Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #26

MALAM TERAKHIR

Hujan turun sangat lebat malam itu.

Bukan hujan biasa.

Langit di atas kaki Gunung Ciremai seperti pecah, menumpahkan air tanpa henti ke atas rumah tua kami. Angin mengguncang genting dan jendela dengan suara panjang yang terdengar seperti jeritan.

Kabut memenuhi seluruh halaman.

Pohon mangga tua di depan rumah bahkan sudah tidak terlihat lagi.

Rumah itu kini seperti mengambang di tengah lautan putih.

Dan di dalamnya…

sesuatu sedang marah.

Kreeeeeeek…

Seluruh dinding kayu berbunyi keras.

Langit-langit bergetar pelan seperti ada sesuatu seperti raksasa bergerak di atas rumah.

“Allahu…”

“Allahu…”

Suara-suara palsu itu kembali terdengar.

Namun sekarang nadanya berubah.

Bukan mengejek lagi.

Melainkan penuh kemarahan.

Seolah sesuatu di bawah rumah mulai kehilangan kendali.

Aku berdiri di ruang tengah sambil terus berdzikir pelan.

“Allah…”

Napas masuk.

“…Hu…”

Napas keluar.

Dadaku masih gemetar.

Rasa takut itu belum hilang.

Bahkan justru semakin besar.

Tetapi sekarang aku tidak lagi melawan rasa takut itu.

Aku membawanya bersama dzikirku.

Dan setiap kali nama Allah kulafazkan…

suara-suara di rumah terdengar semakin kacau.

Rania masih terbaring tidak sadarkan diri di lantai ruang tengah.

Napasnya lemah.

Kadang tubuhnya bergerak kecil seperti sedang bermimpi buruk.

Ayah duduk di dekatnya dengan wajah pucat.

Matanya sembab.

Sudah terlalu lama ia hidup dalam ketakutan.

Terlalu lama menyimpan dosa dan rasa bersalah sendirian.

Hingga rumah ini perlahan memakan jiwanya sedikit demi sedikit.

Tiba-tiba—

DUUMM!

Suara keras mengguncang rumah.

Lampu minyak bergoyang.

Seluruh ruangan langsung lebih gelap dari sebelumnya.

Rania menjerit dalam keadaan tidak sadar.

Dan dari lorong…

terdengar langkah kaki.

Pelan.

Basah.

Tap.

Tap.

Tap.

Aku langsung menoleh.

Kabut di ujung lorong bergerak perlahan membentuk sosok perempuan.

Mukena putih.

Tubuh kurus.

Wajah samar tertutup bayangan.

Dadaku langsung sesak.

“Ibu…”

Sosok itu berdiri diam.

Lalu perlahan mengangkat wajahnya.

Dan aku hampir percaya itu benar-benar ibu.

Matanya sama.

Senyumnya sama.

Bahkan aroma melatinya sama.

“Aa…”

Suara itu lembut sekali.

Suara yang sangat kurindukan bertahun-tahun.

“Capek ya…”

Air mataku langsung jatuh.

Karena sesuatu itu tahu.

Ia tahu bagian paling rapuh dalam diriku.

Ia tahu aku sangat merindukan ibu.

Dan malam ini…

ia akan memakai kerinduan itu untuk menghancurkanku.

“Aa…”

Sosok ibu melangkah mendekat perlahan.

Kabut bergerak mengikuti kakinya seperti hidup.

“Kamu enggak harus terus melawan…”

Suaranya lembut.

Menenangkan.

Persis seperti dulu saat ibu menidurkanku waktu kecil.

“Kemari…”

Tanganku mulai gemetar.

Sebagian diriku ingin mendekat.

Lihat selengkapnya