Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #25

BAB 25 — KEMBALI BERDZIKIR

“Allahu…”

“Allahu…”

“Allahu…”

Suara-suara itu memenuhi ruang tengah seperti gelombang hitam yang terus menghantam kepalaku.

Bayangan-bayangan di dinding bergerak semakin dekat.

Kabut kini setinggi dada.

Udara terasa berat dan dingin sampai setiap tarikan napas seperti menusuk paru-paru.

Sementara di tengah semua itu…

aku mulai kehilangan diriku sendiri.

“Aku enggak pantes…”

bisikku lirih.

Kalimat itu terus berulang di kepalaku.

Aku tidak pantas menggantikan ibu.

Tidak pantas membaca dzikir.

Tidak pantas berharap Allah masih mendengarkanku setelah bertahun-tahun aku menjauh.

Dan sesuatu itu menyukai pikiranku yang mulai runtuh.

Bayangan-bayangan di dinding tersenyum semakin lebar.

Suara mereka berubah lembut.

Hampir menenangkan.

“Capek, ya?”

“Kamu enggak sanggup.”

“Tinggal buka pintunya…”

“Biar semua selesai…”

Dadaku terasa sesak sekali.

Tubuhku lemas.

Di belakangku, Rania terbaring tidak sadarkan diri di lantai ruang tengah. Bibirnya masih bergerak pelan seperti sedang menggumamkan sesuatu.

Ayah duduk bersandar di dinding dengan wajah lelah dan tidak berdaya.

Kami semua sudah berada di ujung batas.

Dan rumah itu tahu.

Rumah itu bisa merasakan keputusasaan kami.

Kreeeeek…

Dinding kayu berbunyi panjang seperti makhluk hidup yang sedang bernapas lega.

Seolah sesuatu di bawah rumah mulai bangun perlahan.

“Allahu…”

Suara-suara palsu itu semakin ramai.

Kini mereka terdengar seperti ribuan orang berdzikir bersamaan.

Namun kosong.

Tidak ada ruh.

Tidak ada penghambaan.

Hanya bunyi.

Hanya tiruan.

Dan anehnya…

aku mulai tidak bisa membedakan mana suara ibu yang asli dan mana yang palsu.

Aku menutup mata.

Kepalaku terasa sangat berat.

Tubuhku dingin.

Dan perlahan…

suara-suara itu mulai terdengar jauh.

Kabut.

Gelap.

Sunyi.

Lalu tiba-tiba—

aku mencium aroma melati.

Hangat.

Lembut.

Sangat familiar.

Aku membuka mata perlahan.

Dan mendapati diriku duduk di teras rumah lama saat sore hari.

Langit jingga.

Angin gunung berembus pelan membawa suara dedaunan.

Tidak ada kabut.

Tidak ada suara tawa.

Tidak ada bayangan.

Hanya ketenangan yang sudah lama sekali tidak kurasakan.

Dadaku langsung bergetar.

Karena di sampingku…

ibu duduk sambil memegang tasbih kayu.

Mukena putihnya bergerak pelan tertiup angin.

Wajahnya tampak lelah.

Namun sangat tenang.

Aku langsung menangis.

“Ibu…”

Suaraku pecah seketika.

Tubuhku gemetar.

Lihat selengkapnya