Subuh datang tanpa suara ayam.
Tanpa suara motor warga yang biasa mulai terdengar dari jalan depan rumah.
Hanya hujan tipis dan kabut.
Rumah tua itu terasa terlalu sunyi pagi itu.
Rania sudah sadar sepenuhnya, tetapi tubuhnya masih lemah. Ia lebih banyak diam di ruang tengah sambil memeluk lututnya sendiri. Kadang matanya menatap kosong ke arah lorong rumah seperti mendengarkan sesuatu yang tidak bisa kami dengar.
Namun setidaknya…
ia kembali.
Dan itu sudah terasa seperti keajaiban.
Aku duduk di dekat jendela sambil memegang tasbih 98 butir milik ibu. Udara rumah mulai terasa lebih hangat dibanding malam-malam sebelumnya, tetapi belum benar-benar normal.
Karena gangguan itu masih ada.
Semalam, menjelang subuh, aku mendengar langkah kaki di atas plafon.
Pelan.
Menyeret.
Tap…
Tap…
Tap…
Seperti seseorang berjalan tanpa tujuan di atas kepala kami.
Dan tadi pagi, aroma tanah basah kembali muncul dari arah sumur belakang.
Aroma yang sama seperti malam saat Rania hampir ditarik masuk ke dalamnya.
“Allahu…”
Aku berdzikir pelan.
Dan suara langkah itu langsung berhenti.
Tetapi tidak hilang.
Aku masih bisa merasakan sesuatu sedang mendengarkan dari dalam rumah.
Menunggu.
—
Ayah keluar dari kamar dengan wajah jauh lebih tua daripada beberapa hari lalu. Matanya cekung. Rambutnya yang mulai memutih tampak berantakan.
Ia duduk perlahan di depanku.
Beberapa detik kami hanya diam mendengar suara hujan.
Lalu ayah berkata lirih,
“Belum selesai.”
Dadaku langsung menegang.
“Ayah tahu?”
Ayah mengangguk pelan.
Tangannya gemetar saat mengambil gelas teh di meja.
“Yang dilakukan warga tahun 98 itu…”
ia menelan ludah,
“…bukan cuma minta perlindungan.”
Aku menatap ayah tanpa berkedip.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar mulai bicara tanpa menyembunyikan apa pun.
—
“Tahun itu semua orang takut.”
Suara ayah berat.
“Krisis Moneter bikin orang kehilangan akal.”
Tatapannya kosong ke luar jendela.
“Warga dengar kabar penjarahan dari kota. Ada cerita rumah dibakar. Orang hilang. Isu Ninja masuk desa.”
Aku teringat kembali cerita-cerita lama yang kutemukan di loteng.
Malam gelap tanpa lampu.
Siskamling.
Celurit.
Tulisan MILIK HAJI di depan rumah.
“Ayah pikir waktu itu… kalau enggak melakukan sesuatu, kita semua bakal habis.”
Ia memejamkan mata.
“Lalu orang itu datang.”
Dadaku langsung dingin.
"Orang pintar yang menyamar seperti kiai itu."
“Ayah pikir dia ulama.”
Suara ayah bergetar pelan.
“Bacaan doanya sama. Pakai sorban. Pakai tasbih. Bicara soal Allah…”
Napasnya mulai berat.
“Tapi ternyata…”
Ia menunduk dalam.
“…tujuannya bukan Allah.”
Rumah mendadak berbunyi pelan.
Kreeeek…
Seolah sesuatu di dalam dinding mulai terusik.
Ayah langsung terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan.
“Dia bilang desa ini bisa dibentengi.”
“Dengan apa?”
Ayah menatapku.
“Dengan membuka jalan.”
Dadaku langsung sesak.
“Jalan?”
“Supaya sesuatu itu tinggal di sini.”
Hening.
Hanya suara hujan yang tersisa.
“Dan sesuatu itu akan menjaga desa selama diberi makan.”
Tanganku langsung mengepal kuat.
“Diberi makan apa?”
Ayah menjawab sangat pelan.
“Ketakutan manusia.”
Kabut di luar jendela tampak semakin tebal.
Dan tiba-tiba rumah terasa jauh lebih dingin.
—
“Ayah baru sadar setelah semuanya terjadi.”
Wajah ayah hancur saat mengatakan itu.
“Orang-orang memang enggak jadi dijarah.”
Ia tertawa kecil.
Tawa pahit penuh penyesalan.
“Tapi setelah itu… rumah-rumah mulai berubah.”
“Suara-suara?”
Ayah mengangguk.
“Mimpi buruk.”