Edge of Destiny

Bramanditya
Chapter #2

First Stroke

Musim dingin pertama Andrea terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda.

Langit kota itu selalu tampak pucat, seolah matahari hanya mampir sebentar lalu menghilang lagi di balik awan tebal. Udara dingin menusuk sampai ke tulang—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya di pulau yang dipenuhi laut dan matahari.

Andrea duduk di kursi ruang kuliah, menopang dagu dengan tangan, menatap keluar jendela.

Salju turun lagi.

Butiran putih itu jatuh perlahan, menempel di kaca jendela seperti serpihan kapas.

Dosen di depan kelas masih berbicara tentang teori ekonomi yang panjang dan membosankan. Suaranya terdengar seperti dengungan jauh di telinga Andrea.

Pikirannya melayang.

Ia teringat suara ombak.

Terbayang pantai rumahnya di Bali. Bau asin laut. Angin hangat yang meniup rambutnya saat ia berdiri di atas papan surfing.

Andrea menghela napas panjang.

Di sampingnya, Jena menoleh.

“Kalau kamu menghela napas lebih keras lagi,” bisiknya, “aku yakin profesor akan mengira kamu sedang sekarat.”

Andrea menoleh malas.

“Aku hanya bosan.”

Jena menyipitkan mata.

“Kamu selalu bosan sejak musim dingin datang.”

Andrea mengangkat bahu.

“Karena hidupku dulu hanya tiga hal.”

“Apa?”

“Pasir. Laut. Matahari.”

Jena tertawa kecil.

“Dan surfing,” tambah Andrea.

“Ya, tentu saja surfing.”

Jena menatap Andrea beberapa detik, lalu tersenyum seperti seseorang yang baru saja mendapat ide.

“Aku tahu tempat yang bisa menyembuhkan kebosananmu.”

Andrea mengangkat alis.

“Bar?”

“Tidak.”

“Restoran?”

“Bukan.”

“Kalau kamu menyeretku ke museum lagi—”

“Percaya saja padaku,” potong Jena sambil menyeringai.

Andrea memandangnya curiga.

Itu biasanya berarti sesuatu yang tidak ia duga.

Sore hari, mereka berjalan melewati jalanan kota yang tertutup salju tipis.

Andrea memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tebalnya.

“Nah,” katanya sambil menatap Jena. “Sekarang kamu bisa memberitahuku kita mau ke mana.”

“Sebentar lagi.”

“Kalau ini semacam prank—”

“Diam.”

Mereka berhenti di depan sebuah gedung besar.

Andrea menatap papan nama di atas pintu masuk.

Dari dalam gedung itu terdengar musik dan suara orang-orang tertawa.

Lihat selengkapnya