Ia termenung di sana. "Kalau diam di sini, teman-teman pasti tidak ketemu dengan kita orang. Mana anjing hutan banyak, aduh... kita orang tidak bawa senjata, aduh..." keluhnya.
Ia pun merogoh ranselnya dan mengeluarkan salib kayu itu. "Haahh... ini senjata penangkal hantu, bukan senjata buat mengusir anjing hutan," pikirnya. Ia memandang itu sambil berdoa.
Tiba-tiba ada selibat kain lewat. Ia pun kaget dan bersedia dengan salib itu. Selibat kain itu muncul, kali ini bergerak mengelilinginya dengan suara tawa mengerikan.
"Hia hahaha..." Suara itu membuat bulu roma Jonat berdiri.
Merasa keadaan tidak menguntungkan, "Aah... daripada begini, lawan saja. Kita orang tidak punya pilihan, lari tidak mungkin serigala lawan bertarung tidak mungkin, aahh..." batinya.
Ia memandang sekelilingnya, "Sebaiknya kita orang menyingkir dari sini, tapi..." teringat ia pesan Suari, "Kita ke sini buat tahu kebenaran tentang Leak, selama kita tidak mengganggu, mereka pasti tidak ganggu," ucapan itu terelintas.
Ia berpikir, "Benar juga, em... coba saja siapa tahu berhasil," batinnya, lalu menghela napas. "Swastyastu kawan kegelapan, kita orang datang baik-baik, tolong jangan ganggu."
Selibat kain itu berhenti. "Hia hahaha..." Tawa mengerikan terdengar, tampak motif Leak di kain itu.
"Aduh kawan hantu yang baik, kasih kita orang jalan, kita orang mau cari teman-teman, setelah itu kita semua pergi dari sini."
Jonat berusaha tetap tenang dan santun berbicara, walau tubuhnya gemetar. "Tapi serigala masih berkeliaran, kita orang mana bisa cepat pergi kalau ada serigala. Em... tolong ya... usir ya..." ucapnya tersenyum.
Kain itu bergerak dengan suara tawa itu, bergerak mendekati para kelompok serigala dan benda itu menghilang. "Huuuhh... benar kata Suari, ternyata kita orang dites," ucapnya. Perlahan ia bergerak dan turun dari pohon besar itu.
Ia menarik napas lega, lalu melihat sekitar. "Sepertinya aman," ucapnya.
Ketika hendak melangkah, ia melihat sosok tertunduk. Ia mencium bau tidak enak. "Pasti tuh Sundel Bolong," dalam hati, lalu berpaling. Makhluk itu menunjuk pinggang berlubang itu, lalu berpaling lagi. Ia menatap tajam Jonat.
"Aduh," lalu menutup mata dengan kedua tangan, lalu melangkah ke depan dipercepat. Ia membuka mata dan lari secepat mungkin, ia tidak pandang arah. Makhluk itu terus mengejar.
Tanpa sadar ia tersandung dan jatuh, saat itu juga kakinya diseret. "Aaa... lepas... lepas...!" teriaknya. Makhluk itu tertawa mengerikan.
Setelah beberapa jauh ia berhenti diseret, menyadari itu ia sehentak bangun, ia menoleh sekitar dengan terengah-engah. Ia mengeluarkan salib. "Kalau muncul tuh makhluk, habis sama kita orang," ucapnya. Ia memegang erat benda itu.
Ia terus melangkah sambil waspada. Setelah jauh melangkah tidak ada penampakan apa pun, ia mulai tenang. "Eh ya... Lin... kita orang harus cari dia..." ucapnya.
* * *