Mereka tidur lama.
Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Setelah malam di Hutan Karven, tubuh meminta haknya dengan cara yang tidak bisa ditolak. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia akhirnya terlelap di kursi masing-masing, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya, persis seperti tadi malam.
Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut ruangan, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.
Pagi datang, dan tidak ada yang bergerak.
Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata, menatap langit-langit markas yang sama seperti setiap hari, dan memutuskan bahwa cukup sudah istirahatnya. Ia meregangkan lengan ke atas dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi, mulutnya sedikit terbuka.
Geminio menatap saudarinya sebentar. Wajah Geminia ketika tidur selalu terlihat lebih muda dari biasanya, semua ketegangan yang biasanya ada di rahangnya menghilang, garis-garis kewaspadaan yang terbentuk selama bertahun-tahun ikut melonggar. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam di tepi, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.
Geminio berdiri pelan agar tidak menimbulkan suara yang tidak perlu, lalu mulai mempersiapkan sesuatu di sudut kecil yang mereka pakai sebagai dapur darurat.
Ketika Geminia akhirnya terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu.
"Kau masak?" tanyanya, suaranya masih serak karena baru bangun.
"Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya."
"Itu definisi masak."
"Kalau kau bilang begitu, terima kasih."
Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis menyentuh sisi tulang rusuknya. Ia menarik napas hati-hati, mengetes. Sakit, tapi bukan sakit yang memburuk. Bagus.
Geminio meletakkan mangkuk di depannya tanpa komentar apapun. Isinya sederhana, kaldu bening dengan beberapa irisan umbi-umbian dan sepotong roti keras di pinggirnya. Tidak istimewa sama sekali. Tapi hangat.
"Makasih," kata Geminia pelan.
"Jangan biasakan."
Mereka makan dalam diam yang tidak canggung. Di sudut ruangan, Leo mulai bergerak, menggeliat dengan wajah seseorang yang sedang berdamai dengan fakta bahwa tidur di dinding tidak sebaik tidur di kasur. Piscessa sudah bangun rupanya, duduk di tempat yang sama dengan senapan di pangkuan, tapi sekarang ia membersihkan bagian-bagiannya dengan kain kecil dan minyak.
Orin duduk di kursi kayunya, pedang di pangkuan, menatap api kecil di tengah ruangan. Ia tampak tenang, tapi matanya tetap waspada, kebiasaan yang tidak pernah hilang meski hari ini tidak ada perburuan yang dijadwalkan.
Pagi di markas bawah tanah Eclipse Blood terasa lebih santai dari biasanya.
Tidak ada briefing. Tidak ada peta yang dibentangkan. Tidak ada percakapan tentang target atau jalur atau bayaran. Hanya orang-orang yang bergerak dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya, masing-masing menyelesaikan hal-hal kecil yang selalu tertunda ketika pekerjaan terus datang.
Leo duduk di meja dekat peta lama yang ditempel di dinding beton, menandai beberapa jalur dengan pensil kayu sambil meneguk kopi pahit yang sudah dingin. Piscessa merapikan amunisinya, menghitung ulang persediaan peluru perak dengan teliti dan menyusunnya kembali ke dalam kantong kulit dengan urutan yang hanya ia yang tahu logikanya.
Geminio dan Geminia, setelah mangkuk kaldu tadi selesai dan tulang rusuk Geminia sudah dikonfirmasi tidak patah, kembali ke versi diri mereka yang lebih familiar.
Geminio mencoba menyapu lantai dengan sapu yang gagangnya terlalu pendek untuk ukuran tubuhnya, sehingga ia harus sedikit membungkuk dan ekspresinya menjadi seperti seseorang yang sedang marah pada kenyataan. Setiap kali ia berhasil mengumpulkan remah ke satu titik, Geminia lewat dan menendangnya pelan hingga berpencar lagi.
"Eh, jangan! Itu susah payah!" Geminio berteriak, suaranya lebih dramatis dari situasinya.
"Aku hanya lewat," jawab Geminia polos sambil terus berjalan.
"Kau lewat dengan sengaja!"
"Aku tidak bisa mengontrol kaki."
"Itu bohong dan kau tahu itu bohong."
Geminia terkikik dan Geminio mengejarnya dengan sapu yang gagangnya terlalu pendek itu, sehingga setiap ayunannya terlihat lebih menggelikan dari mengancam. Mereka berlarian di antara meja dan kursi, suara tawa mereka memenuhi ruangan dengan cara yang membuat markas bawah tanah itu terasa seperti bukan tempat yang seharusnya sunyi dan suram.
Piscessa menggeleng dari sudut ruangan, senyumnya tipis tapi ada.
Leo mengangkat matanya dari peta sebentar, melihat kembar itu berlarian, lalu kembali ke petanya. "Kalau mereka diam sebentar saja," gumamnya, "aku bisa fokus sebentar."
Tapi matanya tidak bisa menahan kilau geli.
Orin hanya tersenyum tipis dari kursinya. Bukan senyum hangat, tapi tanda pengakuan: markas ini tetap hidup, bahkan di hari yang paling tenang sekalipun.
Geminio akhirnya terpeleset di tumpukan kain yang tergeletak di sudut, jatuh dengan gaya yang terlalu dramatis untuk kecelakaan yang sesederhana itu. Geminia berhenti berlari, menepuk lutut, dan tertawa keras. "Aku menang! Kau kalah di kandang sendiri!"
"Ini curang! Kain itu tidak seharusnya di sana!"
"Itu kainmu sendiri yang kau lempar tadi malam."