Sore ini, di bawah naungan langit-langit Iglesia de San Nicolas yang penuh warna dan corak, aku duduk di salah satu bangku kayu tua. Abue di sebelah kananku—mengenakan kardigan rajut dan rok panjang berwarna abu-abu—terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Sementara itu, Samuel yang duduk di sebelah kiriku—dengan Maria yang ada di sebelah kirinya, juga sama diamnya. Suasana di gereja jadi bertambah tenang, sebab jemaatnya memilih untuk berteman dengan keheningan.
Dinding putih yang tinggi dan lebar membentang di sekitar kami. Ada beberapa lukisan besar yang menghiasi sebagian permukaan kerasnya. Lampu-lampu menyala hangat, sehangat api lilin yang menguarkan aroma khas.
Kami semua duduk di bangku panjang berwarna cokelat, menghadap ke altar. Altar itu berada di bagian paling depan ruangan, tepat di depan citra Kristus yang bangkit. Citra itu terpampang besar, mendominasi dinding apsis dan bagaikan sedang mengawasi kami.
Terdengar bunyi lonceng berdenting satu kali. Imam berdiri di altar batu sederhana, menghadap kami. Sama seperti jemaat lain, aku pun berdiri.
Imam mengangkat tangan dan menyeru, “En el nombre del Padre, y del Hijo, y del Espíritu Santo.” (Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.)
Kepalaku menunduk sedikit, sedangkan tangan kananku bergerak membersamai seruan itu. Secara berurutan, ujung jariku menyentuh pelan dahi, dada, bahu kiri, lalu bahu kananku; kemudian mengucap, “Amen.”
Aku berusaha untuk mengikuti misa dengan tertib, bergerak selaras dengan jemaat lain. Meskipun begitu, tak dapat kumungkiri, bahwa aku tak bisa khusyuk sebagaimana jemaat lain yang sedang berdiri di gereja ini.
Aku tidak bisa fokus. Pikiranku tidak bisa tenang. Hatiku tidak bisa hanyut dalam kesakralan perayaan Ekaristi ini.
Aku ... tidak bisa merasakan apa pun.
Suara tenang imam kembali terdengar, “El Señor esté con vosotros.” (Tuhan beserta kita.)
“Y con tu espíritu,” (Dan bersama roh-Mu,) jawab jemaat dengan serempak. Terdengar aksen Andalusia yang lembut, ketika suara yang tak keras itu memantul pelan pada dinding batu.
Saking pelannya, aku sampai merasa kalau suara batinkulah yang lebih keras terdengar. Suara bising itu, yang kini ingin mengaku, bahwa: bagiku ...,
... sedang beribadah ataupun tidak, tidaklah ada bedanya.
Melaksanakan ibadah atau tidak, tak ada pengaruhnya; tidak membuatku merasa lebih resah ataupun lebih tenang.
Biasa saja. Tak terasa apa-apa.
“Hermanos, para celebrar dignamente estos sagrados misterios, reconozcamos nuestros pecados.” (Saudara-saudari, agar layak merayakan misteri suci ini, marilah kita mengakui dosa-dosa kita.)
Apakah ini akibat dari jarangnya aku dalam menjalankan ajaran iman?
Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Yang jelas, sekarang aku jadi teringat akan praktik-praktik iman yang pernah kulakukan—yang jumlahnya bisa dihitung jari itu.
Ketika menjalankan ajaran iman itu, apakah aku benar-benar menjalankannya dengan hati yang hadir penuh, atau menjalankannya seolah itu hanya kebiasaan biasa?
Di setiap misa yang aku hadiri, apakah aku sungguh mengikutinya, atau hanya sekadar datang?
Apakah aku sungguh hadir di hadapan-Nya?
Kendati rasa bingung dan ragu masih menyergap hatiku, mulutku tetap mengucapkan doa pengakuan dosa—serempak dengan jemaat lain,
“Yo confieso ante Dios todopoderoso
Y ante vosotros, hermanos,
Que he pecado mucho
De pensamiento, palabra, obra y omisión.”
(Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa
Dan kepada saudara sekalian
Bahwa saya telah berdosa
Dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian.)
Aku juga heran. Seingatku, dulu aku tidak begini. Dulu, aku adalah umat Katolik yang taat. Lebih tepatnya, aku taat karena keluargaku pun taat pada ajaran gereja. Namun, semakin bertambahnya umurku, justru semakin berkurang keinginanku untuk pergi ke gereja—apalagi taat pada ajarannya. Aku begini bukan karena aku malas, melainkan karena aku lelah.
Lelah terus berusaha untuk menjalani hidup beriman, padahal hatiku tidak merasakan apa-apa.
“Por mi culpa, por mi culpa, por mi gran culpa.” (Oleh sebab itu saya mohon.) Kami menyentuh pelan dada kami secara bersamaan.
“Por eso ruego a Santa María, siempre Virgen,
A los ángeles, a los santos
Y a vosotros, hermanos,
Que intercedáis por mí ante Dios nuestro Señor.”
(Kepada Santa Perawan Maria,
Para malaikat dan orang kudus,
Serta saudara sekalian
Supaya mendoakan saya kepada Tuhan Allah kita.)
Tatapanku jatuh pada bangku kayu tua di depanku. Sementara itu, batinku berkata, “Seluas apa pun tempat ibadahnya; jika yang sempit adalah hatiku, aku bisa apa? Sebanyak apa pun bangunan sucinya; jika yang sedikit adalah imanku, aku bisa apa?”
***
Aku menggulung ujung lengan kemeja berwarna krimku, membiarkan angin membelai lembut kedua lengan bawahku. Pandanganku terlempar ke sekitar, memperhatikan pintu gereja yang masih terbuka—dengan beberapa jemaat yang berdiri di kanan-kirinya sambil mengobrol pelan, pelataran berbatu Mirador de San Nicolas yang menampilkan pola khas Andalusia, dan langit Granada yang berlapis warna oranye serta merah muda.
Misa telah selesai nyaris setengah jam yang lalu. Kini, aku, Abue, dan kedua sahabatku, duduk di atas tembok rendah yang mengelilingi mirador. Kami sedang menunggu Zara yang saat ini tengah berada di masjid. Dia berpamitan pada kami beberapa menit yang lalu. Katanya, sebentar lagi tiba waktunya untuk ia beribadah, jadi ia harus segera pergi ke masjid.
Kala mataku sedang terpaku pada Alhambra yang tampak merah keemasan, sebuah suara terdengar dari arah Mezquita Mayor de Granada.
Azan.
Beberapa muslim yang semula masih bersantai di mirador, langsung bergegas pergi ke masjid, meninggalkan pelataran berbatu dengan keramaian yang mulai hidup di atasnya. Sementara itu, wisatawan lain tak mengubah posisi, masih asyik memotret pemandangan indah yang tersuguh di senja hari.
Aku juga diam saja, masih di posisiku semula. Terduduk di atas tembok rendah, tepat di sebelah tiang lampu berwarna hitam. Pandanganku beralih menuju pegunungan Sierra Nevada, menancap datar pada pemandangan biru pucat yang ditawarkannya. Aku membiarkan mataku terus melihat ke arah sana, sebagaimana aku membiarkan telingaku mendengarkan azan yang bersuara lembut,
“Hayya ‘alaṣ-ṣalāh.
Hayya ‘alaṣ-ṣalāh.
Hayya ‘alal-falāh.
Hayya ‘alal-falāh.
Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illā Allāh.”
Sekarang, aku sudah merasa biasa saja saat mendengar azan. Tidak seperti dulu, yang sering merasa tidak nyaman tiap kali mendengar panggilan ibadah untuk para muslim itu.
Mungkin karena sekarang aku sudah tidak lagi membenci orang yang salah, ataupun label agama yang menempel pada diri seseorang; atau mungkin karena rasa sakit hatiku sudah mulai didamaikan oleh terapi dan obat-obatan; mungkin pula karena aku sudah mulai memperbaiki hubunganku dengan Zara.
Entah yang mana. Yang jelas, sekarang aku merasa kalau keadaan sudah terasa lebih baik dari sebelumnya.
Meskipun begitu, bukan berarti pikiranku telah benar-benar tenang. Karena kini, topik yang menghantuinya berganti.
“Dan itu cukup menggangguku.”
Aku melihat ke arah Abue yang duduk di sebelah kiriku. Dia sedang menyimpan buku misa pribadi ke dalam tas hitamnya. Setelahnya, aku memilih menunduk, memandangi sepatu kulit yang membungkus kedua kakiku.
Lagi-lagi aku hanyut dalam pikiranku. Kini aku berpikir, mengapa agama harus penuh dengan aturan?
Di agama A misalnya; jika seseorang tidak melaksanakan kewajiban, maka akan sampai sebuah ancaman ke depan mukanya. Lalu di agama B; seseorang diharuskan melakukan sesuatu yang tidak ia mau, sebab katanya itu adalah dasar dari agamanya tersebut—tak bisa dilanggar.