Eclipse Blood

SthenosWhy
Chapter #1

Bab 1 : Tangis dan Amarah

500 tahun telah berlalu sejak Pahlawan Perak berhasil mengusir para halfwolf dari tanah manusia. Dari perjuangan itu lahirlah Kekaisaran Jakarta, sebuah wilayah yang dibentuk untuk mempersatukan manusia dan menjaga perdamaian di tengah ancaman yang selalu mengintai. Kekaisaran ini terbagi menjadi tujuh negara bagian, masing-masing dipimpin oleh keluarga-keluarga terpilih yang mewarisi darah para Pahlawan Perak. Tujuh negara bagian itu adalah Asterion, Rowanthar, Reedfall, Virelia, Sagehold, Iridia, dan Lilithene.

Setiap negara bagian memiliki karakteristik sendiri, budaya, dan kekuatan militer yang unik, namun semuanya bersatu di bawah panji Kekaisaran untuk melindungi umat manusia dari sisa ancaman halfwolf yang tak pernah sepenuhnya hilang. Meski ancaman itu jarang muncul, bayang-bayang peperangan masa lalu tetap membekas, menjadi peringatan bahwa kedamaian adalah sesuatu yang harus dipertahankan dengan waspada.

"Orin, kamu lagi ngapain di situ?" teriak seorang anak perempuan dengan rambut hitamnya yang terurai sambil berlari menghampiri Orin di sebuah menara tua.

Orin menoleh sejenak, kemudian menunjuk matahari senja yang mulai meredup. "Lihat itu, Elara. Indah, kan?"

Mata Elara berbinar. "Wah, iya... benar-benar indah!" katanya dengan kagum

Anak kecil itu mengerutkan kening, ekspresinya marah sambil menunjuk-nunjuk. "Oh iya, Orin... tadi mama kamu nyariin, loh! Bikin khawatir!"

Orin menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis. "Huff... ya sudah, ayo. Waktunya balik." Ia mulai melangkah menuruni tangga menara, diikuti oleh Elara.

Orin Nymphaea dan Elara Kencana, mereka merupakan teman masa kecil. Mereka tinggal di ujung paling selatan kekaisaran, Desa Lira, yang secara administratif berada di dalam wilayah negara Sagehold.

Desa Lira kecil dan tenang, dikelilingi hutan lebat dan perbukitan rendah. Meski jauh dari pusat kekaisaran, desa ini selalu hidup dengan aktivitas penduduk yang sederhana, seperti petani yang menyiangi ladang, pedagang yang menata dagangan, anak-anak yang berlarian di jalan setapak.

Orin dan Elara sering menghabiskan waktu bersama di desa itu. Dari bermain di sungai hingga memanjat pohon tertinggi di pinggir desa, mereka mengenal setiap sudut tempat ini seperti rumah sendiri.

Suatu hari halfwolf tiba-tiba menyerang Desa Lira. Suara teriakan panik dimana-mana. Orin yang berumur 12 tahun menatap sekelilingnya dengan mata terbuka lebar, suara hewan ternak yang ketakutan bercampur dengan jeritan penduduk yang berlari mencari perlindungan.

"Cepat, Orin! Jangan lepaskan tanganku!" perintah ibunya sambil menariknya mengikuti ayahnya.

Ayah Orin di depan mereka, mencari jalan untuk melarikan diri. Kepanikan memecah semua orang ke arah yang berbeda, tidak ada yang sempat berpikir jernih. Di tengah perjalanan melarikan diri, di persimpangan jalan setapak yang dipenuhi warga yang berlarian, mereka melihat Elara dan ayahnya terpisah dari arah lain, terseret arus kepanikan yang berbeda dari keluarga Orin.

Orin menoleh ke belakang. Di antara pepohonan, ia melihat Elara dan ayahnya bergerak cepat, berusaha mengikuti jalannya.

"Elara!" teriak Orin sambil melangkah lebih cepat.

Elara mengangguk dan berlari bersama ayahnya di belakang. Orin menahan langkah sejenak, tapi ayahnya memberi isyarat agar dia terus maju.

Mereka menembus semak dan akar pohon, suara jeritan perlahan menjauh. Napas Orin berat, tapi matanya tetap waspada. Di sampingnya, Elara menoleh sesekali, pandangannya bertemu dengan Orin. Tanpa kata, mereka mengerti satu hal: hari ini mereka selamat, dan langkah berikutnya akan tetap menjadi ujian.

Lihat selengkapnya