EKSPEDISI LEAK

Novia dewi
Chapter #5

Pencarian Lokasi

Hari berganti, mereka pun telah siap. Mereka memilih jalan kaki agar bisa tahu mendetail. Mereka pun tiba di Pura Agung.

"Inilah Pura Agung, ini adalah tempat yang paling disucikan dari beberapa pura yang ada di desa ini," ucap Suari.

"Apa boleh kita masuk?" tanya Anzu.

"Boleh, tapi pakai kamen ya. Nanti sekitar jam tiga gerbang pura ini dibuka karena masyarakat akan bawa banten kesini," ucap Suari.

"Setelah ini mau kemana?" ucap Hasan.

"Ya, ke tempat suci lainnya. Kita lewat jalan ini saja biar singkat," ucap Suari.

"Aaa...!" teriak Lin.

"Heh, kamu orang kenapa?" tanya Martin.

"Pa... patung itu..." ucap Lin menunjuk sambil memejamkan mata.

"Tidak ada apa-apa," ucap Jonat.

"Tapi hidup!" ucap Lin.

"Benar yang wawk liat, mungkin cume perasaan saje," ucap Hasan.

"Ya, benar kata Lin. Apa kalian tidak lihat kita diperhatikan oleh banyak orang yang berpakaian putih? Lihat gerbang itu bersinar seperti ada jutaan permata di dalamnya," jelas Anzu.

"Mana! Kenapa tidak orang lihat?" ucap Jonat.

"Pegang tanganku, kalian pasti bisa melihatnya," ucap Anzu. Mereka memegangnya. "Pejamkan mata," ucapnya.

Mereka dapat melihat apa yang dilihat Anzu. Candi berjejer di tengah itu memancarkan cahaya hijau kebiruan, berkelip seperti kristal terlepa cahaya. Ada ratusan orang berpakaian serba putih memandang mereka terperanjat. Dua patung di depan itu... Mereka melepas pegangan.

"Nah hebat, jadi kamu orang bisa lihat makhluk astral," ucap Martin.

"Ya, aku bisa melihat. Kadang di waktu tertentu aku bisa bicara dengan mereka."

Anzu mengingatkan sebuah kejadian di daerah asalnya. "Di Jawa banyak hantu berkeliaran, tapi di tempat ini beda dan merasa di sini seperti orang suci terdahulu," ucap Anzu.

"Jadi kita orang tua itu tidak salah. Tempat ini adalah pertemuan orang-orang suci. Andai ada catatannya, pasti Pura Agung, bisa terkenal seperti Pura Besakih," jelas Suari.

Lalu mereka pun lanjut berjalan bergerak lurus menuju aneka tangga menurun di sebelah barat Pura Agung. Mereka melewati Pura kecil yang terdapat pohon menjulang.

"Pohon apa ini? Aku baru lihat macam ini," ucap Hasan.

"Oh... itu... kalau orang sini bilang kayu Jelema. Di-Indonesia-kan pohon Manusia. Aku tidak tahu nama ilmiahnya apa," jelas Suari.

"Kenapa diberi nama begitu, Suari?" tanya Martin.

"Menurut yang pernah memakai babakan atau kulit pohon ini sebagai obat, getahnya berwarna merah seperti darah," ucap Suari.

"Awak jadi penasaran," ucap Hasan mencoba mendekati pohon.

"Eh jangan... kalau mau kulit pohon ini, kasih sesajen dulu baru boleh ambil kulitnya," ucap Suari.

"Pingit sekali, semua pakai prosedur kalau mau melakukan apa pun," ucap Jonat.

"Ya... semua harus dipakai sesajen dan doa," ucap Martin.

"Ya... biar orang-orang tidak sembarangan. Mungkin leluhur terdahulu menciptakan cara ini agar kelestarian alam terjaga."

Mereka semunmemperhatikan tiap gerak mulut Suari menjelaskan. "Kalian bisa lihatlah separah parahnya bencana alam di Bali, masih parah daerah lain," jelasnya.

"Biar tidak kesiangan, ayo kita lanjut," sambung Suari.

Kini mereka berjalan. "Eh, pura apa lagi ini?" ucap Martin.


Lihat selengkapnya