Jumat pagi ini, aku duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Samuel. Pria itu sedang sibuk menggoreskan ujung pena digitalnya di atas tablet berwarna putih. Entah sedang melukis apa. Yang jelas, itu pasti project yang sedang ia, Maria, dan Diego kerjakan selama beberapa bulan terakhir ini.
Sementara itu, di seberang ruang makan tak bersekat ini, Maria tengah memasak sarapan. Harum minyak zaitun tercium lembut, muncul bersamaan dengan terdengarnya bunyi gesekan peralatan masak dari arah dapur bernuansa koral itu.
Aku ingin sekali membantu, tapi wanita berpipi tirus itu malah mengomeliku—persis seperti omelan Diego kepadaku. Jadilah, aku hanya bisa duduk diam, sambil sesekali memandang ke arah balkon kecil di samping kiri ruang makan.
Ya, di lantai dua rumah Diego dan Abue ini terdapat balkon juga—seperti yang ada di lantai empat area sewa. Hanya saja, balkon yang di sini ukurannya lebih kecil. Di atas ubin cokelatnya pun hanya terdapat dua buah kursi, satu meja kecil, dan beberapa pot tanaman. Dan pemandangan itu bisa kulihat dengan jelas, sebab saat ini pintu kayunya—yang mengarah ke sana—sedang terbuka lebar.
“Zara,” panggil Maria, membuatku langsung menoleh ke arahnya.
“Ya?” sahutku.
“Tolong panggilan Diego, dong! Suruh dia ke bawah. Biar dia sarapan bareng kita, terus nanti minum obat.”
“Oh, iya. Bentar, ya. Aku ke atas dulu.” Usai berkata begitu, aku langsung menuju tangga dan naik ke lantai tiga.
Sesampainya di depan pintu kamar Diego, aku pun mengetuk pintu kayu berwarna cokelat itu. Namun, karena tak kunjung mendapatkan respons, aku pun memilih untuk meneriakinya, “Diego! Ayo turun, sarapan dulu!”
“Ya, sebentar! Aku lagi di kamar mandi!” Balasan itu terdengar agak jauh, dan disusul dengan bunyi air mengalir.
Mulanya aku ingin langsung kembali ke lantai bawah, tapi tidak jadi, dan malah memilih untuk bersandar di dinding sebelah pintu kamar Diego. Aku terdiam, teringat lagi dengan pembicaraanku bersama Abue beberapa hari yang lalu,
“Aku mau ikut mendampingi pengobatan Diego juga, Abue, seperti Maria dan Samuel. Aku mau ikut menemaninya terapi—meski hanya mengantarnya sampai depan pintu ruangan, juga ikut mengingatkannya untuk rutin minum obat.”
“Tidak, Zara. Abue mohon.”
“Tapi kenapa, Abue? Bukankah dulu Abue pernah memintaku untuk selalu menemani Diego?”
“Memang iya, tapi rupanya hal itu malah menyeretmu ke dalam banyak masalah dan musibah. Abue takut kamu akan terluka lagi.” Abue menunduk, tatapannya sendu sekali. “Abue ... malu. Malu kalau harus melibatkanmu lagi setelah semua yang terjadi.”
“Tapi sepertinya Diego sudah mulai berubah. Kurasa, dia tidak akan menyakitiku lagi. Jadi, Abue tenang saja.” Aku meraih tangan kanan Abue, menggenggamnya dengan erat. “Abue, aku juga ingin ada untuk Diego. Aku ingin peduli padanya juga, sebagaimana Abue yang selalu peduli padaku selama ini.”
Aku juga ingin Diego akhirnya menyadari, bahwa bukan aku yang semestinya ia benci. Bahwa kebenciannya telah salah sasaran.
Bahwa aku tidak seberbahaya apa yang ada dalam pikirannya.
Bahwa muslim pun ada juga yang baik dan peduli padanya ...,
... meskipun telah ia kecam dan serang sebegitunya.
“Tapi Zara, Abue ....”
Aku tersenyum. Tanganku masih melingkupi tangan besar nan penuh kerutan milik Abue. “Selama ini, Abue pasti sudah lelah sekali. Jadi, tolong biarkan aku ikut bersama Maria dan Samuel dalam mendampingi Diego, agar setidaknya Abue bisa bernapas sedikit lebih lega—rehat sejenak.”
Abue tersentak. Mata cokelat tuanya berkaca-kaca saat memandangiku. “Abue bahagia sekali. Abue merasa kalau kalian bertiga sengaja dikirim oleh Tuhan, untuk mengisi kekosongan di hidup Diego—sepeninggal ayah, ibu, dan kakeknya.”
Ia melepaskan genggaman tanganku, lalu menempelkan telapak tangannya di pipiku sambil berkata, “Terima kasih, Zara. Semoga Tuhan memberkatimu.”
“Aamiin.”
Aku tak menyesali keputusanku itu. Karena dengan aku sibuk ikut serta dalam mendampingi pengobatan Diego, aku jadi tidak akan punya waktu untuk memikirkan masalah pribadiku. Lagi pula, aku juga tidak mau berlarut-larut dalam memikirkannya, sebab sekarang ini aku mau fokus berbahagia bersama “rumahku” saja.
“Eh, kaget aku!”
“Astaghfirullah!” Aku juga kaget, Diego tiba-tiba saja membuka pintu kamar dan keluar—lalu langsung berkata seperti tadi.
“Kamu ngapain?” tanyanya bingung.
“Nungguin kamu.”
“Loh, ngapain? ‘Kan nanti aku juga bakal nyusul ke bawah.”
“Gak apa-apa. Pengen aja,” balasku, lalu berjalan duluan untuk menuruni anak tangga. “Abue tuh lagi ke mana, sih?” tanyaku kemudian, tanpa menoleh sedikit pun.
“Lagi main ke rumah Miguel.”
“Miguel?”
“Ya. Miguel itu anak dari mantan penyewa di sini, yang akhirnya membeli rumah yang letaknya gak jauh dari rumah sewa ini. Keluarganya udah kami anggap kayak keluarga sendiri, makanya Abue cukup sering berkunjung ke sana—dan sebaliknya.”
“Oh, begitu ....” Ternyata Abue memang selalu baik pada para penyewa di sini, ya?
“Kalian lama banget!” komentar Maria begitu kami berjalan mendekati meja makan.
“Tadi aku lagi mandi pas Zara manggil ke atas,” kata Diego, menjelaskan.
“Loh, terus?” Maria menatapku dengan kedua alis yang bertautan.
“Aku nunggu di atas. Di luar, loh, ya!” Sengaja kuperjelas di akhir, agar Maria dan Samuel tidak salah paham.
“Habis bengong dia.” Loh—jadi Diego sempat melihatku saat aku merenung?