Aku terbangun dengan napas memburu.
Dadaku terasa panas seperti baru berlari jauh, sementara seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin. Langit di luar jendela masih gelap kebiruan, menandakan Subuh belum benar-benar datang.
Namun ada sesuatu yang berbeda pagi itu.
Rumah terasa… lebih sempit.
Aku duduk perlahan di tepi ranjang sambil mencoba menenangkan napas. Mimpi tentang kakek masih terasa sangat nyata di kepalaku. Suara dzikir itu bahkan masih terngiang samar di dada.
“Allah…”
“…Hu…”
Aku menutup mata sesaat.
Anehnya, setiap kali lafaz itu kuingat, rasa sesak di dalam dada sedikit mereda.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Kreeek…
Suara kayu bergesekan terdengar dari luar kamar.
Pelan.
Panjang.
Seperti sesuatu yang sangat besar sedang bergerak perlahan di dalam rumah.
Aku langsung menoleh ke pintu.
Hening.
Lalu terdengar lagi.
Kreeeeek…
Bukan dari lorong.
Melainkan dari seluruh rumah.
Seolah dinding-dinding kayu tua itu sedang meregang seperti tubuh hidup.
Bulu kudukku langsung berdiri.
—
Aku membuka pintu kamar perlahan.
Lorong rumah tampak lebih gelap dari biasanya. Lampu kecil di dekat dapur berkedip redup, memantulkan cahaya kuning pucat yang membuat bayangan dinding tampak bergerak pelan.
Udara sangat dingin.
Terlalu dingin untuk pagi di kaki Gunung Ciremai.
Dan saat aku melangkah keluar…
aku melihat kabut.
Kabut tipis putih merayap dari sela-sela lantai kayu.
Aku langsung membeku.
Kabut itu bergerak perlahan seperti asap hidup, mengalir melewati kakiku menuju ruang tengah.
Dadaku mulai terasa tidak nyaman.
“Allahu…”
Aku refleks mengingat lafaz dari mimpiku tadi malam.
Kabut itu bergerak sedikit lebih lambat.
Namun tidak berhenti.
—
“Aa…”
Suara Rania terdengar lirih dari ujung lorong.
Ia berdiri di depan kamarnya. Wajahnya jauh lebih pucat dari kemarin malam.
“Aa lihat itu juga?” bisiknya.
Aku mengangguk pelan.
Kabut kini mulai memenuhi seluruh lantai rumah hingga setinggi mata kaki.
Ayah keluar dari ruang tengah sambil membawa lampu minyak.
Aku melihat ketakutan sangat jelas di wajahnya.
“Kita ke pintu belakang,” katanya cepat.
Dadaku langsung dingin.
Kami bertiga bergerak menuju pintu belakang.
Ayah menarik gagangnya keras.
Tidak bergerak sedikit pun.
Padahal pintu kayu itu biasanya longgar dan mudah terbuka.
Aku ikut membantu.
Namun rasanya seperti menarik tembok batu.
Bukan pintu.
“Aneh…” bisikku.
Wajah ayah menegang.
“Rumah ini mulai menutup dirinya.”
Kalimat itu membuat suasana terasa jauh lebih dingin.
—
Kami mencoba membuka jendela.
Sama saja.
Kayunya terasa menyatu dengan bingkai.
Tidak bergerak.
Seolah rumah ini memang tidak mengizinkan siapa pun keluar.
Rania mulai panik.
“Aa… gimana ini…?”
Kabut kini semakin tebal.
Dan bersama kabut itu…
muncul suara.
Awalnya sangat pelan.
Seperti bisikan dari kejauhan.
Namun perlahan menjadi semakin jelas.
Tangisan.
Suara orang menangis.
Banyak sekali.
Aku langsung menahan napas.
Suara itu datang dari bawah lantai rumah.