Hujan masih turun deras di luar rumah.
Air menetes dari sela-sela atap tua dan jatuh ke lantai kayu dengan bunyi teratur yang membuat suasana terasa semakin sunyi.
Namun sesuatu telah berubah.
Kabut yang sejak tadi memenuhi ruang tengah mulai menipis sedikit demi sedikit.
Bayangan-bayangan hitam di dinding tidak lagi bergerak liar seperti sebelumnya.
Mereka masih ada.
Mengawasi.
Tetapi kini seperti menjauh.
Seolah sesuatu di dalam rumah mulai kehilangan kuasanya.
Aku duduk bersandar di dekat tubuh Rania sambil menarik napas perlahan.
Dadaku masih terasa berat.
Tubuhku gemetar karena lelah.
Namun di tengah semua itu, ada ketenangan kecil yang belum pernah kurasakan sejak pulang ke rumah ini.
Ayah duduk diam di dekat jendela dengan wajah basah oleh air mata.
Tidak ada lagi amarah di wajahnya.
Tidak ada lagi penyangkalan.
Hanya kelelahan seorang lelaki yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.
Dan di antara suara hujan malam…
aku mendengar adzan Subuh dari kejauhan.
Sangat samar.
Tertahan hujan dan kabut.
Namun cukup jelas untuk membuat dadaku bergetar.
“Allahu Akbar…”
Aku langsung menunduk pelan.
Sudah lama sekali aku tidak benar-benar mendengar panggilan itu.
Bukan sekadar suara dari masjid.
Melainkan panggilan untuk kembali.
—
Aku berdiri perlahan.
Kakiku terasa lemah.
Namun ada dorongan kuat dalam dada yang membuatku terus bergerak.
Aku menuju kamar mandi belakang untuk mengambil wudu.
Air dari keran akhirnya kembali mengalir.
Dingin sekali.
Namun kali ini dinginnya terasa normal.
Bukan dingin menyesakkan seperti sebelumnya.
Aku membasuh wajah perlahan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku menangis saat berwudu.
Bukan karena takut.
Melainkan karena malu.
Malu kepada Allah.
Karena terlalu lama menjauh.
Karena terlalu lama menyalahkan-Nya atas semua rasa sakit dalam hidupku.
Air bercampur air mata jatuh ke lantai.
“Allah...”
bisikku pelan.
Dadaku sesak.
Namun sesak yang berbeda.
Seperti hati yang lama terkunci akhirnya mulai terbuka sedikit demi sedikit.
—
Aku kembali ke ruang tengah membawa sajadah lama milik ibu.
Sajadah itu masih sedikit lembap oleh udara rumah.
Namun aroma melatinya masih samar terasa.
Aku membentangkannya perlahan menghadap kiblat.
Tanganku gemetar.
Aku takut.
Takut shalatku tidak diterima.
Takut doaku terlambat.
Takut aku sudah terlalu jauh.
Dan lagi-lagi…
aku teringat suara ibu.
“Datang saja.”
Air mataku kembali jatuh.
Aku berdiri di atas sajadah itu sambil menarik napas panjang.
“Allahu Akbar.”
Kalimat itu terasa sangat berat keluar dari mulutku.