Di belakang rumah,
Paman Takashima udah sibuk bakar kayu sambil masak singkong.
Asap ngebul.
Api nyala.
Singkong direbus.
Pemandangan yang sangat tradisional, tenteram, dan sedikit mencurigakan kalau dilihat dari sudut pandang pemadam kebakaran.
"MATENG LAH, ANJIR..." gumam Takashima sambil ngaduk panci.
"Dari tadi gue tungguin, bukannya mateng malah bikin gue tambah laper."
Sementara itu, di kamar, Krish baru kelar mandi. Dia berdiri di depan lemari, ngaca sambil ngelap rambut.
Dia miringin kepala ke kiri.
Ke kanan.
Terus nyengir tipis.
"Hmm. Lumayan."
Dia ngedeket ke cermin.
Krish keluar kamar, handuk masih nyangkut di leher. Pas ngelewatin kamar Krishna, langkahnya mendadak terhenti.
Biasanya jam segini kamar itu udah konser.
Ngoroknya Krishna bisa ngebuat genteng geter,cicak pindah kontrakan.
Tapi sekarang?
Sepi.
Krish melongo ke pintu.
Dia nempelkan telinga ke pintu.
Hening.
"Krishna?"
Tok tok tok.
"Krishna?"
Nggak ada jawaban.
Krish buka pintunya sedikit.
Kosong.
Kasur acak-acakan. Bantal nyungsep ke lantai. Selimut melintir kayak habis dipakai duel sama ular piton.
Krish menatap pemandangan itu selama tiga detik.
"Anjir. tuh bocah kemana ya?"
Dia hendak pergi ketika matanya menangkap sesuatu di dalam tas Krishna.
Kedip.
Krish berhenti.
Kedip.
Dia mundur dua langkah.
"...Lah?"
Di dalam tas itu ada kotak hitam. Permukaannya memancarkan cahaya kecil, dengan logo yang langsung bikin alis Krish naik.
Logo yang sama persis dengan dokumen yang dia temukan kemarin.
PROJECT E.Y.E.S.
"BUSYET."
Krish nengok ke pintu, lalu ke kotak, lalu ke pintu lagi.
"Ini bocah ngambil dari mana?"
Dia jongkok di depan tas.
"Jangan bilang nyolong. Ya Allah, Krishna... maling aja kalau mau tuh yang profesional. Jangan bawa pulang barang yang logonya aja udah kayak proyek pemerintah gagal."
Kotak itu berkedip lagi.
Krish makin penasaran.
Dia mengulurkan tangan.
"Gue liat doang, ya. Kalau ini barang curian, gue nggak terlibat. Gue cuma saksi."
Ujung jarinya menyentuh permukaan kotak.
ZRT.
Krish mengernyit.
"Eh?"
Ada sengatan kecil. Tipis banget, hampir nggak terasa. Tapi sesuatu bergerak di bawah kulitnya-sesuatu yang bukan sekadar aliran listrik biasa.
ZZZZZT-!
Mata Krish mendadak kosong.
Di kepalanya, sebuah wajah muncul.
Perempuan.
Awalnya biasa saja. Wajah manusia. Sepasang mata. Bibir yang perlahan membentuk senyuman.
Lalu senyuman itu melebar.
Kulit wajahnya berubah. Bentuk tubuhnya terdistorsi. Sesuatu yang mengerikan merobek batas antara manusia dan monster.
Tapi yang paling mengerikan bukan perubahan itu.
Perempuan tersebut masih tersenyum.
Senyum yang sama.
Seolah-olah apa pun yang sudah ngambil alih tubuhnya, masih menyisakan sesuatu yang ngenalin cara tersenyum seperti manusia.
BRUK!
Krish terjengkang.
"NGH-!"
Napasnya putus. Matanya membelalak. Tangannya langsung melempar kotak itu menjauh.
"ANJING! ANJING, ANJING-!"
Kotak ngehantem lantai.
Krish mundur sampai punggungnya ngebenturin lemari.
Dadanya naik turun brutal.
Dia mencet kepalanya, berusaha mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
Perempuan siapa itu?!
Kenapa bisa ada di kepalanya?!
Dan kenapa rasanya begitu-
"KRISH! LO NGAPAIN?!"
Suara Takashima dari belakang rumah bikin Krish hampir copot nyawa untuk kedua kalinya dalam lima detik.
"G-GAK NGAPA-NGAPAIN, PAM!"
"TERUS KENAPA TERIAK-TERIAK?!"
"KESETRUM GUE!"
"HAH?!"
Krish terdiam.
Sial.
"...Kesetrum nyamuk!"
"NYAMUK KOK NYETRUM, BEGO?!"
"NYAMUK ZAMAN SEKARANG CANGGIH, PAM!"
"OTAK LO YANG KETINGGALAN ZAMAN!"
Krish memejamkan mata. Tangannya masih gemeter.
Dari belakang rumah, Takashima kembali berteriak.
"UDAH, SINI BANTUIN! AMBILIN PANCI!"
Krish natap kotak hitam yang tergeletak di lantai.
Lalu menatap pintu.
Lalu kotak lagi.
"...Gue barusan hampir mati, malah disuruh ngambil panci."
"KRISH! CEPETAN!"
"IYA, PAM!"
Dia buru-buru berdiri, masih dengan muka orang yang baru ngeliat neraka membuka cabang di kamar sebelah.
Pagi bahkan belum benar-benar dimulai.
Dan hidupnya udah mulai ngaco.
Miracle of Technology.
Pagi itu, suasana gedung masih jauh dari kata normal.
Sejak kotak E.Y.E.S raib dari ruang penyimpanan, orang-orang MoT belum benar-benar bisa bernapas lega. Ruang keamanan penuh teknisi yang mondar-mandir, layar monitor dipelototi bergantian, sementara beberapa peneliti masih sibuk mencocokkan rekaman dengan data sensor.
Hasilnya?
Belum ada yang bisa menjelaskan ke mana perginya kotak itu.
Drone penyusup sudah hancur. Sistem keamanan sempat ditembus. Kotaknya nggak ada. Dan sekarang, setiap orang yang lewat di lorong rasanya punya potensi jadi tersangka.
Di tengah suasana yang makin nggak karuan itu, suara motor lejen terdengar dari halaman depan.
Ngeeng... ngeeng...
Sebuah Honda Astrea masuk ke area parkir.
Pengendaranya matiin mesin, nurunin standar, lalu turun dengan santai seolah-olah dia baru saja mampir ke warung buat beli rokok.
Rambutnya klimis disisir ke belakang. Kacamata bulat bertengger di hidung. Kemejanya kebuka dua kancing, rokok nyelip di bibir.
Namanya Jin.
Iya, Jin. Ga percaya lo?, padahal kerjaannya di lembaga penelitian teknologi.
Jin ngambil tas kecil dari jok motor, ngunci setang, lalu berjalan menuju gedung.
Baru sampai lobi, dia sudah ngeliat dua orang berlari sambil ngebawa tablet.
"CCTV ruang penyimpanan udah balik belum?"
"Belum! Servernya masih diperiksa!"
"Terus rekaman sebelum alarm?"
"Gue juga lagi nyari!"
Mereka berdua hampir menabrak Jin.
"Eh, minggir dulu, Pak!"
Jin melirik mereka.
"Pagi juga."
Nggak ada yang menjawab. Keduanya keburu menghilang di tikungan.
Jin ngisep rokoknya, lalu ngelanjutin langkahnya.
Di dekat lift, seorang anggota divisi yang wajahnya kusut langsung menghampiri.
"Pak Jin! Akhirnya datang juga!"
"Kenapa? Muka lo kayak habis ditagih utang."
"Dokter Fushida, Pak."
Jin menghela napas kecil.
"Dia kenapa lagi?"
Anggota itu melirik ke arah lorong sebelah.
"Ngemilin pintu."
Jin diam sebentar.