhnya perlahan.

Hangat.

Sangat hangat.

Dan begitu jemariku menggenggam tasbih itu…

ingatan lama mulai bermunculan seperti potongan mimpi.

Ibu duduk di sajadah.

Lampu minyak kecil.

Suara dzikir yang tenang.

Dan seorang lelaki tua berjanggut putih duduk di dekatnya.

Wajahnya samar.

Namun anehnya…

aku merasa sangat mengenalnya.

Aku tidak sadar kapan akhirnya tertidur.

Namun ketika membuka mata kembali—

aku sudah berada di tempat lain.

Kabut putih menyelimuti sekelilingku.

Udara terasa sangat tenang.

Tidak dingin seperti rumah.

Tidak berat seperti biasanya.

Aku berdiri di sebuah halaman surau tua yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Lampu gantung kecil menyala redup.

Suara jangkrik terdengar samar dari kejauhan.

Dan di beranda surau itu…

seorang lelaki tua sedang duduk bersila.

Jubah putih sederhana menutupi tubuhnya.

Tasbih kayu bergerak perlahan di tangannya.

Dadaku langsung bergetar.

Aku mengenali wajah itu dari foto lama ibu.

“Kakek…”

Lelaki tua itu mengangkat kepala perlahan.

Tatapannya teduh.

Sangat teduh.

Namun ada kesedihan dalam matanya yang membuat dadaku langsung sesak.

“Kemarilah, Ris.”

Suaranya lembut.

Aku melangkah mendekat perlahan.

Dan semakin dekat…

semakin terasa ketenangan aneh memenuhi dadaku.

Berbeda sekali dengan rasa dingin dari rumah.

Seolah tempat ini jauh dari jangkauan sesuatu yang selama ini memburu kami.

Aku duduk perlahan di hadapannya.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.

Hanya suara malam dan bunyi tasbih yang bergerak pelan.

“Kamu mirip ibumu,” katanya akhirnya.

Dadaku langsung terasa sakit.

Aku menunduk cepat.

“Aku enggak pantas dibilang begitu.”

Kakek hanya menatapku tenang.

“Aku ninggalin ibu.”

Suaraku mulai bergetar.

“Aku benci dia bertahun-tahun.”

Air mataku mulai terasa panas.

“Aku pikir dia lebih milih dzikir daripada aku.”

Kakek menghela napas panjang.

“Ibumu tidak pernah marah karena itu.”

Kalimat itu justru membuat dadaku semakin hancur.

Lihat selengkapnya