Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #24

TIDAK ADA JALAN KELUAR

Suara dzikir dari belakang rumah terus menggema sepanjang malam.

“Allahu…”

“Allahu…”

“Allahu…”

Namun tidak ada ketenangan di dalamnya.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada rasa tunduk kepada Allah.

Tidak seperti dzikir yang pernah kudengar dari ibu.

Yang ada hanya gema kosong yang dipaksa menyerupai ibadah.

Nada mereka saling bertabrakan.

Patah-patah.

Kadang terlalu cepat.

Kadang terlalu lambat.

Seperti sesuatu yang sedang belajar menjadi manusia… tetapi tidak pernah benar-benar memahami jiwa manusia itu sendiri.

Dan rumah tua itu kini seperti tenggelam di dalam suara tersebut.

Kabut memenuhi hampir seluruh lantai.

Udara menjadi sangat dingin sampai napasku terlihat samar setiap kali mengembus.

Rania mulai menggigil hebat di ruang tengah.

Tubuhnya lemah sejak tadi, tetapi sekarang keadaannya jauh lebih buruk.

Matanya terbuka sedikit.

Namun tatapannya kosong.

Seolah kesadarannya perlahan ditarik ke tempat lain.

“Rania?”

Aku mengguncang bahunya pelan.

Tidak ada respons.

Hanya bibirnya yang bergerak kecil.

Menggumamkan sesuatu.

Aku mendekatkan telinga.

“…Allah…”

Suaranya lirih sekali.

Lalu mendadak berubah.

“…bukakan…”

Dadaku langsung dingin.

Rania tiba-tiba tersenyum tipis.

Senyum yang sama seperti sosok di lorong tadi malam.

Tidak wajar.

Tidak hidup.

Ayah langsung menarik tubuh Rania menjauh dariku.

“Jangan dengarkan dia!”

“Ayah—”

“Cepat ambil air wudu!”

Suaranya gemetar.

Aku belum pernah melihat ayah setakut itu sebelumnya.

Aku berlari ke dapur.

Namun saat membuka keran—

tidak ada air.

Hanya suara mendesis panjang dari pipa tua.

Kabut sudah memenuhi hampir seluruh ruangan dapur sekarang.

Bahkan aroma kayu lembap rumah mulai berubah menjadi bau tanah basah seperti dasar sumur tua.

“Allahu…”

Suara dzikir kembali terdengar.

Kali ini tepat di belakangku.

Aku langsung menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun pantulan kaca jendela memperlihatkan sesuatu berdiri beberapa langkah di belakangku.

Tubuhku sendiri.

Aku langsung membeku.

Bayangan itu menatapku sambil tersenyum terlalu lebar.

Dan ketika aku bergerak—

pantulan itu terlambat mengikuti.

Dadaku langsung sesak.

“Allah…”

Aku refleks mengingat dzikir yang diajarkan kakek.

Pantulan itu langsung berubah.

Wajahnya retak perlahan seperti bayangan di permukaan air.

Lalu menghilang.

Aku keluar cepat dari dapur.

Dan saat kembali ke ruang tengah—

Rania sudah kejang.

Tubuh adikku melengkung kaku di lantai.

Matanya terbuka lebar.

Namun seluruh bagian putih matanya perlahan menghitam.

Ayah memegangi tubuhnya sambil membaca ayat dengan suara bergetar.

“Rania! Dengar ayah!”

Namun suara dzikir dari luar semakin keras.

Dan setiap kali suara itu terdengar…

tubuh Rania ikut bergerak kecil seperti ditarik sesuatu.

Aku langsung membantu menahan tubuhnya.

Lihat selengkapnya