Pang-Pang merah, putih, dan hitam, muncul dari potongan tadi. "Ya Allah..." ucap Hasan takut
"Apa?" ucap Anzu
"Ini tidak mungkin," ucap Suari.
"Hia hahaha..." tawa tiga makhluk itu, lalu bergerak masing-masing.
Suari menghadapi yang putih, Anzu yang merah, dan Hasan yang hitam. Karena itu mereka bertiga memisahkan diri, mereka bertarung sengit menghadapi serangan makhluk itu.
Hasan yang menghadapi Pang-Pang hitam itu, berusaha mengelak semburan mata api. Makhluk itu membukakan matanya, bola api keluar dan menuju Hasan. Dengan sigap ia menghindar dengan teknik elakan silat: kanan kiri, merunduk, loncat, dan kayang.
"Aduh setan ni kuat juge, awak mesti hati-hati," pikirnya. Serangan dilepaskan, dengan segera ia loncat. "Aduh lame-lame lelah juga, sebaiknya awak buat pelindung biar bisa konsen cari kelemahan setan ni," pikirnya.
Ia menggerakkan tasbih dengan mengucap ayat pikirannya konsen membuat pelindung. Pancaran energi hijau pekat terpancar dan melindungi dari segala arah. Hasan terus konsen membuat perlindungan, matanya terpejam. Ia terus membaca ayat dalam hati. Makhluk itu mencoba menembus namun terpental.
Di sisi lain, Anzu tengah mengelak serangan dari usus itu, ibarat cambuk benda itu terus bergerak menjangkaunya. Dengan salto, loncat, dan mengelak ia menghindar. "Makhluk apa ini, kuat sekali, apa ada kelemahannya?!" pikir Anzu.
Cambukan lidah diarahkan dengan segera. Anzu salto beberapa putaran.
"Hia hahaha... manuse... ke tadah kite, Hia hahaha..." ucap makhluk itu.(manuse... ke tadah kite= manusia aku makan kamu)
"Waduh..." ucapnya, lalu kayang menghindari hempasan benda mirip usus itu. Kali ini kesempatannya membunyikan lonceng. Dengan mengucap mantra dalam hati, ia membunyikan itu.
"Hia hahaha... ape ooo..." ucapnya menutup telinga dengan benda mirip usus itu, ia terus berlalu cuma makhluk itu tidak berlutut.
Perlahan mendekat, "Aaa... aao..." teriaknya melenking.
"Aku harus mengetahui kelemahan makhluk ini, kepala di mana lemahnya?!" batinnya.
Sedangkan Suari tengah mengelak serangan bergerak dari Pang-Pang putih itu. Makhluk itu bergerak menyerang, namun setiap serangan mampu dihindari. Makhluk itu bergerak, "Hia hahaha..." menuju Suari. Dengan sigap ia menghindar, lalu mengibaskan ilalang itu, makhluk itu dapat menghindar.
"Jadi ini kekuatan Pang-Pang, pantas orang-orang takut, ini sulit dihadapi terlebih kalau aku recah lagi akan tambah banyak," pikirnya.
Kembali makhluk itu menyerang, kali ini menyerang dengan menjulurkan lidah, bergerak layaknya ular yang mencoba melilitnya. Ia loncat, merunduk, dan mengelak tiap serangan lidah itu dilakukan.
"Heaah... pakai apa menghentikan makhluk ini, dipotong nanti jadi banyak, dibakar mengundang yang lain," batinnya.
Ia pun membalas serangan dengan mengibaskan ilalang, namun tidak tepat mengenainya.
"Hia hahaha... hio hahaha..." tawanya.
"Aduh aku sudah mulai lelah, berhenti aku yang akan dihabisi, andai ada cara lain," batinnya.
Ia mendelik Anzu tengah berputar mengelilingi Pang-Pang merah sambil membunyikan lonceng, sedangkan Hasan diam dengan kekuatan perlindungan.
Tampak Pang-Pang hitam itu menyemburkan api besar, namun perlindungan itu tetap bertahan. Dihantam, dibelit, bahkan mencoba ditelan tetap saja tidak bisa.
Melihat Hasan, Anzu kembali konsen pada Pang-Pang putih. "Sepertinya aku harus pakai aura pembatas, tapi apa akan berhasil," pikirnya. Ia menarik napas, ia berdiri dan mengucap mantra utama. Keluarlah pancaran sinar putih kebiruan dan membentuk purata pembatas kuning keemasan bergerak memutar.