Tengah malam itu tiba-tiba saja terdengar suara dan ada yang mengetuk pintu.
"Ih, siapa bertamu malam begini?" oceh Jonat.
Terasa beberapa saat seperti gempa. Dalam keadaan panik mereka keluar. "Apa itu tadi, apa gempa ya?!" ucap Martin.
Terdengar geraman anjing dan suara burung hantu di belakang mereka. Mereka pun berbalik. Tampak burung hantu setinggi pintu dan anjing hitam besar bermata tiga.
"Ya Allah..." ucap Hasan.
"Ini... ini... ap... apa..." ucap Jonat.
Mereka semua keluar dari dalam rumah menuju halaman.
Anzu menatap tajam, sedangkan Lin dan Martin saling memeluk. Suari menghela napas, lalu mendekat.
"Om Swastyastu, Bhatara Patih!" ucapnya sembari menyangkupkan tangan di dada.
Lalu berubah wujud menjadi manusia. Yang menjadi burung hantu berubah menjadi manusia berbadan agak gemuk berpakaian adat Bali serba poleng (putih berpadu hitam kotak-kotak). Yang menjadi anjing berubah menjadi manusia berbadan agak kurus, berpakaian serba hitam.
"Om Swastyastu," ucap mereka membalas.
"Teman-teman, jangan takut, ini Bhatara Patih," ucap Suari. Mereka mendekat dan mengucap salam, "Om Swastyastu," seperti halnya Suari.
"Ada apa Bhatara Patih, sehingga menampakkan diri di hadapan kami?" tanya Suari.
"Harusnya aku yang bertanya kepada kalian, kenapa datang kesini?" ucap Bhatara Patih berpakaian poleng.
"Kenapa mesti bertanya Bhatara Patih, seharusnya Bhatara Patih tahu apa tujuan kami," ucap Suari.
"Kami peringatkan, kalian jangan menelusuri keberadaan Leak, itu berbahaya. Jika kalian melakukannya, terlambat sedikit saja kalian akan terjebak selamanya di alam Gana Mayu," ucap yang berpakaian hitam itu.
"Maaf Bhatara Patih, kita orang hanya mau tahu rupa Leak itu seperti apa," ucap Jonat.