Jonat memasang raut memohon, bibirnya gemetar. "Maaf Kawan, jangan galak begitu. Kita orang cuma mau tahu, jangan marah, bolehkan kita orang tahu siapa kamu orang?!" ucapnya.
Makhluk itu mengeluarkan suara mengaum seakan mau memakan, mata melotot, dan menggerakkan lehar dan kepala. Jonat agak ngeri dan jengkel, tapi ia berusaha tetap tenang demi kepuasan penasarannya.
Sedangkan Lin memperhatikan ular itu saksama yang berdiri tegak setengah badannya. "Ini sudah hidup berapa lama, em... pasti ribuan tahun, apa sudah mau sejuta," batinnya.
Dalam pikiran ia mencoba menilai dalam sudut pandang awamnya. "Ini gede banget dan panjang juga, aku penasaran ini panjangnya berapa dan diameternya juga. Mana tidak bawa meteran, takut juga karena ini gede banget dan kelihatan tidak suka dengan kehadiran manusia hem...," benak Lin sambil tetap memandang ular itu saksama.
Mereka terdiam lama juga, kedua makhluk itu juga sama.
"Begini saja Kawan, kalau kamu orang tidak mau kasih tahu, boleh kita orang foto?"
Mendengar itu, "Eh foto saja deh buat dokumentasi ini makhluk langka," pikir Lin.
Mereka bersedia dengan kamera photocell dan membidikkan kamera, bersamaan dengan itu kedua makhluk itu lenyap. Mereka sehentak kaget, untuk memastikan keadaan, mereka melihat sekeliling dan memeriksa phonecell, tidak ada gambar makhluk yang mereka foto. Lalu saling melirik.
"Kosong," ucap Lin.
"Sama," sahut Jonat. Mereka berpikir dalam rasa heran.
"Sayang banget, padahal tuh ular langka, mana tidak bisa difoto, maunya buat koleksi foto aahh... payah," keluh Lin.
"Ya... itu makhluk juga, heeh... sepertinya makhluk di sini tidak boleh difoto, padahal kita orang mau pastikan itu makhluk apaan," ucap Jonat.
Mereka masih berpikir di sana dan sambil menimbang untuk menyelaraskan pikiran.
Teringat mereka akan teman-teman, "Ah dari pada mikirin makhluk tidak jelas, lebih baik cari teman-teman saja," ucap Lin.
"Yo... kamu orang benar, kita harus cari mereka sebelum subuh datang," ucap Jonat. Mereka pun bergegas.
* * *
Di sisi lain, Martin tengah berlari karena sebuah sosok tengah mengejarnya. Di udara terdengar suara tawa yang mengerikan. Makhluk itu bergerak cepat dan menghadang di depannya, sehentak langkahnya terhenti. Makhluk itu tertawa melengking mengerikan.
Makhluk itu begitu seram. Kuku tangan panjang, kuku kaki seperti cakar harimau, tubuh berwarna seperti zebra, lidah menjulur hingga dada, bertaring, mata melotot, berambut kusut panjang. Makhluk itu memunculkan diri, hingga di dekatnya, berkeliling.
Martin bersedia dengan salib lalu berubah jadi pedang. "Ini pasti Leak, ini makhluk belum pernah kita orang lihat, ya pasti Leak," ucapnya setengah berteriak.
"Oh ya... tujuan ke sini cuma mau tahu, ini tes atau makhluk ini mau makan kita orang," dengan tetap konsen.
" Kita orang tidak boleh lengah, harus tetap waspada," ucapnya. Ia tetap bersedia dengan senjata.
Dari kejauhan Jonat dan Lin mendengar suara yang aneh tawa aneh itu. "Kamu orang dengar itu punya suara?" tanya Jonat.
"Ya... aku dengar, sepertinya itu..." terdiam, Jonat paham maksud dari Lin.
Mereka perlahan mendekat setelah sekian lama. Tibalah mereka di balik semak-semak, dari kejauhan tampak makhluk aneh yang muncul dan hilang mengelilingi orang berdiri itu.
"Aduh maaf ya Leak, tolong jangan bercanda tidak lucu, kita orang cuma mau tahu ini Leak apa bukan, biar tidak rugi dari Tim-Tim ke Bali, tidak tahu kebenaran tentang Leak, kalau bukan jangan ganggu ye," ucapnya.
Sudah sekian lama, masih tetap bertahan dengan tawa mengerikan itu.
Di sisi lain, "Siapa itu orang, dari tadi perasaan kita orang lihat tidak asing," ucap Jonat berbisik.