Mereka masih duduk berdampingan ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.
Pelan. Terukur. Bukan langkah orang tersesat.
Leo menurunkan cangkirnya. Orin tidak bergerak, tapi telinganya sudah menangkap suara itu sejak beberapa detik sebelumnya. Di lantai, Geminio menggerutu dan membalik badan. Geminia masih meringkuk di sudut dekat peti kayu, mantelnya menjadi selimut dadakan.
"Kalau bukan urusan penting," kata Orin pelan, "nggak mungkin ada yang datang pagi-pagi."
Leo tidak menjawab, tapi tangannya sudah bergerak ke arah pedang pendeknya.
Penutup besi bergeser perlahan, gesekan logam tua menggema di lorong. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau kota yang masih setengah terjaga. Air mengalir pelan di saluran sempit, menetes dari dinding beton yang lembap dan berlumut. Tempat ini dulunya jalur pembuangan kota, jalur yang dilupakan. Kini hanya segelintir orang yang tahu bahwa di bawah tanah, ada kelompok pemburu yang bekerja tanpa nama dan tanpa lambang resmi.
Orin berdiri, merapikan mantelnya, lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah ringan dan pasti.
Di belakangnya, Leo meregangkan bahu.
"Mau ke mana?"
"Ketemu klien."
"Yang nyari Eclipse Blood jam segini biasanya bawa masalah."
"Masalah memang kerjaan kita."
Leo mengangguk pelan. "Balik hidup-hidup ya."
Orin tidak menjawab. Ia naik ke permukaan kota, meninggalkan gema air dan kegelapan markas.
Sesampainya di bar, suasananya masih sepi.
Lampu minyak menyala temaram, cahayanya kuning dan lelah. Meja kayu penuh bekas goresan lama, bekas pisau, bekas cincin, bekas kemarahan yang pernah tumpah di sini dan tidak pernah benar-benar dibersihkan. Bau alkohol basi dan asap rokok lama menggantung berat di udara. Pelayan muda di balik meja menatap Orin sekilas, lalu kembali mengusap mejanya tanpa bertanya. Di sini, tidak ada yang banyak tanya. Itu salah satu alasan tempat ini dipilih.
Orin memilih meja dekat dinding, duduk dengan posisi yang memberinya pandangan ke seluruh ruangan tanpa terlihat mencolok. Ia memesan sesuatu yang hangat, lebih karena kebiasaan daripada rasa lapar, dan menunggu.
Pria itu datang sepuluh menit kemudian. Mantelnya sederhana tapi bersih, bukan pakaian orang miskin, bukan pula pakaian orang kaya yang mencoba terlihat biasa. Wajahnya tegang dengan cara yang berbeda dari ketakutan biasa, lebih seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan baru sekarang memutuskan untuk bertindak.
Ia duduk di meja lain, jaraknya cukup dekat. Mereka tidak saling menatap, tidak berjabat tangan, tidak menyebut nama.
"Eclipse Blood?" tanya pria itu pelan.
"Langsung ke permintaan," jawab Orin.
Pria itu menelan ludah sekali, lalu memulai. Ada halfwolf yang bergerak di sekitar jalur kafilah antara dua kota. Bukan halfwolf biasa, katanya, karena yang biasa sudah bisa ditangani penjaga kota. Yang ini berbeda, tidak meninggalkan jejak yang jelas, tidak ada bau kuat, dan selalu menyerang dari arah yang tidak terduga. Sudah tiga kafilah yang diserang dalam sebulan terakhir. Tidak semua korban mati, tapi cukup banyak yang tidak bisa melanjutkan perjalanan.
"Kenapa tidak lapor ke militer?" tanya Orin.
Pria itu terdiam sebentar. "Sudah. Mereka bilang akan ditangani. Tapi sudah dua minggu dan tidak ada yang datang."
Orin menatap mejanya. Itu bukan jawaban yang mengejutkan.
"Bayaran?" tanyanya.
Angka disebutkan. Cukup untuk membuktikan bahwa pria ini serius, tapi tidak terlalu besar sehingga terasa seperti jebakan. Orin mengangguk pelan.