Suara tangisan menyapa telingaku. Terdengar begitu memilukan, membuatku langsung menolehkan kepala ke kanan-kiri; mencari sumber suara itu. Aku berjalan melewati pagar besi yang terbuka, memasuki kebun yang sedang disinari cahaya matahari sore. Kaki kecilku menapaki tanah yang keras dan kering, mengikuti jejak kaki mungil yang mengarah lurus ke arah sebuah pohon.
Pohon ara, pohon berdaun besar tempat aku biasa bermain di sekitarnya. Namun, sore ini, tak ada keceriaan yang menghiasi pohon itu seperti biasanya. Sebab di saat aku telah berdiri di dekatnya, kulihat ada seorang anak perempuan yang tengah menangis sambil bersandar di batang pohon besar itu.
Dari sini, yang bisa kulihat hanyalah rambut bergelombangnya yang bergerak pelan terkena embusan angin. Rambut cokelat nyaris hitam yang tebal, memenuhi sebuah kepala mungil yang kini sedang tertunduk lesu. Juga kulihat, kulit tangan dan kakinya yang berwarna putih hangat. Kulit yang saat ini sedang disinggahi lebam dan luka yang masih mengucurkan darah.
Aku tersentak. Dia kenapa?!
“Hei ...!” Aku berjalan ke depan anak perempuan itu, mencoba untuk melihat wajahnya. “Kamu kenapa?”
Kepalanya terangkat, menampilkan wajah yang sangat kukenal. Itu sahabatku!
“Denna! Kamu kenapa, Denna?!” teriakku panik.
Akan tetapi, Denna tidak menjawab. Mata cokelat gelapnya yang sembap menatapku dengan tajam. Masih mengeluarkan banyak air mata, membuat pipinya yang tembam itu jadi basah.
Kenapa dia kelihatan marah?
“Denna, kamu berdarah! Kenapa? Kamu kena apa? Habis jatuh?” tanyaku berturut-turut.
Tapi lukanya tidak seperti habis terjatuh. Ini terlalu parah! Aku harus memanggil Bunda Ika secepatnya.
“Denna, aku panggilin Bunda, ya?”
Denna menggeleng.
“Terus aku harus apa? Kamu luka, Denna!” Mataku mulai terasa panas. Sepertinya aku akan ikut menangis juga.
Denna diam. Aku merasa agak takut melihat tatapannya padaku. Kenapa dia seperti sedang marah padaku? Memangnya aku salah apa?
Hah—tunggu!
“Denna, apa kamu luka gara-gara aku?” Tapi aku tidak ingat pernah menyakiti Denna. Lagian, kenapa juga aku membuat Denna terluka begitu? Denna, ‘kan, sahabatku.
Melihat Denna yang hanya diam sambil terus menangis, aku pun berjalan mendekat dan berusaha untuk memeluk tubuhnya.
Bruk!
Tapi Denna malah mendorongku hingga aku jatuh ke tanah.
“Aduh ....” Lengan dan kaki kiriku rasanya sakit sekali.
Aku langsung melihat ke arah Denna lagi. Kali ini sambil merasa kesal. “Kok kamu dorong aku, sih?!”
Namun, bukannya menjawab, Denna malah berdiri dan berlari pergi.
“Hei! Tunggu aku!” Aku juga berdiri, kemudian berusaha mengejarnya sambil menahan perih di lengan dan kakiku.
“Denna, kamu tuh kenap—AWWW!” Aku terjatuh lagi, kali ini karena tersandung sebuah batu.
Aku ingin bangun agar aku bisa mengejar Denna, tapi badanku rasanya sakit sekali. Karena tanah yang terhantam badanku ini benar-benar keras dan kering. Rasa sakit ini membuatku hanya bisa tertelungkup di atas tanah, dengan tangan kanan yang menekan permukaan tanah kuat-kuat—supaya aku bisa sedikit mengangkat kepalaku.
Aku menangis. Teriakanku memecah keheningan kebun. “Denna! Tunggu, jangan lari!”
Tapi sahabatku itu terus saja berlari—entah ke mana. Tubuhnya perlahan menghilang dari pandanganku. Membuat tangisanku semakin meraung-raung.
Dadaku sesak sekali. Sesak karena menahan cemas atas keadaan Denna, dan sesak karena kini aku sendirian di kebun yang sunyi ini.
“Denna ...,” panggilku dengan diselingi isak, “... jangan tinggalin aku, Denna. Aku mohon.
“Jangan pergi. Jangan tinggalin aku.
“Aku mohon. Aku mohon. Aku—
“—HAH!” Napasku terengah-engah. Aku memandangi langit-langit kamar dengan pandangan nanar.
...
“Tadi itu ... mimpi?”
Aku mengangkat tubuh, duduk sambil bersandar ke tumpukan bantal. Mengambil napas sebanyak-banyaknya, sambil berusaha menetralkan detak jantung yang kini sedang menggila.
Tatapanku masih berlari ke sana-kemari, melihat pemandangan kamar dengan perasaan setengah percaya. Rasa sesak itu ... terlalu nyata. Bahkan mataku—
—Telapak tanganku meraba wajah, menelusuri permukaannya yang basah.
Rasa sakit hati itu juga nyata.
...
Tanganku meremas seprai dengan kencang. Dan semakin mengencang, di saat air mataku mengalir semakin deras.
“Sebenarnya kamu kenapa, Denna? Kenapa kamu menyiksaku seperti ini?”
Perasaan ini terlalu membingungkan. Aku butuh seseorang.
Aku butuh sahabatku.
Kuraih ponselku dari atas nakas, mencari grup percakapan yang hanya beranggotakan aku dan kedua sahabatku—Maria dan Samuel, lalu mengirim sebuah pesan, ¿Podéis venir un momento? (Bisakah kalian datang sebentar?)
Setelahnya, aku duduk di pinggir kasur. Tatapan lemahku mengarah ke nakas sebelah kiri ranjang. Lebih tepatnya, ke arah bunga baby’s breath dan mawar kuning di dalam vas, yang kini kelopak-kelopaknya sudah semakin rusak. Kelopak kecil baby’s breath sudah mengering dan mengeras, bahkan warna putihnya sudah dinodai oleh bercak-bercak kekuningan.
Kelopak mawar kuning lebih nelangsa lagi. Ia sudah layu, dengan ujung kelopaknya yang mulai menghitam. Warna kuningnya telah ditinggal oleh kehangatan, membuatnya jadi tampak pucat dan kusam.
Bunga-bunga itu bahkan membuat air vas menjadi keruh dan dipenuhi kelopak yang mengambang. Pemandangan yang benar-benar jelek sekali.
Sejelek suasana hatiku di pagi hari ini.
Tok-tok-tok!
“Diego?” Itu suara Samuel.
Aku menyahut dengan suara yang masih berat, “Pasad.” (Masuklah.)
Suara pintu yang dibuka terdengar. Namun, aku masih duduk dengan posisi memunggungi pintu. Beberapa detik kemudian, kudengar suara pintu yang ditutup.
Ketika aku menoleh ke kanan, kulihat Maria menghampiriku, lalu duduk di sebelah kananku. Sementara itu, Samuel duduk di kursi kayu yang ada di dekat jendela kamar.
“He soñado con él otra vez ...” (Aku bermimpi tentang dia lagi ...) kataku, lalu mulai menceritakan mimpiku barusan.
Mimpi tentang Denna.
Luka itu. Lebam itu. Darah itu.
Tangisan yang membasahi pipi putihnya.
Mata berairnya yang menatapku begitu tajam.
Pengabaiannya atas segala perkataan dan pertanyaanku.
Dorongannya saat aku berusaha untuk memeluknya.
Rasa sakit ketika terjatuh itu, juga bagaimana Denna meninggalkanku tanpa kata,
... lagi.
Mimpi itu mengingatkanku akan kejadian dua puluh tahun lalu—saat Denna meninggalkanku.
Bedanya, saat itu dia dan keluarganya pergi tanpa sepengetahuanku. Karena saat aku dan Abue mendatangi rumahnya, rumah tempat kami bermain bersama itu telah kosong melompong. Tak ada suara, ataupun raga dan jiwa yang mengisinya.
Namun, tetap saja; sama. Lagi-lagi dia meninggalkanku. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, dan tanpa meninggalkan sepatah pun kata.
Usai aku selesai bercerita, Samuel berdiri, menghampiriku. Ia menepuk bahuku beberapa kali, lalu memberiku pelukan singkat sambil berkata, “Estamos aquí.” (Kami ada di sini.)
Maria mengangguk, mengiyakan ucapan Samuel. Dia juga memelukku, tapi lebih erat dan lebih lama. “No tienes que cargarlo solo,” (Kamu tidak harus memikulnya sendirian,) katanya.
Perlakuan mereka membuat air mataku jatuh lagi.
“Estoy confundido. Me siento triste porque Denna me ha dejado, pero también estoy preocupado por ella. Tengo miedo de que le haya pasado algo. Tengo miedo de que el sueño que acabo de tener sea una señal de que no está bien. Pero no puedo hacer nada. Nada. Ni siquiera sé dónde está ahora,” (Aku bingung. Aku merasa sedih karena Denna sudah meninggalkanku, tapi aku juga khawatir padanya. Aku takut sesuatu terjadi padanya. Aku takut mimpi yang barusan kualami adalah pertanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun. Tidak bisa. Aku bahkan tidak tahu dia ada di mana sekarang,) tuturku, mengungkapkan kegelisahanku.
Maria membalas, “Diego, tranquilo .... Respira. No saques conclusiones por un sueño. Los sueños no siempre significan algo.” (Diego, tenang .... Bernapaslah. Jangan langsung menarik kesimpulan hanya karena mimpi. Mimpi tidak selalu berarti sesuatu.)
Ia memegangi kedua bahuku, menatapku dengan sorot khawatir yang kuat. “Entiendo que estés preocupado, es normal. Pero ahora mismo lo más importante es que te calmes,” (Aku mengerti kamu khawatir, itu wajar. Tapi sekarang yang paling penting adalah kamu harus menenangkan diri,) lanjutnya.
“Diego, mírame.” (Diego, lihat aku.) Samuel memegangi lenganku, membuatku mengalihkan pandangan dari Maria ke arahnya. “No puedes torturarte con suposiciones. (Kamu tidak bisa menyiksa diri dengan dugaan-dugaan.)
“Si de verdad estás preocupado y quieres saber dónde está, vamos a averiguarlo. Podemos ... quizá podríamos preguntarle a Zara—” (Kalau kamu benar-benar khawatir dan ingin tahu dia di mana, ayo kita cari tahu. Kita bisa ... mungkin kita bisa tanya Zara—)
Mataku langsung terbelalak mendengarnya. “—¡No! No ... no la metas en esto,” (Tidak! Jangan ... jangan libatkan dia dalam hal ini,) tolakku dengan segera.
“¿Por qué?” (Kenapa?)
Aku melarikan pandangan ke sebelah kiri, kembali menatap baby’s breath dan mawar kuning yang telah menjadi tampak begitu menyedihkan. “Porque ya ha hecho bastante por mí. No quiero complicarle más la vida. No quiero arrastrarla a esto.” (Karena dia sudah melakukan banyak hal untukku. Aku tidak mau membuat hidupnya jadi makin rumit. Aku tidak mau menyeretnya ke dalam masalah ini.)
Sudah cukup.
***
“Sampaiii!” seru Samuel, di saat mobil yang disetirnya bergerak pelan di depan sebuah hotel.
Hotel Saray Granada—yang terletak di Calle Profesor Tierno Galván ini—akan menjadi tempat menginap kami selama berada di Zaidín. Bangunan krim-cokelat mudanya menjulang tinggi, memamerkan jendela-jendela yang memantulkan cahaya matahari siang. Di sisi kiri dan kanan pintu masuknya terdapat dua bangunan kecil yang menyerupai paviliun mini, hanya saja beratap genteng merah dan bergaya Mediterania.
Sementara itu, di sepanjang bagian depan hotel, berdiri deretan tiang bendera yang membentuk barisan simetris di kiri dan kanan. Bendera-bendera yang terpasang itu adalah bendera Spanyol, Uni Eropa, Italia, Inggris, dan lain sebagainya—yang seakan menjadi pengantar bagi tamu-tamu yang datang.
“Yeyyy!” sorak Maria dan Zara—yang duduk di kursi belakang—dengan nada riang.
“Belok kanan, Samuel. Jalan ke tempat parkirnya lewat situ,” kataku.
“Oke!” Samuel melajukan mobil ke depan, lalu belok ke kanan untuk memasuki tempat parkir yang memang berada di dalam gedung.
Berbeda dengan mereka yang tampak gembira dan bersemangat, aku merasa sedikit lesu. Mimpi yang membuatku terbangun dengan mata yang basah pagi tadi masih mengusikku. Hal ini membuat Samuel, yang peka terhadap kondisiku, langsung mengambil alih peran menyetir dalam perjalanan ini—tidak membiarkanku menyetir dan justru “mempersilakanku” untuk merehatkan pikiran sejenak sambil duduk di kursi sebelahnya.
“Check in-nya baru bisa jam tiga nanti, jadi kita nitip barang di penitipan bagasi aja dulu,” ujarku sambil menutup pintu mobil.
“Terus kita nunggunya di mana, dong?” tanya Zara.
Samuel yang menjawab. “Gak jauh dari sini ada taman dan tempat berbelanja, kalian mau ke tempat yang mana?”
“Dua-duanya!” jawab Maria dan Zara secara bersamaan.
Samuel tertawa kecil, sedangkan aku tersenyum tipis. “Ayo, kita bawa masuk barang-barang kita dulu,” ajakku kemudian.
Aku dan Samuel membawa tas dan barang yang besar, sedangkan Maria dan Zara hanya membawa tentengan kecil yang tidak terlalu berat.
Kami masuk ke dalam hotel. Di sana, usai mendatangi resepsionis dan menunjukkan bukti reservasi yang dilakukan atas namaku, kami pun menitipkan barang bawaan kami di penitipan bagasi, lalu kembali ke area parkir untuk masuk lagi ke dalam mobil—karena niatnya kami akan pergi ke taman dan tempat berbelanja itu dengan menggunakan mobil saja.
Keadaan jalan yang lancar tanpa macet membuat kami jadi bisa sampai di taman dalam waktu yang singkat. Ya, kami memutuskan untuk pergi ke taman terlebih dahulu sebelum berbelanja. Alasannya adalah karena taman di Zaidín pada pukul setengah dua belas siang masih terasa nyaman untuk didatangi, sebab sinar matahari belum menyengat terik pada waktu tersebut.
Taman yang kami datangi ini bernama Parque Cruz de Lagos, terletak di Calle Grabador David Roberts dan terdiri dari area yang cocok untuk dijadikan tempat berjalan-jalan, tempat bermain anak-anak, juga tempat duduk-duduk santai di dekat sekumpulan tanaman bunga.
Mobilku sudah diparkir di tempat parkir umum yang berada dekat dari sini, jadi kami berempat bisa lanjut bersantai di taman dengan tenang.
“Wah, di sana ada banyak mawar. Maria, kita foto di sana, yuk!” ajak Zara, sambil menunjuk ke arah semak mawar yang berada beberapa meter dari posisi kami sekarang.
Maria, yang sedang sibuk merapikan rambut cokelat gelapnya—yang berantakan terkena terpaan angin, melihat ke arah yang Zara tunjuk. “Yang itu, ya? Oke, yuk!” Lalu, mereka berdua pun berlari kecil ke arah semak mawar itu sambil bergandengan tangan, meninggalkanku dan Samuel yang hanya berdiri dalam keheningan.
Langkah kakiku semakin memelan. Hingga akhirnya, terhenti tepat di sebelah bangku taman berwarna cokelat.
“Kamu kenapa? Mau duduk dulu?” tanya Samuel. Aku tak menatap wajahnya, hanya menunduk ke arah jalanan yang rata.
“Aku ...,” Bunyi dersik angin yang menghantam dedaunan terdengar bising sekali di telingaku, membuatku nyaris kehilangan kata-kata. “... iya, aku mau di sini dulu.”