Pagi datang dengan sangat tenang.
Untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke rumah itu, aku tidak terbangun oleh suara langkah di plafon.
Tidak ada suara dzikir palsu.
Tidak ada bisikan dari lorong.
Hanya suara ayam dari kejauhan dan bunyi motor warga yang mulai melewati jalan depan rumah.
Aku membuka mata perlahan.
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar.
Hangat.
Normal.
Dadaku langsung terasa sesak oleh perasaan asing yang hampir kulupakan—
tenang.
Aku duduk perlahan di tepi ranjang sambil mendengarkan suasana rumah.
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang mencekam seperti sebelumnya.
Sunyi biasa.
Sunyi rumah tua di pagi hari.
Dan untuk pertama kalinya…
aku tidak merasa sedang diawasi.
—
Aku keluar kamar pelan.
Aroma teh hangat langsung tercium dari dapur.
Rania duduk di meja makan sambil memegang cangkir dengan kedua tangan. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya jauh lebih hidup dibanding beberapa hari lalu.
Ia menoleh ketika melihatku.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang sederhana.
Namun cukup membuat dadaku terasa hangat.
“Pagi, A.”
Aku mengangguk pelan.
“Udah mendingan?”
Rania mengangguk.
“Mimpi buruknya masih ada…” ia menunduk sebentar, “…tapi enggak separah kemarin.”
Aku duduk di depannya perlahan.
Rumah itu masih menyimpan luka.
Kami semua juga masih menyimpan luka.
Namun setidaknya sekarang luka itu mulai terasa seperti sesuatu yang bisa disembuhkan.
Bukan sesuatu yang akan menelan kami hidup-hidup.
—
Ayah keluar dari kamar tak lama kemudian.
Ia sudah mengenakan jaket lusuh dan peci hitam tuanya.
Wajahnya terlihat jauh lebih tenang.
Namun juga lebih tua.
Seolah satu malam terakhir itu menghabiskan sisa tenaga yang selama ini menahannya tetap berdiri.
“Ayah mau ke mana?” tanyaku.
Ia diam beberapa detik sebelum menjawab pelan,
“Keliling desa.”
Aku mengernyit.
“Ada perlu?”
Ayah mengangguk kecil.
“Ayah mau minta maaf.”
Hening langsung memenuhi ruang makan.
Rania perlahan menunduk.
Sementara aku hanya menatap ayah tanpa bicara.
Karena aku tahu…
kalimat itu jauh lebih berat daripada yang terdengar.
“Ayah capek sembunyi,” katanya lirih.
Tangannya bergerak pelan di atas meja.
“Selama ini ayah pura-pura semua baik-baik aja.”
Tatapannya kosong ke arah jendela.
“Padahal enggak pernah selesai.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Karena untuk pertama kalinya…
ayah terdengar seperti seseorang yang akhirnya berhenti lari dari dirinya sendiri.
—
Sebelum pergi, ayah masuk ke kamar ibu.
Aku mengikutinya perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, kamar tersebut tidak terasa dingin.
Tidak ada lagi hawa menyesakkan.
Tidak ada lagi rasa seperti sedang berdiri di dekat sesuatu yang lapar.
Hanya kamar tua yang sunyi.
Sajadah terlipat rapi di sudut. Kamar itu tampak rapi. Mungkin Rania merapikannya.
Lemari kayu berdiri diam.
Dan aroma melati samar masih tinggal di udara.