Di saat yang sama, siluman singa itu bergerak menyerang Suari. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar. Suari pun menyabetkan ilalangnya. Makhluk itu menghilang.
"Ke mana dia...?" ucapnya.
Tiba-tiba di belakangnya muncul sosok siluman. Ia menyadari keberadaan makhluk itu, lalu dengan sigap berbalik. Makhluk itu melancarkan serangan cakar.
Di saat yang sama, Suari menyabetkan ilalang. Aliran energi tercipta dan berbenturan hingga menciptakan ledakan energi yang cukup dahsyat.
Sedangkan Anzu tengah memperhatikan siluman biawak. Secara mendadak, serangan dilakukan dengan menyabetkan ekor. Dengan sigap, Anzu menghindar. Anzu tidak melakukan serangan balasan, ia hanya terus menghindar. Berbeda dengan Suari yang membalas setiap serangan hingga akibat benturan energi itu berkali-kali terdengar ledakan.
Siluman singa itu terus melancarkan serangan cakaran, dan Suari pun berulang kali menghindar. Begitu pun Anzu yang terus menghindar dari sambetan ekor dan serangan cakar siluman biawak.
Mereka berdua akhirnya bertemu di satu titik, lalu saling membelakangi. Suari tampak kelelahan.
"Apa siluman singa itu sudah kau bereskan?" tanya Anzu.
"Belum. Lalu kau bagaimana?!" ucap Suari.
"Masih belum. Aku masih mencari kelemahannya," ucap Anzu.
"Kenapa tidak pakai lonceng saja untuk mengusir mereka?" ucap Suari.
"Apa kamu masih ingat pesan dari penjaga gaib desa ini?" ucap Anzu. "Kita ke sini hanya mencari tahu keberadaan Leak, bukannya bertarung."
"Apa kamu perhatikan, tiap kali diserang mereka semakin kuat? Aku rasa..." potong Suari.
"Ah, cepatlah!" desak Suari.
"Aku rasa mereka ini cerminan emosi kita. Coba kita ubah emosi jadi damai dan segala rasa jadi ketenangan," ucap Anzu.
"Kamu yakin?!" ucap Suari ragu.
"Kita coba saja," ucap Anzu.
Suari pun memasukkan ilalang itu ke dalam tas. Mereka berdua berusaha menenangkan diri. Melalui olah pernapasan, mereka menyingkirkan segala hal yang negatif menjadi positif dan mulai memancarkan aura cinta kasih yang penuh kedamaian. Dari dada mereka keluar pendaran sinar kehijauan.
Suari tampak kaget. "Sinar apa ini?!" ucapnya.
"Nanti akan aku jelaskan, konsentrasi saja untuk menebar aura kedamaian," ucap Anzu.
Mereka terus berkonsentrasi. Masing-masing makhluk itu mengaum dan mendesis, lalu bergerak menyerang. Namun, ketika menyentuh tubuh mereka berdua, seketika kedua siluman itu lenyap. Pada saat yang sama, cahaya kehijauan itu ikut menghilang.
Suari tampak keheranan. "Jadi semua ini adalah tes?" ucap Anzu.
"Maksudmu apa, Anzu?!" ucap Suari.
"Apa kamu tidak paham? Kalau kita diuji saat ini, bukankah para penjaga sudah memperingatkan agar tidak melupakan tujuan kita? Tujuan kita ke sini ekspedisi, bukannya melenyapkan mereka," ucap Anzu.
"Berarti setiap makhluk yang kita lihat ini adalah cerminan negatif, bukan yang sesungguhnya," ucap Suari.
"Entahlah, tapi ini tergantung kita. Menurut ajaran Buddha, kita harus punya cinta kasih pada semua makhluk karena semua adalah ciptaan-Nya," ucap Anzu.
Tampak Suari menyelami perkataan Anzu. "Aku baru ingat kalimat seorang Brahmana, semua itu ada dalam diri manusia. Manusia adalah semesta kecil dan alam ini semesta besar, dan manusia adalah makhluk tertinggi karena diberi anugerah dapat mencipta dan melenyapkan sesuatu."
Suari baru tersadar. "Berarti ini adalah salah satunya?" ucapnya.
"Seharusnya, apa pun yang terjadi nanti kita harus ingat apa yang jadi tujuan utama. Kalau kita baik, mereka pasti baik," ucap Anzu.
"Oh ya... ayo kita cari teman-teman," sambungnya.
Mereka mencari keberadaan teman-temannya.