Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #30

DZIKIR YANG BARU

Beberapa bulan berlalu sejak malam terakhir itu.

Musim hujan mulai berganti perlahan.

Kabut Gunung Ciremai masih turun setiap pagi, tetapi tidak lagi terasa seperti sesuatu yang hidup dan mengawasi dari kejauhan.

Kini kabut itu hanya kabut biasa.

Udara dingin desa kembali terasa menenangkan.

Dan rumah tua kami…

akhirnya bernapas dengan tenang.

Pagi itu aku sedang memperbaiki pagar depan rumah ketika suara motor tua berhenti di jalan kecil depan halaman.

Ayah turun sambil membawa karung semen di belakang motornya.

Wajahnya masih tampak tua dan lelah, tetapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di sana.

Tenang.

Bukan tenang karena semua dosa sudah hilang.

Melainkan tenang karena ia akhirnya berhenti berlari.

“Aa, bantu angkat,” katanya pelan.

Aku langsung berjalan mendekat sambil tersenyum kecil.

“Berat amat.”

Ayah tertawa lirih.

“Namanya juga semen.”

Sudah lama sekali aku tidak mendengar tawa kecil seperti itu dari ayah.

Dan hal sederhana itu justru terasa asing sekaligus hangat.

Kami mulai memperbaiki bagian depan rumah yang rusak dimakan usia.

Papan kayu yang lapuk diganti.

Genteng bocor diperbaiki.

Jendela-jendela lama dicat ulang.

Kadang beberapa warga ikut membantu.

Termasuk orang-orang yang dulu memilih diam ketika rumah kami mulai dijauhi karena cerita-cerita aneh.

Sekarang perlahan mereka kembali datang.

Membawa kopi.

Membantu memaku papan.

Atau sekadar duduk sore sambil mengobrol ringan di teras.

Seolah desa itu sendiri sedang mencoba sembuh dari luka lama yang dipendam bertahun-tahun.

Ayah juga berubah.

Ia lebih sering keluar rumah sekarang.

Bukan untuk melarikan diri.

Melainkan untuk mendatangi warga satu per satu.

Meminta maaf.

Kadang aku melihatnya pulang dengan mata merah setelah berbicara dengan keluarga orang-orang yang dulu ikut ritual tahun 1998.

Beberapa memaafkan.

Beberapa memilih diam.

Namun ayah menerimanya tanpa membela diri lagi.

Dan entah kenapa…

melihatnya seperti itu membuat kebencian dalam diriku perlahan hilang.

Karena akhirnya aku sadar—

ayah juga korban dari ketakutan yang diwariskan zaman itu.

Aku sendiri mulai kembali ke mushola kecil dekat pertigaan desa.

Mushola tua bercat hijau pucat itu dulu sering kudatangi bersama ibu saat masih kecil.

Sudah lama sekali aku tidak masuk ke sana.

Pertama kali datang kembali, kakiku sempat berhenti di depan pintu.

Takut.

Malu.

Merasa asing.

Namun suara adzan maghrib yang menggema pelan di udara sore membuat dadaku bergetar.

Dan aku melangkah masuk.

Lantai mushola masih dingin seperti dulu.

Karpetnya masih memiliki aroma kayu dan debu yang sama.

Pak Ustad yang menjadi Imam bahkan masih orang yang sama.

Ia menatapku cukup lama malam itu.

Lihat selengkapnya