Ruangan CCTV MoT dipenuhi cahaya dari deretan monitor yang menampilkan berbagai sudut fasilitas. Raven duduk di depan konsol utama, memutar ulang rekaman penyusupan di ruang penyimpanan rahasia.
Di layar, beberapa drone kecil berbentuk laba-laba merayap keluar dari ventilasi. Salah satunya mendekati pembaca biometrik. Sesaat kemudian, sistem akses mengalami gangguan, memberi kesempatan bagi drone-drone itu untuk melanjutkan pergerakan.
Raven memperlambat rekaman ketika kotak E.Y.E.S mulai diangkat dari tempat penyimpanannya.
Alarm berbunyi.
Sistem keamanan bereaksi. Laser biru menyapu ruangan, menghancurkan drone-drone yang terdeteksi. Rekaman berikutnya memperlihatkan para penjaga memasuki ruangan dan memeriksa sisa-sisa mesin yang berserakan.
Raven menghentikan video.
"Jin, ada satu hal yang belum bisa gue pastikan."
Jin mendekat ke konsol.
"Pergerakan drone terekam sampai sistem keamanan menyerang mereka. Tapi rekaman ini belum cukup buat memastikan bagaimana kotak itu akhirnya keluar dari fasilitas."
Jin mengamati layar selama beberapa saat, lalu bertanya, "Ventilasi yang dilaporkan kapten keamanan sudah diperiksa?"
"Belum secara menyeluruh. Laporannya menyebut ada celah yang terlihat seperti sengaja dibiarkan terbuka."
Jin menoleh kepada Jaffar.
"Lo lanjutkan pemeriksaan di lapangan. Mulai dari ventilasi itu. Dokumentasikan kondisinya, periksa mekanisme penguncinya, lalu telusuri catatan perawatan dan siapa yang terakhir menangani bagian tersebut. Jangan menyimpulkan apa pun sebelum ada bukti."
Jaffar mengangguk mantap.
"Siap, Pak!"
Dia segera meninggalkan ruangan.
Raven menyimpan rekaman yang relevan untuk dibandingkan dengan temuan di lapangan. Sementara itu, Gwen mulai menghubungi tim intelijen guna menelusuri kemungkinan pihak luar yang mengetahui rancangan sistem keamanan MoT.
Tak lama kemudian, komunikasi dari Jaffar masuk ke konsol Raven.
"Gue sudah sampai di lokasi ventilasi."
Di hadapannya, panel logam itu menyisakan celah kecil. Sebelum menyentuh apa pun, Jaffar mengambil foto dari beberapa sudut untuk mendokumentasikan kondisi awal. Setelah itu, dia memeriksa tepian panel dan mekanisme penguncinya.
"Raven, celahnya masih ada. Gue belum menemukan tanda kerusakan yang bisa memastikan panel ini dibuka paksa."
"Foto-fotonya kirim ke gue. Catat juga kondisi penguncinya. Nanti gue cocokkan dengan laporan pemeriksaan setelah kejadian."
Jaffar mengirimkan foto-foto tersebut.
Raven membuka gambar yang masuk, memperbesar bagian pengunci, lalu membandingkannya dengan laporan yang tersedia. Belum ada bukti yang cukup untuk menentukan apakah celah itu sengaja dibuat atau berasal dari kerusakan.
"Jin, kita perlu memeriksa catatan perawatan dan akses ke area ini," kata Raven. "Kondisi panelnya sendiri belum menjelaskan bagaimana celah itu terbentuk."
"Lakukan," jawab Jin. "Kita ikuti bukti yang ada. Jangan menuduh siapa pun hanya karena ada bagian yang mencurigakan."
Gwen melanjutkan koordinasi dengan tim intelijen. Raven mulai menelusuri catatan perawatan dan akses, sementara Jaffar tetap berada di lokasi untuk menyelesaikan dokumentasi sebelum melanjutkan pemeriksaan jalur ventilasi.
Di ruang CCTV, Jin kembali mengamati peta fasilitas.
Kini mereka memiliki petunjuk konkret untuk ditelusuri. Namun, celah ventilasi itu baru menunjukkan adanya kejanggalan, belum menjelaskan siapa yang berada di balik penyusupan ataupun bagaimana kotak E.Y.E.S bisa keluar dari MoT.
Di kediaman Lira,,
Lira nutup wadah semurnya, terus masukin ke tas kecil yang udah dia siapin dari tadi.
Setelah mastiin wadahnya tertutup rapat, dia membawa tas itu ke ruang tamu.
Di sofa, Terra lagi ngerjain tugas. Beberapa lembar kertas berserakan di meja, sementara pulpennya sesekali berhenti setiap kali dia mikir.
Begitu ngeliat Lira lewat sambil membawa tas, Terra mengangkat kepala.
"Lira, mau ke mana?"
Lira berhenti.
"Mau ke rumah Krishna, Kak. Aku mau nganterin semur."
Pulpen Terra berhenti bergerak.
"Krishna?"
"Iya, Kak."
Terra melirik tas di tangan Lira, lalu memperhatikan wajah adiknya.
"Masih kepikiran kejadian kemarin?"
Lira menunduk sedikit.
"...Iya. Aku masih ngerasa bersalah, Kak. Gara-gara aku, dia sampai pingsan."
Terra diam sebentar. Dia kembali melihat buku tugasnya, tapi pulpennya belum bergerak lagi.
"Lira, kejadian itu bukan berarti Lira sengaja nyakitin dia."
"Tapi aku tetap pengin minta maaf."
Terra mengembuskan napas pelan.
"Ya udah. Kalau memang itu yang Lira mau, Kakak nggak bakal ngelarang."
Lira mengangkat wajahnya.
"Beneran, Kak?"
"Iya." Terra melirik tas bekal itu sekali lagi. "Tapi sekarang Lira mau ke sana naik apa?"
"Sepeda."
Terra langsung menoleh.
"Sepeda? Rumahnya lumayan jauh, Lira."
"Aku kuat, kok, Kak."
"Kakak nggak nanya Lira kuat atau enggak." Terra menutup buku tugasnya. "Kalau ban sepedanya bocor di jalan, Lira mau ngapain?"
"Aku bisa benerin ban."
Terra mengangkat alis.
"Bisa?"
Lira terdiam sebentar.
"...Nggak."
"Nah, terus masih mau naik sepeda?"
Lira nyengir kecil. Terra cuma menggelengkan kepala, lalu berdiri dan mengambil kunci Scoopy yang tergeletak di meja.
"Sini. Kakak anterin."
Mata Lira langsung berbinar.
"Makasih, Kak!"
"Jangan seneng dulu. Kakak cuma nggak mau Lira kenapa-kenapa di jalan."
Lira mengikuti Terra menuju pintu.
"Tapi Kakak mau nganterin aku, kan?"
Terra berhenti, lalu menoleh dengan tatapan datar.
"Lira."
"Iya, Kak?"
"Jangan bikin Kakak berubah pikiran."
Lira buru-buru mengangguk. Senyumnya masih kelihatan, meskipun dia berusaha menahannya.
"Iya, Kak."
Terra kembali berjalan. Saat melihat tali tas bekal Lira hampir melorot dari bahunya, dia spontan membetulkannya.
"Talinya yang bener. Nanti semurnya tumpah."
"Iya, Kak. Aku hati-hati."
"Terus nanti pakai helm. Pegang Kakak yang bener selama di jalan."
"Iya."
Terra meliriknya sekali lagi.
"Dengerin, ya."
Lira mengangguk mantap.
"Iya, Kak."
"Bagus. Ayo, keburu siang."
Terra melangkah keluar lebih dulu, sementara Lira menyusul sambil memegang tas bekalnya erat-erat.
Buat Terra, mengantar Lira seharusnya bukan perkara besar. Dia cuma nggak mau adiknya kenapa-kenapa di jalan.
Soal Krishna, itu urusan lain.
Motor Scoopy mulai ninggalin halaman rumah. Terra fokus nyetir, sementara Lira duduk di belakang sambil meluk tas semurnya.
Beberapa menit pertama, Lira cuma diam. Dia sesekali ngelirik tas di pangkuannya, sampai akhirnya membuka suara.
"Kak..."
"Apa, Lira?"
"Menurut Kakak, Krishna bakal maafin aku, nggak?"
Terra meliriknya sekilas lewat kaca spion.
"Kenapa nggak?"
"Tapi aku bikin dia sampai pingsan..."
"Lira, kan udah bilang mau minta maaf. Ya, nanti minta maaf yang bener."
Lira terdiam sebentar.
"Kalau dia masih marah gimana, Kak?"
"Ya, kasih dia waktu. Lira juga nggak bisa maksa orang langsung maafin Lira, kan?"
Lira mengangguk pelan.
"...Iya, Kak."
"Udah, jangan dipikirin terus. Nanti malah pusing sendiri sebelum sampai."
Lira kembali diam. Tapi nggak lama kemudian, dia malah nanya lagi.
"Kakak pernah bikin orang marah juga?"
Terra meliriknya lewat kaca spion.
"Lira."
"Iya, Kak?"
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"
"Penasaran aja."
"Urus aja masalah Lira sendiri dulu."
Lira cekikikan kecil.
"Hehe, iya, Kak. Aku diam."
"Bagus."
Terra kembali fokus ke jalan. Sementara itu, Lira menyandarkan punggungnya dan memeluk tas semur sedikit lebih erat.
Nggak lama kemudian, Terra mulai memperlambat motornya saat memasuki jalan perumahan.
"Rumahnya yang mana?"
Lira langsung menegakkan badan, matanya sibuk nyari rumah yang dia tuju.
"Itu, Kak. Yang di depan!"
Terra mengikuti arah tunjuk Lira, lalu mengarahkan Scoopy ke depan rumah Krishna.
Scoopy berhenti pas di depan rumah Takashima.
Terra matiin mesin, terus turun. Lira nyusul sambil meluk tas semurnya erat-erat.
Mereka jalan ke arah rumah.
Di halaman, Krish lagi sibuk ngurusin kotak E.Y.E.S yang udah kebuka. Serius banget sampai nggak ngeh kalau ada dua orang yang baru datang.