Elegi Asa di Langit Granada

Halifa Zari
Chapter #25

Zara; Berubah

“Jiwa yang gila.

Jiwa yang matanya

Penuh pecahan kaca.

Jiwa yang hilang akalnya.

Jiwa yang murka.

Jiwa yang teriakannya

Menggema di kesendirian gulita.

Jiwa yang meraung hina,

Mengomel-omel pada Tuhannya.


Jiwa yang dusta.

Jiwa yang tak punya nyawa.

Jiwa yang tercekik suara-suara.

Jiwa yang abai pada dunia.

Jiwa yang terjebak dalam aksara.


Jiwa yang tercela,

Mengecam sang penciptanya.

Jiwa yang memaksa,

Duri-duri tercerabut dari dirinya.

Jiwa yang berderai air mata,

Lapis api membakar dada.

Jiwa yang abai raga,

Buang telinga,

Tutup mata,

Rapatkan lisannya.

Jiwa yang terluka,

Dicabik-cabik oleh semesta.

Jiwa yang berduka,

Terkhianat teman dan keluarga.

Jiwa yang meraung murka,

Dicekik lidah-lidah manusia.

Jiwa yang hilang bentuknya,

Berkabung perasaannya,

Terbakar pikirannya ...

Oleh kata dan tangannya.”

***

Aku mengambil kardigan berwarna krim dari lemari, memakainya sebagai outer dari kaus putih gading yang telah kugunakan. Lalu, aku juga memakai kerudung bergo yang sewarna dengan celana panjangku—taupe, sebagai penutup kepala yang akan membungkus aurat rambutku selama di luar unitku nanti.

Semalam, aku menulis sambil menangis dengan waktu yang begitu lama, berjam-jam lamanya hingga masuk waktu subuh. Setelah menghentikan pekerjaan dan tangis yang membengkakkan kedua mataku, aku langsung melaksanakan salat subuh, menulis puisi lagi, lalu tertidur tepat pada pukul enam pagi.

Maka dari itu, pada pukul setengah sebelas pagi ini, aku baru akan menuju dapur untuk memasak sarapan.

Ya, sungguh waktu sarapan yang telat sekali.

Padahal biasanya aku sarapan pukul tujuh pagi—di saat orang-orang di rumah sewa ini masih terlelap dalam tidur. Namun, hari ini aku kesiangan untuk sarapan.

Ini semua akibat dari jam tidurku yang aneh tadi malam,

... dan tangisan menyebalkan itu.

Tangisan yang bukan hanya membuat mataku menjadi sangat sembap—hingga detik ini, tetapi juga membuat seluruh tubuhku terasa lemas.

Aku keluar dari unitku, menutup pintu tanpa menguncinya, lalu menapakkan kedua kaki yang hanya dibalut kaus kaki krim ke atas lantai koridor. Langkahku begitu pelan.

Bukan karena luka di kakiku masih sakit, melainkan karena rasa tak berdaya yang sedang mencengkeram kuat seluruh persendianku.

Untunglah dapur area rumah sewa berada di lantai yang sama dengan unitku—lantai tiga. Sebab kalau tidak, aku khawatir akan terjatuh saat sedang menapaki anak tangga. Karena lemas yang sedang menderaku ini bahkan sampai membuatku harus berjalan sambil berpegangan ke pagar pembatas di sebelah kiriku.

Belum lagi soal penglihatan yang sedang tak nyaman karena sembap.

Oh, bahkan rasa perih di mata akibat tangisan semalam masih terasa begitu mengganggu.

Aku menghentikan langkah tak jauh dari pintu masuk dapur. Wajah tanpa ekspresiku menghadap lantai yang berwarna cokelat.

Pegangan tangan kiriku di pagar pembatas yang berwarna hitam mengerat, seolah menahan gejolak emosi yang mulai menyerang lagi.

Emosi campur aduk antara amarah dan kesedihan membangkitkan larik-larik puisi di kepalaku. Larik-larik yang akhirnya menemani langkahku menuju dapur.


“Jiwa yang mengelana,

Sana-sini cari suaka.

Jiwa yang diam saja,

Tiada mampu sampai cerita.


Sesampainya di dapur, aku langsung membuka kulkas dan wall cabinet; mengambil bahan makanan yang memang sudah kusiapkan stoknya. Aku membawa bungkusan-bungkusan itu ke atas meja makan, masih dengan larik-larik puisi yang menghantui kepalaku.


“Jiwa yang geletak tak berdaya,

Sedu sedan di peraduannya.

Jiwa yang bermuram durja,

Mendambakan asanya.


Tanganku bergerak membuka bungkusan-bungkusan itu, berusaha memilah-milah isinya. Namun, rasanya aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya tanganku sedang lakukan. Bising di kepalaku menghalangiku untuk bisa fokus pada kegiatanku ini.


“Jiwa yang terbenam lara.

Jiwa yang kelabu sekitarnya,

Butuh penyokong hasrat gilanya ...,


Aku—


“... Butuh penenang gejolak jiwanya.”


“—Zara?”

Deg.

Pergerakan tanganku terhenti.

Aku mendongak.

Di sana, di ambang pintu, Diego berdiri sambil memegang sepiring makanan dan segelas jus jeruk. Dia tersenyum, memandang lurus ke arahku yang kini juga sedang memandanginya.

Aku tak bisa mengalihkan pandangan. Tatapanku terpaku padanya.

Pada rambut cokelat tuanya yang tersiram cahaya matahari pagi, pada bulu mata indah yang menghiasi mata menawannya, pada anting lingkaran peraknya yang berkilauan, pada senyuman hangat yang menghiasi wajah putih pucatnya, juga pada tato berbentuk jangkar yang tercetak di ujung lengan kanannya.

Pada dirinya.

Pria Spanyol itu.

Diego Garcia Fernández.

Dia mengangkat piring dan gelas di kedua tangannya. “Aku bawa sarapan untukmu,” katanya.

Lihat selengkapnya