Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas.
Tidak ada yang istimewa dari cara datangnya, hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."
Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.
Sagehold berbeda dari kota-kota lain yang pernah mereka singgahi.
Bukan karena gedungnya lebih megah, atau jalannya lebih lebar. Tapi ada sesuatu di udara kota ini yang terasa tidak seperti biasanya. Semacam ketegangan yang tidak diumumkan, yang hanya bisa dirasakan lewat hal-hal kecil. Penjaga di gerbang kota memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar yang biasanya ramai sampai sore terlihat mulai sepi sebelum tengah hari. Dan prajurit, terlalu banyak prajurit, bergerak ke sana kemari dengan langkah yang terlalu tergesa untuk sekadar patroli rutin.
Orin memperhatikan semua itu diam-diam sejak mereka memasuki gerbang kota.
"Ada yang aneh," gumamnya pelan ke Leo yang berjalan di sampingnya.
Leo menyesap kopi dari cangkir kayu yang ia beli dari pedagang pinggir jalan. "Aku juga ngerasa," jawabnya singkat, tanpa menoleh.
Di belakang mereka, Geminio dan Geminia berjalan dengan langkah yang jauh lebih tidak serius. Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke seorang prajurit muda yang berdiri kaku di depan sebuah gedung batu, matanya lurus ke depan seperti seseorang yang sudah diperintah untuk tidak berkedip.
"Kasian banget," bisik Geminio. "Berdiri dari tadi kayak patung. Nggak betah tuh."
"Sstt," Geminia menahan tawa. "Tapi iya sih... mukanya kaku banget. Kayak baru makan emping sekarung."
Piscessa yang berjalan paling belakang tidak menanggapi, matanya terus menyapu lorong-lorong sempit di sisi jalan.
Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun, menunggu waktu pertemuan dengan klien. Orin berdiri menyandar di tiang kayu, lengan bersedekap. Di seberang jalan, dua pria tua duduk di bangku depan kedai, berbicara pelan tapi cukup keras untuk terdengar ke sini kalau tidak ada angin.
"...sudah tiga hari pasukannya keluar kota ke arah barat. Belum balik semua."
"Iya. Katanya ada laporan dari desa-desa di sepanjang jalur Rowanthar. Nggak kirim kabar."
"Halfwolf?"
Pria pertama menghela napas. "Apa lagi kalau bukan itu."
Geminio yang tadi masih berbisik ke Geminia mendadak tidak bersuara. Ia melirik ke arah Orin. Orin tidak balik menatapnya, tapi rahangnya sedikit mengeras.
"Orin," kata Geminia pelan, nada bercandanya sudah menghilang sepenuhnya.
"Aku dengar," jawab Orin.
Klien mereka bernama Harven. Pedagang kain setengah baya dengan perut yang menunjukkan bahwa hidupnya selama ini tidak kekurangan makan, tapi dengan mata yang hari ini terlihat jauh lebih cemas dari orang yang biasa kenyang.
Pertemuan berlangsung di ruang belakang sebuah penginapan kecil. Bau lilin murah dan debu kayu tua. Harven duduk di kursi dengan dua pengawalnya berdiri di belakang, tapi keduanya kelihatan lebih gugup daripada majikannya.
"Tujuannya Rowanthar," kata Harven membuka percakapan. "Konvoi kecil, empat kereta. Barang kain dan rempah-rempah. Normalnya perjalanan tiga hari lewat jalur barat."
"Jalur yang sama dengan yang katanya sepi kabar," kata Leo, matanya tidak meninggalkan wajah Harven.
Harven terdiam sebentar. "Iya. Makanya aku minta orang yang bukan sembarangan."
"Bayaran?" tanya Orin.
Harven menyebut angka. Lebih dari harga wajar. Lumayan jauh di atasnya.
Geminio dan Geminia saling melirik cepat dengan ekspresi yang sama persis, alis sedikit naik, sudut bibir menahan sesuatu.
Orin tidak berubah ekspresinya. "Kapan berangkat?"
"Besok pagi. Subuh."
"Oke."
Tidak ada jabat tangan. Tidak ada basa-basi panjang. Harven menatap Orin sebentar seolah ingin menambahkan sesuatu, tapi kemudian memilih diam. Pertemuan selesai.
Di luar penginapan, Geminio akhirnya tidak tahan. "Orin, tadi waktu dia nyebut angkanya... aku hampir nangis haru, loh."
"Aku juga," sambung Geminia serius. "Mau beli snack satu karung."
"Fokus," kata Orin datar.
"Iya, iya... tapi tetap mau beli snack."
Malam terakhir di Sagehold, mereka menghabiskan waktu di sebuah bar kecil di ujung gang. Bukan tempat yang bagus, langit-langitnya rendah dan lampunya redup, tapi kursinya cukup nyaman dan tidak ada yang terlalu peduli siapa yang duduk di pojok.
Leo memesan minuman. Piscessa duduk diam, menatap mejanya sendiri. Geminio dan Geminia, luar biasanya, tidak terlalu berisik malam ini. Mereka sesekali berbisik satu sama lain tapi tidak sampai mengoceh panjang seperti biasanya.
Di meja sebelah, empat prajurit duduk. Bukan prajurit muda, tapi yang sudah kelihatan dari cara mereka duduk dan cara mereka memegang gelas bahwa mereka sudah pernah melihat hal-hal yang tidak mudah dilupakan. Mereka berbicara dengan suara yang setengah dipelankan, tapi di bar yang tidak terlalu ramai, cukup jelas.
"...Eryndel sudah dua minggu nggak ada kabarnya."
"Eryndel itu desa yang mana?"
"Antara sini dan Rowanthar. Masuk ke dalam sedikit dari jalur utama. Kecil, tapi ada sekitar dua ratus jiwa di sana."
"Ada yang dikirim ke sana?"
"Regu kecil. Tiga hari lalu. Belum balik."
Hening di antara empat prajurit itu.