Elegi Asa di Langit Granada

Halifa Zari
Chapter #28

Diego; Menebus Kesalahan

Setelah pintu ruang perawatan terbuka sepenuhnya, aku langsung keluar dari Unit Kesehatan Mental dan menghampiri Abue serta Zara—yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Di sesi terapi kali ini, hanya mereka berdua yang menemaniku, sebab Maria dan Samuel sedang sibuk mengurus project yang kami bertiga kerjakan.

“Bagaimana terapinya?” tanya Abue, menyambutku dengan senyuman penuh kasihnya.

“Lancar, Abue.”

“Puji Tuhan,” sebut Abue, yang kubalas dengan senyum tipis.

Aku melirik ke kanan, melihat ke arah Zara yang hanya berdiri diam di samping Abue sambil ikut tersenyum. Sepertinya dia bingung mau menanggapi dengan bagaimana.

“Sebelum pulang, mau jalan-jalan dulu, gak?” tawarku.

“Abue ikut saja ke mana pun kalian pergi.” Abue menoleh ke gadis yang berdiri di sebelah kirinya. “Kamu mau ke mana, Zara?”

“Aku ingin ke swalayan yang di dekat sini, Abue. Sekalian mau belanja bahan masak.” Sadar bahwa ekspresiku langsung berubah, Zara segera menambahkan ucapannya, “Tanganku udah membaik, udah gak separah sebelumnya. Jadi harusnya gak apa-apa kalau masak yang gampang-gampang.”

Aku menghela napas. “Baiklah. Mau ke swalayan yang mana? Di dekat sini ada empat swalayan.”

“Semalam aku udah lihat-lihat fotonya lewat internet.” Dia mengangkat ponsel, menunjukkan gambar sebuah swalayan beserta namanya sambil berkata, “Nih, yang ini, loh! Lokasinya di dekat rumah sakit ini, ‘kan?”

Aku tertegun sejenak.

Swalayan ini ..., aku tahu betul betapa buruk reputasinya.

Pelayanannya buruk. Stafnya sering bermasalah. Warga lokal berpenampilan “biasa” saja ada yang mendapat perlakuan tak mengenakkan. Apalagi turis “seperti Zara”?

“Hmmm,” gumamku, sibuk memikirkan jawaban tepat apa yang bisa kuberikan. “Jangan di situ, deh. Di tempat lain aja belanjanya.”

“Emang kenapa?” Tuh, ‘kan, sudah kuduga dia pasti akan bertanya begitu.

“Di situ gak aman.”

“Gak aman?” Zara diam, wajahnya tampak bingung. Sepertinya dia sedang berusaha mencerna apa yang baru saja kukatakan. “Tapi waktu aku belanja bareng Samuel di minimarket dekat sini—seminggu yang lalu, aman-aman aja, tuh.”

“Ya, yang itu emang aman, tapi yang ini ... sering bikin pelanggan kesal. Perlakuan mereka ke pelanggan sering bikin gak nyaman. Aku gak mau kamu jadi sasaran.” Aku melirik Abue. Kami saling menyampaikan tatapan yang hanya kami berdua tahu maksudnya. “Lebih baik nanti belanjanya di Arco Elvira Carniceria aja, yang dekat rumah. Biar aman juga buatmu karena udah jelas halal.”

“Ya udah, deh. Jadi habis ini, kita langsung ke minimarket itu?”

“Nggak, kita jalan-jalan dulu,” kataku, sambil memimpin langkah agar kami bisa segera pergi dari rumah sakit ini. Mereka mengekor di belakangku. “Gimana kalo kita ke toko buku? Cuma sekitar dua kilo dari sini ada toko buku bekas yang cukup bagus. Mungkin kamu mau lihat-lihat, Zara?”

“Boleh. Tapi emang di sana ada buku yang berbahasa Inggris?” sahut Zara dari belakang.

Abue yang menjawab, “Ada, kok. Seingat Abue ada dua rak besar yang isinya khusus buku berbahasa Inggris. Ya, ‘kan, Diego?”

“Iya, Abue. Jadi, kita ke sana?”

“Iya, ayo!” seru Zara bersemangat.

“Kita mau jalan kaki atau naik taksi?” tanya Abue, begitu kami keluar dari Rumah Sakit Universitario Virgen de las Nieves.

“Naik taksi aja, Abue. Nanti dari toko buku ke minimarketnya, baru deh, jalan kaki aja.”

Aku baru diizinkan untuk menyetir dalam waktu tiga hari lagi oleh dokter—dua minggu setelah masa perawatan fisikku, karena memang baru di hari itu aku dianggap benar-benar pulih secara fisik dan lumayan membaik secara psikologis. Makanya, dalam perjalanan ini aku tidak membawa mobil—sehingga kami harus menaiki taksi.

Setelah mendapatkan taksi, kami bertiga langsung masuk ke dalamnya. Aku duduk di samping sopir, sedangkan Zara dan Abue di bangku belakang. Kendaraan beroda empat ini pun melaju, membawa kami menjauh dari bangunan tinggi besar berwarna putih pucat yang dinamakan rumah sakit itu.

Jalanan sempat agak macet, jadilah kami baru tiba di lokasi lima belas menit kemudian. Begitu kami keluar dari mobil, cahaya terang matahari langsung menyambut kedatangan kami. Untunglah sekarang masih akhir bulan April, jadi cuaca yang cerah di siang hari tak akan membuat pelipis kami basah oleh keringat berlebih.

Aku mendongak ke atas, memandangi langit yang menaungi Calle Gran Vía de Colón. Awan tipis tampak tersebar di tengah-tengah birunya langit, menambah rasa nyaman bagi pejalan kaki yang sedang menyusuri permukaan abu-abu jalan di bawahnya.

“Toko bukunya yang itu?” Pertanyaan yang diajukan Zara membuatku menoleh, menatap gadis berpakaian serba cokelat yang kini sedang berdiri di depan jendela toko buku.

Warna pakaiannya senada dengan warna cat toko buku Re-Read Granada yang ada di hadapan kami sekarang. Menampilkan pemandangan yang indah di mata—yang sepertinya bagus kalau diabadikan ke dalam sebuah foto.

“Iya, yang itu.” Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana. “Mau kufoto, gak?”

“Hah?” Zara langsung menoleh, kaget dengan tawaranku yang tiba-tiba itu. Namun, kemudian dia melarikan pandangannya ke tiap sudut bagian depan bangunan, dan tersenyum. “Boleh, deh.”

Zara memosisikan tubuhnya di depan jendela besar sebelah kiri pintu masuk toko, membiarkan tubuh mungilnya bagaikan terbingkai kotak besar berbahan kaca. Kanan-kiri jendela besar itu berupa dinding bercat cokelat muda—yang senada dengan rok dan jilbabnya, sedangkan bagian atas jendela adalah ukiran kayu berwarna cokelat karamel—yang senada dengan blusnya.

Aku mundur beberapa langkah, membiarkan beberapa orang yang berlalu-lalang untuk lewat terlebih dahulu, lalu mulai mengambil foto menggunakan ponselku.

Angin lembut datang, menghampiri kami dan menggoyangkan jilbab Zara—membuat salah satu sisi jilbabnya berkibar dan menghalangi wajah seorang pria yang muncul di belakang jendela.

Zara berpose agak canggung, kakinya merapat dengan kedua tangan yang mengerat pada tali tas bahunya. Wajah berkulit kuning langsatnya tersenyum malu-malu—seakan deretan buku di balik jendela itu akan meledeknya. Aku mengambil beberapa foto, tetapi pose Zara tidak banyak berganti.

“Zara, ganti pose lagi, dong! Senyum yang lebar,” kata Abue, ikut merasa gemas melihat tingkah Zara.

“Nggak, deh. Udah ah, fotonya.” Lah? Dasar! “Kalian mau aku fotoin juga?” tawarnya.

“Tidak, nanti saja saat mau pulang, sekalian kita foto bersama. Yuk, masuk!” jawab Abue, sambil menggandeng tangan kami untuk masuk ke dalam toko.

Selepas masuk melewati pintu kaca yang besar, kami langsung disuguhi ruangan bercat putih yang dipenuhi dengan rak-rak putih berisikan buku bersampul warna-warni. Aroma kertas tua menghampiri indra penciuman kami, memberikan sensasi khas yang menuntun tiap langkah kami menelusuri lantai kayu toko.

Usai berkeliling puluhan menit lamanya, akhirnya kami menemukan buku yang sesuai dengan selera kami.

Masing-masing dari kami bertiga menenteng dua buku; Abue membeli novel klasik Spanyol Primera memoria karya Ana María Matute dan novel terjemahan populer El amor en los tiempos del cólera karya Gabriel García Márquez, Zara membeli novel bertema ingatan yang berjudul Never Let Me Go karya Kazuo Ishiguro dan novel yang cukup dikenal “berat” berjudul Mrs Dalloway karya Virginia Woolf, sedangkan aku membeli novel bertema rasa bersalah yang berjudul Atonement karya Ian McEwan dan novel Albert Camus—penulis Prancis yang sangat populer di Spanyol—yang berjudul The Stranger.

Usai kasir menyebutkan jumlah harga keenam buku itu, aku langsung mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang, kemudian menyerahkannya ke kasir untuk membayar. Kulihat Zara sempat membuka tas bahunya dan mengangkat dompet, tetapi aku menggeleng. Sementara itu, saat tubuhku berbalik ke belakang, senyuman Abue langsung menyambut pandanganku.

Aku ikut tersenyum, lalu mengajak dua wanita berbeda usia itu untuk keluar dari toko, “Yuk, kita foto dulu di depan! Habis itu ke minimarket, deh.”

Tangan kananku yang menenteng tas kertas cokelat besar—yang berisi buku-buku kami, membuatku harus menggunakan tangan kiri untuk membuka pintu kaca. Namun, belum sempat jemariku meraih gagang pintu, tangan Zara sudah lebih dulu tergerak membuka pintu itu. “Makasih, ya,” katanya sambil tersenyum, mempersilakanku untuk keluar lebih dulu.

Aku tertawa kecil. “Sama-sama.”

Kami bertiga menghampiri jendela besar tempat Zara berfoto sebelumnya, lalu mengambil beberapa foto bersama-sama. Dengan Abue yang berada di tengah-tengah aku dan Zara, kami berfoto sambil menampilkan macam-macam pose.

Salah satunya adalah pose di mana Abue sedang tertawa kecil, sedangkan aku dan Zara secara hampir bersamaan mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Abue—aku di kanan dan Zara di kiri. Hal yang sontak membuat Abue tertawa lepas dan langsung merangkul tubuh kami—tepat setelah tombol kamera ponsel ditekan.

Ah, aku jadi teringat akan kejadian di Mirador de San Nicolas beberapa hari yang lalu. Sore itu, sebelum aku, Abue, dan kedua sahabat semasa kuliahku itu masuk ke gereja untuk misa, kami berlima sempat berfoto bersama seperti ini. Akan tetapi, kala itu Zara masih agak canggung saat Abue mengarahkan wajahnya untuk mengecup pipi nenekku itu—pun sebaliknya. Namun, sepertinya sekarang gadis itu sudah mulai terbiasa dengan budaya Andalusia.

Setelah puas berfoto-foto, kami bertiga pun berjalan menuju rumah—lebih tepatnya menuju minimarket yang ada di dekat rumah.

Kami menyeberangi Calle Gran Vía de Colón, lalu masuk ke Calle Santa Lucía. Kedua kaki kami menapaki jalan berpola persegi panjang, melewati bangunan Cafetería Gran Vía 48-UGR—yang berarsitektur modern-fungsional—di kanan kami dan bangunan Palacio Müller—yang berarsitektur neo-Renaisans—di kiri kami, dengan ditemani bunyi lonceng yang terdengar dari arah kafe kecil di sekitar jalan ini.

***

Suara notifikasi ponsel membuatku yang baru saja menutup pintu kamar, langsung merogoh saku untuk meraih benda pipih itu. Ada pesan baru yang masuk ke ponselku dan dikirim oleh nomor asing. Pesan itu berbunyi, Diego, aku minta foto-foto yang tadi, dong! Tolong kirimin, ya :)

Aku mengernyitkan dahi. “Nomor siapa, ini?”

Sungguh nomor yang asing di mataku. Apalagi, kode di depan nomor itu bukan milik Spanyol—karena bukan +34.

Kupencet pesan itu untuk mengecek nama tampilan dan foto profilnya. Nama Zara Medina Yasma tertera di samping nomor itu, beserta foto Zara dengan background sebuah taman yang menjadi foto profilnya.

Aku baru ingat, aku memang belum menyimpan nomor gadis itu. Padahal, kami berdua sudah berada di dalam grup percakapan yang sama dalam waktu cukup lama—grup yang entah dibuat oleh Maria atau Samuel.

Aku berjalan mendekati ranjang, menaruh novel Atonement dan The Stranger—yang siang ini kubeli—di atas nakas sebelah kanan ranjang, lalu duduk di atas empuknya kasur. Kemudian, dengan mata yang kembali fokus pada layar ponsel, aku pun segera menyimpan nomor Zara.

Lihat selengkapnya