Musim dingin, dua puluh empat tahun yang lalu.
Salju turun perlahan di luar arena es yang hampir kosong. Lampu-lampu stadion masih menyala, memantulkan cahaya ke permukaan salju yang menumpuk di tempat parkir.
Beberapa jam sebelumnya, ribuan orang berdiri dan bertepuk tangan di dalam arena itu. Nama mereka disebut berulang kali oleh komentator, disambut sorakan yang tak henti.
Sarah Whitmore dan Adam Hale.
Pasangan ice skating yang baru saja memenangkan Kejuaraan Nasional.
Kemenangan itu bukan hanya tentang medali. Dengan skor tertinggi malam itu, mereka resmi menjadi wakil negara untuk Olimpiade Musim Dingin tahun berikutnya.
Di kursi pengemudi mobilnya, Adam masih belum bisa berhenti tersenyum.
“Masih tidak percaya,” katanya sambil melirik ke arah Sarah yang duduk di sampingnya. “Kita benar-benar berhasil.”
Sarah memandang keluar jendela mobil. Salju tipis berjatuhan seperti serpihan kaca yang berkilau di bawah lampu jalan.
Di pangkuannya tergeletak tas olahraga besar. Di dalamnya masih ada sepatu skatingnya—pisau baja yang beberapa jam lalu meluncur dengan sempurna di atas es.
Ia menghela napas kecil, lalu tersenyum.
“Ini baru permulaan,” katanya.
Adam tertawa pelan.
“Permulaan?” katanya. “Sarah, kita baru saja memenangkan nasional. Kita akan ke Olimpiade.”
Ia menepuk setir mobil dengan antusias.
“Bayangkan… kita berdiri di sana. Upacara pembukaan. Semua negara. Semua kamera.”
Sarah menggeleng pelan, walau senyumnya semakin lebar.
“Kalau kita mulai sombong sekarang,” katanya, “pelatih akan membunuh kita sebelum Olimpiade.”
Adam tertawa keras.
Mobil mereka meluncur keluar dari area parkir menuju jalan raya yang sepi. Di kanan kiri jalan, hutan pinus berdiri gelap, tertutup salju tebal.
Malam itu sangat dingin.
Udara begitu sunyi sampai suara roda mobil di atas jalan es terdengar jelas.
Sarah menyandarkan kepalanya di kursi dan menutup mata sebentar. Tubuhnya masih terasa hangat oleh adrenalin pertandingan.
Ia masih bisa mendengar musik program bebas mereka di kepalanya.
Masih bisa merasakan dorongan Adam saat mereka melakukan triple twist terakhir—gerakan yang membuat seluruh arena berdiri.
Tiba-tiba Adam berbicara lagi, suaranya lebih pelan.
“Sarah…”
“Hm?”
“Kalau kita menang di Olimpiade…”
Sarah membuka satu matanya.
“Kita belum sampai sana.”