Hari-hari setelah itu berubah.
Andrea tidak lagi merasa musim dingin sebagai sesuatu yang menyiksa. Udara dingin tidak lagi terasa asing. Justru sebaliknya—ia mulai menantikannya.
Arena es menjadi tempat yang selalu ia cari.
Setiap ada waktu luang setelah kuliah, Andrea akan datang ke sana. Kadang sendirian, kadang bersama Jena. Namun lebih sering sendirian.
Ia berdiri di pinggir arena, mengikat sepatu skatingnya dengan serius, lalu meluncur ke atas es seolah sedang memasuki dunia lain.
Hari demi hari, gerakannya berubah.
Awalnya ia hanya belajar berdiri tanpa jatuh. Lalu belajar meluncur lebih cepat. Setelah itu mencoba berputar, meniru gerakan-gerakan yang ia lihat di video.
Ia sering menonton video ice skating di ponselnya—gerakan para atlet profesional yang berputar cepat seperti angin.
Andrea mencoba menirunya.
Ia jatuh.
Bangun lagi.
Jatuh lagi.
Lututnya beberapa kali memar. Tangannya sempat tergores es. Namun ia hanya tertawa kecil, menepuk salju dari celananya, lalu kembali mencoba.
Gerakan tubuhnya memiliki sesuatu yang aneh—sesuatu yang bahkan tidak ia sadari.
Keseimbangan alaminya luar biasa.
Setiap kali ia jatuh dan bangkit lagi, tubuhnya seperti belajar dengan cepat.
Seolah es itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Di sudut arena, seseorang berdiri memperhatikannya.
Seorang pria tinggi dengan jaket hitam, tangannya bersedekap, matanya tidak pernah benar-benar meninggalkan Andrea.
Josh.
Ia sudah memperhatikan gadis itu sejak hari pertama.
Seorang pemula yang jatuh seperti anak kecil—lalu beberapa menit kemudian meluncur seperti seseorang yang sudah lama mengenal es.
Hari demi hari Josh datang ke arena pada waktu yang sama.
Berdiri di tempat yang hampir sama.
Memperhatikan.
Dan semakin lama, ekspresi wajahnya berubah dari sekadar penasaran menjadi sesuatu yang lebih serius.
Beberapa minggu kemudian.
Andrea sedang mencoba sebuah gerakan baru yang ia lihat di media sosial.
Ia meluncur, mencoba berputar.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh keras di atas es.
“Ah!”
Andrea mengerang kecil sambil tertawa sendiri.
Saat ia hendak bangkit, sebuah tangan terulur ke arahnya.
Andrea mendongak.
Seorang pria berdiri di depannya.
“Sepertinya kamu sudah terlalu sering jatuh,” katanya sambil tersenyum.
Andrea memandang tangan itu beberapa detik, lalu meraihnya.
Pria itu menariknya berdiri dengan mudah.
“Terima kasih,” kata Andrea sambil menepuk salju tipis dari celananya.
Mereka berdiri berhadapan.
“Aku Josh,” katanya.
“Andrea.”
Josh mengangguk.
“Aku tahu.”
Andrea mengerutkan kening.
“Kamu tahu?”
Josh tersenyum kecil.
“Aku sudah memperhatikanmu beberapa minggu.”
Andrea tertawa kecil.
“Sekarang itu terdengar sedikit menyeramkan.”
Josh mengangkat bahu santai.
“Aku kagum.”
Andrea mengangkat alis.
“Kagum?”