Tanah masih terasa bergetar karena derap langkah mereka.
"Sepertinya makhluk itu sudah pergi jauh," ucap Anzu.
"Di mana yang lain?!" ucap Suari panik.
Anzu melihat sekeliling. "Bukankah mereka ada di sini tadi?" tegasnya.
"Sepertinya mereka lari ketakutan. Kita harus mencari mereka," ucap Suari.
Di sisi lain, Lin dan Jonat menghentikan langkah lari mereka, terengah-engah.
"Aduh... makhluk apaan tuh..." ucap Lin.
"Mana kita orang tahu, seperti raksasa," ucap Jonat. Setelah napas mereka mulai teratur, barulah mereka sadar terpisah dari yang lain. "Ya Tuhan... di mana teman-teman...?" ucap Jonat. "Aduh... bagaimana ini, Jonat...? Kita harus ke mana? Aduh... seandainya tidak ada raksasa itu, pastinya kita masih bersama dengan mereka," keluh Lin.
"Sudah, kamu orang jangan ngeluh, kita akan cari mereka," ucap Jonat.
"Ayo..." ucap Lin.
Di tempat berbeda, Hasan masih berlari. Dalam larinya itu, ia baru sadar terpisah dengan yang lain. Ia berhenti serta melihat sekeliling dalam keadaan terengah-engah. Ia pun menetralkan napasnya.
"Ya Allah... saye terpisah dengan kawan-kawan. Mane tempat ini tidak kenal, harus ke mane nih? Ya Allah... tolonglah hamba-Mu ini, ya Allah..." ucap Hasan. Ia pun bergerak untuk menemukan mereka.
Sedangkan Martin kalang kabut mencari teman-temannya.
"Suari!" teriaknya.
"Lin...!" teriaknya lagi.
"Hasan...!" teriaknya.
"Jonat...!" teriaknya.
"Anzu...!" teriaknya lagi.
Ia terus berteriak memanggil nama mereka hingga suaranya mulai serak. Lalu ia merogoh tas untuk mengambil air minum.
"Untung kita orang bawa air," ucapnya lalu minum. "Di mana teman-teman? Kenapa tidak ada yang menyahut, apa suara kita orang kurang jelas atau mereka kejauhan larinnya?" ucapnya.
"Ah... sudahlah, terus saja cari mereka, siapa tahu ketemu. Ah, pasti ketemu... tempat ini tidak luas," gumamnya sembari berjalan.
Namun ada hal mengganjal yang Martin rasakan, seakan ada seseorang yang mengikutinya, tapi ia acuh.
Ia mulai merasa risih dengan perasaan aneh itu, ia pun berbalik lalu melihat sekitar.
"Ah, sepertinya perasaan kita orang saja," lalu berbalik lagi melanjutkan perjalanan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kelelawar. Beberapa kali ia coba untuk diserang.
"Hus... hus...!" ucapnya mengusir, namun masih belum pergi.
Terpaksa ia mengeluarkan salib untuk mengusirnya. Setelah beberapa kali diayunkan memukul, akhirnya kena. Kelelawar itu tergeletak. Ia mencoba mendekat.
"Besar sekali, kelelawar buah bukan, kelelawar hitam terlalu besar. Kelelawar apa ini, aneh sekali?!" ucapnya.