Lebih ke barat, mereka menyusuri jalan, ada plang agro. "Sondat Bali Agro," ucapnya.
"Eh, ada agro juga di sini. Kenapa kamu tidak bilang?" ucap Lin.
"Wah, aku lupa. Ini padahal Bu Jero, dia juga punya salon itu di dekat kantor desa. Aku rasa dia punya pandangan kalau desa ini punya potensi wisata, tapi bisa kalian lihat sendiri, datang ke sini tempatnya jorok begini!"
Lalu menghela napas, "Pemerintah sudah berupaya, tapi masyarakatnya tidak mau. Mereka malah memberikan tanggapan dengan membuang sampah lebih banyak di aliran air. Ini yang membuat aku bertanya-tanya, di desa ini terkenal karena ada Leak sungguhan atau orang-orangnya yang bersikap seperti Leak?" ucap Suari.
"Heh, jangan menjelek-jelekkan rumah sendiri, itu tidak baik!" nasihat Anzu.
"Kenyataannya jelek, ya aku bilang jelek. Kata orang tua tidak boleh menjelek-jelekkan desa sendiri seperti katamu, Anzu.
Menatap kesal ke arah tumpukan sampah. "Coba kalian pikir, tidak ada tempat yang bagus atau jelek kalau bukan karena orang-orang yang menempatinya."
Suari mengepalkan tangan kuat beberapa detik, lalu melemah. "Di sini tujuh puluh lima persen orangnya berkelakuan hancur, buktinya sampah di sepanjang jalan air. Gimana mau maju, sampah saja tidak becus ngurus. "
Mereka memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Suari.
"Dari empat desa yang ada, desa ini paling terbelakang. Padahal desa ini ada jauh sebelum desa lainnya. Ini yang aneh," oceh Suari.
"Jadi maksud kamu orang berkata begitu apa, Suari?" tanya Martin.
"Kelakuan buruk itu juga disebut Leak, jadi aku penasaran orangnya yang berkelakuan seperti Leak atau ada Leak sungguhan, atau keduanya," ucap Suari.
"Batara Patih kan sudah ngasih tahu, juga Nini dan Kaki itu. Pastinya Leak sungguhan itu ada," ucap Anzu.
"Tapi awak khawatir nanti kita tidak selamat keluar dari alam itu. Dulu katanya ada yang mati sebab Leak."
"Ya, itu karena mereka menantang dan meremehkan Leak, makanya meninggal."
Suari menatap mereka serius. "Kita ke sini itu baik-baik, cuma mau tahu, mau cari kebenaran, pasti tidak akan kenapa-kenapa. Paling diintimidasi saja, percaya itu," ucap Suari.
Langkah mereka terhenti. "Kita sudah sampai," ucap Suari.
Mereka memandang area sekitar, Pura Dalem berdekatan langsung dengan kuburan, suasana angker mulai terasa, walau masih menjelang siang.
"Kalian tolong duduk, biar aku saja yang berdoa," ucap Suari.
Mereka mengenakan kain pantai setelah menaruh canang sari di depan patung itu. Suari menyalakan dupa, lalu mengucapkan.
"Om Swastyastu, linggihan Bhatara sareng sami. Tiang meriki wantah nunas izin indik makeneh uning antuk kayangan. Cangcang sari ne wantah uling cihne bakti titiang sareng sami," begitu ucapnya.
("Om Swastiastu, untuk tempatbhatarasemua. Saya ke sini hanya meminta izin ingin tahu tentang tempat di alam gaib. Canang sari ini hanya perwujudan tulus dari niat kami semua")
"Swastyastu antuk panyage kori Linnggih Bhatara Bagus lan Dewa Ayu, nunas lugra antuk restu Idane sinamian," lalu menepuk tanah tiga kali.
("Swastyastu untuk penjaga pintu masuk tempat Bhatara Bagus dan Dewa Ayu, mohon memberikan restu Junjungan semua")
Sehentak angin kencang berhembus, semua terkesiap. Tanah seakan berguncang, suara aneh terdengar. Gerak angin tertuju ke gerbang Pura. Keluarlah cahaya dari kedua patung dan menampakkan diri.
"Swastyastu," ucap lelaki dan perempuan itu.
"Swastyastu," ucap Suari
Mereka kaget sekaligus takut, menyaksikan sosok gaib yang bisa dilihat mata telanjang.
"Katakan apa tujuan kalian menghadap kami?" Bhatara Bagus yang berpakaian poleng.