Di Bandara Ngurah Rai, kedatangan mereka telah ditunggu oleh seseorang. Pesawat pertama yang mendarat adalah penerbangan jurusan Jayapura–Denpasar. Tampak seorang lelaki tegap berjalan melewati mesin detektor.
Setelah melewatinya, seorang gadis menyapa, "Selamat datang di Bali."
Lelaki itu memandang cukup lama. "Em... kamu orang bernama Suari?" tanyanya.
"Ya... ini aku," sahut Suari.
"Lalu yang lain di mana?" tanyanya lagi sembari menggerakkan tangan.
"Kita tunggu saja, Jonat," ucap Suari tenang.
Tak lama kemudian, penerbangan jurusan Semarang–Denpasar mendarat. Tampak seorang perempuan berpakaian serba hijau melangkah melewati mesin detektor.
"Selamat datang di Bali," ucap Suari menyambutnya.
"Eh... Suari sudah lama nunggu?!" ucap perempuan itu.
"Ah, tidak," jawab Suari.
"Em... biar aku tebak, ini pasti Jonatan, kan?" tebaknya.
Jonat menimpali, "Jadi kamu sudah tahu dengan kita orang, tapi kita orang tidak tahu nama kamu orang."
"Aku Lin San Bong," jawabnya sambil mengulurkan tangan.
"Jonatan Moratua," sahut Jonat seraya menjabat tangannya. Tidak selang lama jabat tangan itu usai, Jonat kembali berujar, "Dari nama kamu orang, seperti orang Kong Hu Cu, benar teh?"
"Ya benar, kamu bisa panggil Lin, biar tidak panjang," sahut Lin.
"Asalam Walaikum..." terdengar suara menyapa dari belakang mereka.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
"Hasan... kamu orang apa kabar?" seru Jonat.
"Awak baik, tak sangka kite ketemu di sini, Jonat!" ucap Hasan senang.
Ketika mereka sedang asyik berbincang, tampak seseorang berkepala botak melintas.
"Anzu...!" teriak Suari.
Orang itu menoleh. "Eh, sini...!" panggil Suari lagi.
Anzu mendekat. "Suari, aku kira kamu belum kemari... em... ini teman-teman lintas agama yang lain?!" tanya Anzu. Semua orang tersenyum. "Eh ya, teman dari Tim-Tim itu sudah datang?" tanyanya lagi.
"Belum, paling sebentar lagi," ucap Suari.
"Lama sekali dia," keluh Anzu.
"Sabar, kawan. Tim-Tim setahu kita orang tidak ada bandara besar seperti Ngurah Rai, mungkin lagi transit," jelas Jonat.
"Ya Anzu, kita harus maklum. Mungkin Martin lagi dalam perjalanan," tambah Lin.
"Benar kata Lin, kita sabar tunggu dia," timpal Hasan.
Di tengah antrean yang melewati mesin detektor, muncul seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan rambut keriting. Beberapa orang di depannya masih mengantre. Suari memandang ke arah orang itu.
"Nah itu dia... ayo..." ajak Suari setelah perempuan itu makin dekat. "Martin...!" panggilnya.
Martin menoleh, dan setelah beberapa saat menanti giliran, ia akhirnya berhasil keluar.
"Eh, rupanya sudah semua sampai. Maaf kita orang terlambat," ucap Martin.
"Tak apa Martin, yang penting kau sampai dan selamat sampai sini," sambut Hasan.
"Oh ya Suari, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Kamu tahu tidak tempat yang masih asri? Kalau Sanur aku sudah tahu," tanya Lin.