Suara gelas dan tawa pelan bercampur dengan aroma alkohol yang pekat di bar pinggiran kota. Lampu temaram menggantung di langit-langit, memantul di lantai kayu yang kusam. Beberapa pria dan wanita duduk sambil membicarakan pekerjaan mereka, tapi percakapan yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah tentang Eclipse Blood.
"Eh, lu dengar ga kabar terakhir?" tanya seorang pria paruh baya, mencondongkan badan sambil menyesap minumannya.
"Yah, lu tau sendiri..." sahut temannya, suaranya berat dan sedikit serak karena mabuk. "Akhir-akhir ini banyak halfwolf mati di hutan... mungkin dewa yang menanganinya, hahaha..."
Sejenak mereka tertawa, tapi kemudian pria itu menatap serius, menurunkan gelasnya. "Tapi orang-orang bilang, itu Eclipse Blood. katanya mereka maniak halfwolf. dan juga menurut rumor tubuh mereka selalu ternoda darah....siapa pun yang minta jasa mereka untuk berburu halfwolf, pasti dilayani."
Temannya mengerutkan kening. "Eclipse Blood? Iitu nama orang?, kan?"
Pria pertama menelan ludah, suaranya menjadi pelan. "Bukan.Mereka organisasi gelap, Pemimpin mereka... Orin Nymphaea. lu tau ga? Satu-satunya yang selamat dari Desa Lira waktu serangan halfwolf sembilan tahun lalu. Orang bilang, dia nggak cuma tangguh... tapi dingin dan gak segan membunuh lawannya."
Sekeliling mereka hening sebentar. Beberapa menatap ke arah jendela bar, seolah takut ada sosok bayangan di luar. Nama Orin terdengar seperti legenda yang menakutkan.
"Dengar baik-baik... jangan sampai lu jadi musuh mereka. Mereka bisa membunh siapa pun, termasuk manusia."
Tawa di bar tetap terdengar, tapi ada getaran takut di baliknya, seperti semua orang tahu konsekuensinya tapi tak ada yang berani membicarakannya.
Sementara itu, di markas bawah tanah Eclipse Blood, tawa memenuhi ruangan. Meja-meja dipenuhi gelas kosong dan sisa makanan. Mereka berpesta kecil, saling bercerita, saling menyombongkan hasil buruan hari itu.
"Hari ini gue bintang utamanya!" Geminio tertawa keras. Tubuhnya kecil untuk ukuran usianya, wajahnya masih muda dengan rambut hitam di sisi kiri dan putih di sisi kanan. "Dua belas halfwolf. Dua belas! Bener kan, Geminia?"
"Bener!" Geminia mengangguk cepat sambil tertawa. "Hari ini kita yang paling bersinar. Nggak ada yang ngalahin."
Leonard, pria paruh baya dengan janggut tebal, duduk bersandar di kursinya. Ia mengelus janggutnya pelan, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Iya, iya," katanya santai. "Kalian memang bintang utamanya hari ini."
Geminia langsung menepuk bahu saudara kembarnya. "Tuh, dengar sendiri. Bahkan Leo juga ngakuin."
Geminio tertawa lebih keras. "Hahaha! Bintang utama Eclipse Blood!"
Tawa dan suara gelas beradu memenuhi markas. Di tengah keramaian itu, Orin berdiri menyandar di dinding, tangan bersedekap, mengamati tanpa ikut larut.
Leonard melirik ke arahnya.
"Oi, Orin. Ngapain diam di sana?" katanya sambil mengangkat gelas. "Sini. Duduk. Ini pesta, bukan pos jaga."
Orin mendengus pelan, lalu melangkah mendekat. Ia menarik kursi dan duduk di sisi Leonard.
"Ya, ya... merepotkan," gumamnya. "Kenapa sih harus pesta kayak gini?"
"Karena kita jarang punya alasan buat tertawa."
Suara itu datang dari sisi kanan Orin.
Piscessa sudah duduk di sana. Rambutnya tergerai sederhana, sikapnya santai, tapi matanya tajam mengamati sekitar. Ia menyodorkan gelas ke arah Orin.
"kali ini aja ikut. Kita kan jarang ngadain acara begini."
Orin melirik gelas itu, lalu menatap Piscessa. "Dan menurutmu itu penting?"
Piscessa mengangkat bahu, senyum tipis muncul.
"Ya begitulah..."
Di depan mereka, Geminio dan Geminia duduk berhadapan. Piring mereka hampir kosong. Tangan bergerak cepat mengambil makanan, wajah mereka penuh senyum puas.
"Lihat mereka," ujar Piscessa pelan. "Seperti tidak makan sepuluh hari"
"Makan itu bagian dari kemenangan," jawab Geminia ringan.
Geminio mengangguk sambil mengunyah. "Dan kita menang besar hari ini."