Fajar belum menampakkan diri, dan waktu masih menunjukkan pukul 05:10. Suari perlahan bangun dan keluar kamar.
"Suari..." usap Lin. Ia berbalik. "Mau ke mana, Suari?" tanya Martin.
"Mau masak. Ini kan sudah jamnya, sebaiknya kalian tidur saja dulu," ucapnya.
"Hah... tidur..." usap mereka.
"Tidak bisa, Teman. Kita orang harus bantu tuan rumah," ucap Martin.
"Benar tuh kata Martin," ucap Lin. "Iya... betul," ucapnya.
Mereka pun ke dapur. Canda tawa mereka terdengar hingga ke kamar mereka, yang mengganggu Anzu menghentikan meditasi dan Hasan mempercepat shalatnya.
"Aduh... mereka perempuan pagi-pagi sudah ribut, aduh..." keluh Jonat.
"Biar saje... kita kan tahu perempuan sikapnya macam ape. Jangan perpanjang hal itulah, Kawan," ucap Hasan.
"Ya... ya... kamu benar, Hasan. Daripada ributkan itu, lebih baik bantu tuan rumah beres-beres. Mereka itu pasti lagi masak di dapur, kita yang bersih-bersih," ucap Anzu.
"Ya..." ucap mereka.
Mendengar suara sapuan sapu, Krani terbangun. Ia bergegas menuju halaman dan mepergoki keadaan setengah beres.
"Eh... Tante... maaf kita orang bangun duluan," ucap Jonat yang tengah mengepel teras.
"Bibi istirahat saja, biar kita yang bereskan semuanya," ucap Hasan.
Ia pun ke dapur. "Lauknya sudah nih, Suari," ucap Lin.
"Suari, nasinya belum. Tidak apa toh?" ucap Martin.
"Iya, belakangan tidak apa-apa. Aku mau siapkan persembahan dulu kalau gitu," ucap Suari.
Ketika di depan pintu, tangannya ditarik. "Heh... kamu nyuruh mereka melakukan semua walau mereka teman kamu, tetap saja tamu!" bisik Krani.
"Aku sudah melarang, Bibi. Tapi mereka memaksa... jadi apa boleh buat. Kata mereka, semua pekerjaan ini mereka telah terbiasa melakukannya," bisik Suari.
Waktu berlalu. Setelah memberi persembahan pada tempat-tempat penting di area dapur, lalu kamar, palinggih, dan lebiu, mereka menikmati sarapan. Pagi itu mereka telah siap. Jam tujuh mereka pun pamitan untuk jalan-jalan pada Krani, dan kembali sore atau petang nanti.
Mereka pun bergerak ke barat. Tujuan pertama cagar alam Bali Barat dan Pelabuhan.
"Nah, sudah sampai," ucap Suari.
"Jadi ini tempat cagar alam itu. Awak tak sabar mau lihat Jalak Putih," ucap Hasan.
Setelah menikmati suasana pagi di cagar alam itu, sesaat mereka ke Pelabuhan .
"Wah, ramai rupanya. Kita orang foto-foto dulu buat kenang-kenangan pernah ke sini," ucap Martin.
"Eh, ikutlah. Tapi kita pakai pakaian ala Bali biar famili percaya kita tuh jalan-jalan ke Bali," ucap Hasan.
"Jadi pakai kain sama apa tuh yang dikepala itu..." ucap Anzu.
"Udeng... boleh juga. Tapi itu untuk laki-laki. Memang bawa?" ucap Suari.
"Ini... tapi cuma satu, berarti giliran toh," ucap Jonat.
"Ah, lama tahu. Salah satu saja pakai. Tapi kain kan sudah pada bawa kan," ucap Lin.
Mereka pun mengenakan kamen dan selendang. Kini mereka bergerak ke timur. Dalam perjalanan, Anzu tidak menikmati perjalanan seperti yang lain. Teringat ia akan sosok yang ia lihat semalam.
"Hei, Kawan. Sepertinya kamu orang tidak suka dengan perjalanan ini," ucap Jonat.
"Ya, apa ada masalah?" tanya Hasan.
"Eh, Teman-teman, kita ke Pantai dulu bagaimana?" ucap Suari sembari menyetir.
"Boleh juga," ucap Anzu.
Mobil itu pun menepi dan memasuki jalan kecil menuju pantai. Mereka berenang-renang selain Anzu dan Suari.
"Suari, apa kamu tidak ikut mereka?" tanya Anzu.
"Ah, tidak. Aku sudah sering ke sini jadi sudah biasa. Tapi perhatian kamu, kok tidak menikmati perjalanan tadi? Kamu tidak suka ya dengan wilayah mu ini?" ucap Suari.
"Bukan aku suka... tapi ada hal yang mengganjal pikiranku. Boleh aku jujur?" ucap Anzu, lalu berbisik. "Sekitar tengah malam, aku lihat sosok berdiri di luar pagar. Rupanya seperti ini: rambut gimbal panjang, kuku panjang, bertaring, mata melotot, tangan dan kaki seperti cakar kera, dan berkalung tengkorak," ucap Anzu.
Suari tersentak, "Itu Leak... aku sih merasa ada yang ngawasin tapi tidak kelihatan. Pantas perasaanmu tidak enak semalam."