Aroma semur jengkol udah nyebar ke mana-mana, sampai ruang tengah pun ikut kecipratan wanginya.
Di dapur, Lira berdiri di depan kompor sambil ngaduk isi panci. Mukanya serius banget, seolah-olah dia lagi ngerjain eksperimen yang nasib umat manusia bergantung sama hasilnya.
Padahal cuma semur jengkol.
Bibi Markonah yang lagi sibuk ngupas bawang sampai beberapa kali ngelirik ke arahnya.
"Non, apinya kecilin dikit."
Lira nengok.
"Hah? Kenapa, Bi?"
"Kalau kegedean begitu, airnya keburu abis. Jengkolnya belum tentu empuk."
"Oh."
Lira buru-buru ngecilin api, terus lanjut ngaduk.
Beberapa detik kemudian, Bibi Markonah ngelirik lagi.
"Non."
"Hm?"
"Dari tadi udah berapa kali ngaduknya?"
Lira berhenti sebentar.
"Emang kenapa?"
"Ya Bibi nanya."
"Ya mana aku tahu. Nggak ngitung."
Markonah menghela napas kecil.
"Kalau diaduk terus, jengkolnya bisa bubar, Non. Itu mau dimasak apa mau dijadiin bubur?"
Lira langsung ngintip ke dalam panci.
Beberapa potong jengkol emang udah mulai merekah.
"Yah, terus gimana dong?"
"Ya ditinggal bentar. Biar mateng sendiri. Masa harus ditemenin terus?"
Lira akhirnya naruh sendok kayunya.
Tapi matanya masih nempel ke panci.
Markonah kembali ngupas bawang. Dapur sempat hening beberapa detik, sebelum Lira tiba-tiba buka mulut lagi.
"Bi."
"Hm?"
"Kalau orang kesetrum parah, biasanya abis itu masih sakit nggak, sih?"
Tangan Markonah langsung berhenti.
Dia menoleh pelan.
"Kesetrum?"
Lira ngangguk kecil.
"Maksudnya... badannya masih sakit nggak?"
Markonah naruh bawang yang lagi dikupasnya.
"Lho, kok tiba-tiba nanya begitu?"
Lira ngambil sendok kayunya lagi, tapi kali ini cuma diaduk pelan-pelan.
"Ya... kemarin Krishna sampai nggak sadar, kan."
Ekspresi Markonah berubah sedikit.
"Oh. Non Lira masih kepikiran kejadian kemarin?"
Lira nggak langsung jawab.
Dia cuma mandangin kuah semur yang mulai mengental.
"Kalau aja kemarin tasnya nggak kena air gara-gara aku, mungkin dia nggak bakal sampai begitu."
Markonah mengernyit.
"Lho, emangnya non sengaja nyiram tasnya?"
"Ya nggak, Bi!"
"Nah, terus?"
"Tapi tetep aja gara-gara aku..." Lira mengembuskan napas. "Coba kemarin aku nggak bikin semuanya berantakan."
Markonah memperhatikan Lira sebentar, lalu kembali ngambil pisaunya.
"Gini, Non. Kalau non emang sengaja bikin dia kesetrum, baru itu namanya masalah."
Lira langsung nengok.
"BI!"
"Lho, Bibi belum selesai ngomong!"
Lira manyun.
Markonah melanjutkan dengan santai.
"Non boleh ngerasa bersalah karena kejadian kemarin. Wajar. Tapi bukan berarti semua yang terjadi harus Non Lira tanggung sendirian. Namanya juga kecelakaan. Kamu nggak mungkin tahu bakal jadi separah itu."
Lira terdiam.
Sendok kayu di tangannya menyentuh dasar panci.
Tok.
"Makanya aku mau bawain makanan buat dia," gumamnya.
Markonah melirik kotak bekal yang udah disiapin di meja.
"Bagus, dong. Kebetulan masakan Non juga kayaknya udah hampir mateng tuh."
Lira membuka tutup panci, ngendus aromanya, lalu menutupnya lagi.
"Bi."
Markonah langsung nengok.
"Apa lagi, Non?"
"Menurut Bibi, ini udah enak belum?"
Markonah memandang panci itu, lalu melirik Lira.
"Lho, mau Bibi cobain?"
"Iya."
"Ya ampun. Dari tadi kenapa nggak bilang?"
Lira ngambil sendok bersih dan menyerahkannya.
Markonah nyicipin sedikit kuah semur. Dia ngunyah pelan, lalu ngangguk.
"Hmm. Enak."
Mata Lira langsung berbinar.
"Beneran?"
"Bener."
"Bukan karena Bibi kasihan sama aku kan?"
Markonah sampai berhenti ngunyah.
"Lho, emangnya Bibi tukang bohong?"
"Bukan gitu!"
"Kalau nggak enak, memangnya Bibi mau bilang enak?"
Lira mikir sebentar.
"Ya... bilang aja kurang apa."
"Nah, nanti Non sedih."
"BIBI!"
Markonah ngakak kecil.
Sementara itu, Lira kembali ngaduk semurnya dengan muka sebal.
Niatnya mau masak dengan tenang, malah dari tadi jadi bahan godaan.
Belum sempat dia protes lagi, suara langkah terdengar dari lorong.
"Ya ampun, ini masak apa? Wanginya sampai depan!"
Mamanya, Angelia, muncul dengan tas kerja di bahu dan ponsel di tangan.
Begitu masuk dapur, pandangannya langsung tertuju ke panci di atas kompor.
"Semur jengkol, Ma," jawab Lira.
Angelia mengangkat alis.
"Wah, tumben banget. Mama kira Bibi Markonah aja yang masak."
Lira langsung melotot kecil.
"Lira juga bisa masak, kali Mah!"
"Iya, Sayang. Mama tahu."
Angelia tersenyum sambil mengusap lengan putrinya.
"Cuma biasanyakan kamu paling lama di dapur kalau lagi nyari cemilan."
"Ya sekarang lagi pengin masak, emangnya nggak boleh?"
"Boleh, dong. Siapa yang ngelarang?"
Angelia melirik meja.
Di sana udah ada kotak bekal yang siap diisi.
Dia menunjuknya dengan dagu.
"Itu buat siapa?"
Lira ngikutin arah pandang mamanya.
"Buat temen."
"Temen sekolah?"
"Iya."
Angelia mengangguk. Nggak ada pertanyaan lanjutan.
Dia malah mendekati kompor, ngebuka tutup panci sedikit, lalu buru-buru menutupnya lagi.
"Wah, aromanya kuat banget."
Markonah menyahut dari samping.
"Namanya juga jengkol, Bu."
Angelia tertawa kecil.
"Iya juga, ya. Nanti satu rumah bisa ikut makan."
"Kalau Mama mau, ambil aja," kata Lira.
"Nggak usah, Sayang. Mama udah sarapan kok."
Angelia ngebenerin ikatan rambut Lira yang agak berantakan.
"Kamu sendiri udah makan belum?"
Lira mendadak diam.
Angelia langsung nyipitin mata.
"Lho. Belum, ya?"
"Belum."
"Ya ampun! Kamu malah masak buat orang dulu, diri sendiri belum diurus!"
"Ma, aku lagi masak. Nanti juga makan!"
"Ya Mama cuma ngingetin."
Angelia mengusap pipi putrinya pelan.
"Mama nggak mau kamu sibuk ngurusin orang lain, terus malah lupa ngurus diri sendiri. Paham?"
Lira mengangguk.
"Iya, Ma."
"Nah, gitu."
Angelia mengecup keningnya, lalu mengambil tas yang tadi sempat ditaruh di kursi.
"Mama berangkat dulu, ya. Hari ini mungkin pulangnya agak sore."
"Hati-hati, Ma."
"Iya, Sayang."
Baru beberapa langkah menuju lorong, Angelia mendadak berhenti dan menoleh lagi.
"Oh, iya! Semoga temen kamu suka masakannya."
Lira tersenyum kecil.
"Semoga."
Angelia akhirnya pergi.
Begitu suara langkah mamanya menghilang, Lira kembali menatap panci di depannya.
Markonah melirik kotak bekal.
"Non, nanti bekalnya ditutup rapat, ya. Jangan sampai keburu dingin."
"Iya, Bi."
"Kalau mau dianter, bilang aja. Bibi bisa bantu."
Lira mengangguk pelan.
Lalu, setelah beberapa saat, dia kembali bertanya.
"Bi."
Markonah menoleh.
"Apa lagi?"
"Menurut Bibi... dia bakal mau makan, kan?"
Markonah menatap Lira.
"Lho, memangnya kenapa nggak mau?"
"Ya siapa tahu dia belum pengin makan."
"Kalau belum pengin, ya nanti dimakan pas udah pengin."
Lira terdiam.
Jawaban sesederhana itu malah bikin pikirannya muter lagi.
Apa Krishna bakal nerima bekalnya?
Apa dia masih marah?
Apa dia masih ngerasa sakit?
Markonah nggak ngelanjutin godaannya kali ini.
Dia cuma ngegeser kotak bekal sedikit lebih dekat ke Lira, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Sementara itu, Lira masih berdiri di depan kompor, nunggu semur jengkolnya benar-benar matang.
Buat pertama kalinya setelah kejadian kemarin, setidaknya ada satu hal yang bisa dia lakukan buat Krishna.
Walaupun dia sendiri belum tahu, cowok itu bakal bereaksi kayak apa.
KEDIAMAN TAKASHIMA...
Di depan rumah, Krish duduk di bangku pendek.
Di depannya ada meja kecil. Di atas meja itu tergeletak sebuah kotak hitam misterius yang sejak tadi sukses bikin kepalanya penuh pertanyaan.
Sejak telepon tadi, dia belum dapet penjelasan yang bener-bener masuk akal.
Dan yang bikin tambah kesel?
Pemilik barangnya malah asyik main PB seolah-olah nggak ada masalah apa-apa.
Krish melirik ponselnya, lalu mendecih.
"Bisa-bisanya..."
Dari samping rumah terdengar suara sandal diseret.
Srek. Srek. Srek.
Krishna muncul dengan kaus kusut, celana kolor, dan rambut berantakan. Mulutnya menguap lebar, sementara matanya masih setengah merem.
Dia berjalan santai ke arah pintu belakang.
Krish langsung manggil.
"Eh! Sini dulu!"
Krishna tetap jalan.
"Krishna!"
"Apa?!"
"Sini, bentar!"
Krishna berhenti. Dia menoleh dengan muka orang yang baru aja dipaksa bangun dari mimpi indah.
"Apaan, sih? Gue mau mandi."
"Bentar doang."
"Ga!"
"Bentar doang, bego!"
Krishna menghela napas panjang, lalu berbalik dengan langkah malas.
"Ya udah. Apaan?"
Krish nunjuk kotak hitam di atas meja.
"Ini punya lo, kan?"
Krishna melirik benda itu sekilas.
"Iya."
"Lo dapet dari mana?"
"Jatuh kena kepala gue."
Krish mengernyit.
"...Hah?"
"Jatuh. Kena. Kepala. Gue."
"Gue denger, anjir! Maksud gue, jatuh dari mana?!"