Ting!
Pesan baru masuk ke ponselku. Dari Zara, yang berbunyi, Senang bangettt! Jadi gak sabar buat nanti malam!
Sama, Zara. Aku juga sudah tak sabar untuk rencana kita nanti malam.
Lebih tepatnya ... rencanaku untukmu.
“Hayo, kenapa tuh senyum-senyum sendiri?!” seru Samuel, membuatku terlonjak kaget.
Pria yang warna rambutnya serupa kopi itu memandangku dengan jahil. Kedua alisnya naik-turun, seolah sedang berusaha menyelidik ekspresi di wajahku.
Aku mendelik sebal. “Nggak, nggak. Gak kenapa-kenapa, tuh!” sanggahku sambil beranjak dari kursi.
Tak sampai tiga detik kemudian, aku sudah kabur ke dalam kamar mandi sambil membawa ponsel.
Dan tak melakukan apa pun di dalam sana.
***
Langit sore di atas kolam Hotel Saray masih terang, tapi cahayanya sudah menjadi lebih hangat. Bukan tipe hangat yang membuat bulir-bulir keringat perlahan membasahi kulit, melainkan hangat yang membawa ketenangan di hati. Matahari sudah berada dalam posisi rendah. Wujudnya memantul di permukaan air, membuat air kolam jadi berkilau lembut.
Bayangan gedung-gedung tinggi berwarna krim, hijau, dan cokelat muda di sekeliling halaman memanjang di lantai terakota. Sementara itu, beberapa pohon palem di sudut taman bergoyang pelan tertiup angin sejuk.
Aku mengalihkan perhatian dari pemandangan sekitar kolam, menuju dua manusia yang sedang berenang di depanku. Di salah satu sudut kolam, Samuel—yang kini hanya mengenakan celana renang—mendorong tubuhnya ke depan dengan beberapa kayuhan bebas, lalu muncul ke permukaan sambil mengibaskan rambut basahnya.
“Segarnya ...,” katanya, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.
Tak jauh darinya, Maria menyelam sebentar—membuat air kolam jadi bagai dihiasi warna ungu yang berasal dari bikininya. Tak lama kemudian, ia muncul ke permukaan. Tawa kecil mengalun dari bibir tebalnya, diiringi suara cipratan air yang terdengar rusuh. Ia dengan sengaja mencipratkan air ke arah Samuel.
“Heiii!” Samuel mengayunkan lengannya, membalas Maria dengan ikut menyiramkan air ke arahnya. Percikan air itu mengenai wajah Maria, membuat wanita itu terkekeh sambil mundur setengah berenang.
Lain halnya dengan mereka, kini aku—yang juga sedang hanya memakai celana renang—tengah bersandar di keramik tepi kolam dengan kedua siku yang bertumpu ke belakang. Air kolam mencapai dadaku, membawa kesejukan di bawah cahaya matahari sore.
Suasana yang begitu menyenangkan.
Perlahan, aku menjauh dari tepi kolam sambil mendorong tubuhku dengan satu gerakan kaki. Aku meluncur beberapa meter, berenang santai melintasi air yang tenang sebelum muncul lagi di dekat tangga logam.
Kukibaskan kepalaku ke belakang, membuat air menetes dari rambutku bagaikan butiran permata bening.
Dari tempatku sekarang, aku bisa melihat beberapa sun lounger putih berjajar rapi di bawah payung-payung besar yang kini dalam posisi menutup. Hanya ada tiga orang yang sedang menempati kursi panjang itu. Yang satu, seorang wanita berbikini seperti Maria yang sedang rebahan sambil menikmati udara sore; satunya seorang pria bercelana pendek yang sedang duduk santai sambil meneguk segelas jus jeruk;
Dan yang satunya lagi adalah seorang gadis berkaus panjang, bercelana kulot, dan berjilbab yang kini sedang setengah rebahan sambil bermain ponsel. Kakinya lurus ke depan, sedangkan kedua tangannya memegang ponsel yang ia tatap dengan tenang.
Gadis yang kumaksud itu adalah Zara.
Di antara sedikitnya orang yang sedang menikmati fasilitas hotel ini, hanya dia yang tetap berpakaian lengkap dan tertutup. Dan hanya dia pula yang tidak ikut masuk ke kolam renang.
Ya. Sejak awal kedatangan kami berempat ke area berenang ini, gadis itu tak menyentuh air kolam sedikit pun. Ia hanya menyandarkan punggung di sun lounger sambil memainkan ponselnya.
Entah apa yang sedang ia tatap di layar datar itu. Yang jelas, ekspresinya serius sekali. Dia bahkan hanya sesekali melirik ke arah kami.
Aku masuk lagi ke dalam air, menikmati dinginnya cairan bening ini sambil mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan di kepala.
Aku sedang berpikir ... apakah Zara tengah kebosanan menunggu kami? Atau sedang ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan? Atau justru sedang bad mood, sehingga merasa malas untuk bergabung bersama kami?
“Zara, Zara! Ayo, dong, ikut renang sama kami!” Ajakan itu membuatku langsung keluar dari air.
Aku mendekat ke sumber suara dengan setengah berenang. Kulihat Maria mendekati pinggir kolam. Ia berhenti berenang sejenak untuk menumpukan siku di tepi kolam, lalu menggapai dan menarik-narik pelan kaki Zara yang menjulur di ujung sun lounger.
“Ayolah, Zara! Kamu lagi ngapain, sih?” lanjut Maria, kini sambil mencipratkan air ke arah Zara.
“Ih, Maria!” Zara tertawa. Ia beringsut ke belakang, berusaha melindungi kakinya dari cipratan Maria.
Melihat ekspresinya yang cerah, aku pun turut mengusilinya, “Zara gak bisa renang, kali, makanya gak mau gabung,” kataku, lalu ikut mencipratkan air ke arahnya.
“Aduh, aduh! Heiii, kalian ini, ya!” pekiknya sebal. Ia pun berdiri, berjalan mendekat ke arah kolam lalu berjongkok untuk membalas cipratan air kami.
Zara memasukkan tangannya ke kolam, lalu menyiramkan air secara bertubi-tubi ke arah Maria. Ia tertawa senang saat melihat Maria kewalahan dan berakhir kabur menghampiri Samuel. Melihat satu lawannya telah “tumbang”, ia pun beralih kepadaku.
Dengan bersemangat, ia terus mencipratkan air ke arahku—mengabaikan ujung lengan kausnya yang sudah basah terkena air. Aku tidak mau kalah, kubalas ia dengan sama bersemangatnya.
Tawa kami menguar, menghiasi wajah kami yang sudah sama-sama dipenuhi bulir-bulir air.
Aku menyiramnya dengan air selebar ayunan lengan, membuat gadis itu dengan cepat menangkis cipratan air dariku sambil tertawa.
“Hei! Berhenti!” omelnya.
Tapi aku tak peduli. Kusiramkan lagi air yang dingin ini ke arahnya, membuat jilbab merah mudanya jadi sedikit basah.
Zara membalasku lagi. Air pun memercik ke wajahku.
Aku mengusap wajah, berusaha menghapus jejak-jejak air dari wajahku agar bisa kembali melihat dengan jelas. Di saat yang bersamaan, kudengar tawa Zara pelan-pelan mereda.
Dengan mata yang masih basah, kulihat ia tiba-tiba saja berhenti bergerak. Pandangannya jatuh ke arahku yang sedang berdiri di dalam kolam dengan air yang menetes dari rambut dan bahuku.
Zara menegakkan punggungnya, diikuti sebuah gumaman pelan, “—Eh ....”
Aku membalas tatapannya. Terdiam melihat tingkahnya yang mendadak berubah.
Namun, gadis itu malah dengan cepat mengalihkan pandangan. Ia menyeka air di pipinya, merapikan ujung jilbabnya yang sedikit basah, lalu berdiri.
“Aku ... duduk lagi, ya?” katanya. Kemudian, tanpa menunggu jawabanku, ia langsung kembali duduk di sun lounger yang tadi ditempatinya.
“Oke,” jawabku dengan pelan.
Aku menyibakkan rambut basahku ke belakang, lalu melirik ke arah Zara yang sudah kembali sibuk menatap ponselnya.
Entah kenapa, suasana yang tadinya ringan kini mendadak terasa berbeda.
Aku menelan ludah.
Merasa tak ada hal lain yang bisa kubahas atau kulakukan bersama Zara, aku pun memilih berenang menjauh darinya. Aku mengayunkan kedua lenganku di air, menghampiri Samuel dan Maria yang sedang berenang berdekatan di tengah-tengah kolam.
Begitu sampai di dekat mereka, aku mengangkat tubuh sebentar. Kepalaku kutundukkan, membuatku jadi bisa menatap air yang tampak biru akibat warna keramik kolam.
Beberapa detik setelahnya, aku berenang lagi. Menenggelamkan kepala dan dada ke dalam air. Berusaha memadamkan rasa tak nyaman yang bergumul di benakku—dengan dinginnya air di dalam kolam renang ini.
Tawa Samuel dan Maria terdengar. Mewarnai suasana sore hari di kolam, membawa keceriaan dan kesan ramai. Sungguh kontras dengan keadaanku dan Zara yang kini sedang dirundung canggung.
“Diego,” bisik Samuel. Suaranya pelan sekali, nyaris tak terdengar olehku.
Aku mengangkat kepala dari air. “Kamu manggil aku?” tanyaku memastikan.
“Iya,” jawab Samuel. Ia melirik sebentar ke arah Maria yang sedang berenang mendekati sun lounger Zara, lalu kembali menatapku. “Buat rencana nanti malam ... mereka, ‘kan, taunya kita bakal sama-sama ke gedung itu, ya .... Tapi masalahnya, ‘kan, sebetulnya kita mau ke area yang beda. Nanti gimana ngomongnya biar mereka mau dipisahin?” tanyanya.
Ah, iya. Betul juga.
“Gimana, ya?” Aku juga bingung.
“Apa nanti aku dan Maria masuk duluan, lalu kalau Maria menanyakan soal kalian; kubilang aja kalian akan menyusul?” usul Samuel.
“Terus apa yang harus kubilang pada Zara?” Sebelah alisku tertarik ke atas. “Jangan gitu, deh, Samuel. Nanti mereka ngambek karena merasa dibohongi.”
Dan membuat wanita merajuk sama saja dengan bunuh diri.
Samuel menggeser posisi tubuhnya, mendekati tepi kolam untuk bersandar di sana. Aku pun berenang menyusulnya, ikut bersandar di sebelahnya. Dengan punggung yang menempel pada keramik dan kedua siku yang bertumpu ke belakang, kami berdua sama-sama menatap lurus ke depan—memperhatikan dua wanita yang tampak sedang berbincang itu—Zara dan Maria.
“Mungkin ... sebaiknya kita jujur aja sama mereka, kalau kita bakal ke area yang berbeda,” kataku, memberi saran.
“Emang kalau kita kasih taunya dadakan—pas kita udah di sana, mereka nggak bakalan ngambek?”
Aku menggaruk kepalaku pelan. Kebingungan.
Kuperhatikan dua wanita itu dengan lebih lekat lagi; Zara yang kini duduk bersila di atas sun lounger sambil menunduk ke bawah untuk berbincang dengan Maria, dan Maria yang sedang berenang santai di dalam kolam sambil sesekali menoleh pada Zara.
Selain posisi mereka saat ini, aku juga berusaha memperhatikan perbedaan di antara keduanya. Perbedaan prinsip, perbedaan gaya dan pilihan hidup, dan tentunya perbedaan selera.
Akhirnya, aku menemukan juga jawabanku untuk Samuel, “Kayaknya, sih, nggak. Apalagi, mungkin mereka juga bakal ngerasa percuma buat ngambek. Soalnya, ‘kan, tiketnya udah kita beli.”
“Sungguh pria-pria yang licik,” komentar Samuel, membuatku tertawa.
Kutepuk pundaknya pelan, sambil mengatakan, “Tenang aja, Samuel. Sedekat-dekatnya dua wanita itu, aku yakin; Zara gak akan mau menyaksikan apa yang Maria sukai, dan Maria pun akan lebih memilih apa yang dia suka ketimbang yang lain.”
“Yah ... semoga betulan begitu, deh.” Helaan napas Samuel terdengar berat. Sepertinya dia amat mencemaskan rencana kami nanti malam. “By the way, jangan lupa, ya, rencana kita yang satu lagi!”
“Aman,” sahutku.
“Nanti kalau berhasil, kamu kutraktir apa pun.”
“Oke, kutunggu.” Kami pun tertawa bersama.
“Hei, kalian lagi ngomongin apa? Kok gak ajak-ajak aku dan Zara, sih?” teriak Maria sembari berenang mendatangi kami.
Aku membalas, “Kalian gak boleh tau. Ini obrolan khusus untuk para pria,” lalu kabur, berenang menjauh—menyelamatkan diri dari amukan Maria.
“Halah, banyak gaya!” serunya kesal, disambut tawa Samuel.
Usai meninggalkan Maria dan Samuel berduaan di dekat tangga logam, ayunan lenganku justru membawaku mendekat ke tepi kolam di mana sun lounger Zara berada.
Aku tidak mengajaknya bicara, tidak juga sering melempar pandangan ke arahnya. Aku hanya fokus berenang beberapa putaran—tak jauh dari tempat duduknya. Namun, sepertinya keberadaanku cukup mengusiknya. Sebab saat aku melirik sekilas ke arahnya, kulihat ia juga sedang melirik ke arahku.
“Diego,” panggilnya tiba-tiba.
Aku menoleh, lalu hanya mengangkat sebelah alisku sebagai respons.
Zara tidak langsung melanjutkan ucapannya. Dia malah terdiam sambil masih duduk bersila di atas kursi panjangnya. Aku yang merasa penasaran, pun, akhirnya berenang hingga ke hadapannya. Begitu tubuhku menempel di keramik kolam, aku langsung menaruh lipatan kedua tangan di atas tepi kolam yang berwarna oranye pucat.
“Ada apa?” tanyaku, sambil mengangkat wajah untuk menatap matanya.
Tapi Zara malah memundurkan tubuhnya, kembali membentang jarak di antara kami. “Gak apa-apa. Aku cuma ...,” Kenapa dia tampak begitu ragu? Memangnya hal apa yang ingin dia sampaikan? “... aku baru ngeh ... kamu punya tato di situ.”
Hah?
Aku mengikuti arah pandang Zara sekarang; lengan atas kiriku, dekat bahu—tempat di mana tato seekor burung gagak dengan sayap terbuka terukir dan tampak mulai sedikit pudar.
Kubuka lipatan tanganku agar gambar tato itu bisa terlihat lebih jelas. Sudut bibirku terangkat sedikit, didorong oleh perasaan menggelitik yang mendadak muncul di benakku. “Yang ini?” tanyaku memastikan.
“Iya.”
“Ini tato lama.” Jemari kananku mengusap pelan tato itu, berusaha menghalau bulir-bulir air yang menempel di sana. “Kubuat waktu lulus kuliah.”
“Oh ... aku baru liat yang itu,” kata Zara, membuatku kembali menatapnya. “Kukira kamu cuma punya tato jangkar itu aja.”
Yang dia maksud pastilah tato jangkar di ujung lengan sebelah kananku.
“Yang burung gagak ini emang jarang keliatan, soalnya biasanya ketutupan kaus.”
Ada dua hal yang mendiami pikiranku saat ini.
Pertama, aku penasaran, kenapa Zara memperhatikanku sampai sebegitunya?
Dan kedua, aku ingin tahu, apa yang Zara pikirkan mengenai tatoku ini?
Kutatap wajah yang sedang disiram cahaya matahari sore itu. Kulit kuning langsatnya jadi tampak keemasan, matanya yang biasanya tampak gelap itu pun jadi sedikit lebih terlihat warna cokelatnya, tetapi ... senyuman tipisnyalah yang membuatku benar-benar terpaku.
Apa maksud dari senyumannya itu?
Apakah maksudnya dia menyukai tatoku ini,
Atau justru ... sebaliknya?
Namun, gadis itu tak memedulikan rasa penasaranku. Dia tidak menyambutnya dengan memberikan jawaban yang jelas. Dia hanya membulatkan bibir tipisnya, ber-oh-ria dengan panjang, lalu mengangguk tanda mengerti;
Mengabaikan aku yang sedang dihampiri oleh pertanyaan-pertanyaan.
***
Dua rencana yang kubuat bersama Samuel akan kami laksanakan malam ini. Rencana pertama dimulai pada pukul nyaris setengah sembilan malam, dan akan dilaksanakan di Palacio de Congresos de Granada; sebuah gedung yang menjadi pusat konvensi, pameran, konser, dan pertunjukan teater utama di Granada.
Auditorium tertutup terbesar di Andalusia ini memiliki desain arsitektur yang modern dan elegan, serta mampu menampung hingga 2000 orang; makanya, ketika kaki kami memasuki gedung berwarna hijau gelap ini, yang kami lihat pertama kali adalah lautan manusia yang sedang memenuhi tiap bagian gedung.
“Jadi kita pisah, nih?” Maria cemberut. Di sebelahnya, Zara yang sedang menggenggam erat tangannya juga ikut cemberut.
Mampus kita, Samuel! Bagaimana ini?!
Kulirik Samuel. Pria itu tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya—yang aku yakin sedang tak gatal.
“Iya. Apa kalian ... keberatan?” tanyanya.
“Kenapa gak ngomong dari awal?” Zara malah balik bertanya.
Kini giliran Samuel yang melirikku—mengharap pertolongan.
“Soalnya ...,” Duh, mendadak rasanya aku ingin minum air es seember. “... kupikir kamu gak akan suka tipe musik di konser itu, Zara. Dan Samuel pikir, pun, kayaknya Maria bakal lebih suka nonton konser dibanding pertunjukan teater.”
Maria tampak menghela napas kasar. “Ugh ... ya udah, lah, mau gimana lagi? Lagian tiketnya juga udah dibeli.”
“Iya, sayang tiketnya. Masa gak dipake, sih?” sahut Zara.
“Jadi? Gak apa-apa, ‘kan, kita pisah dulu sebentar?” tanya Samuel.
Maria yang menjawab. “Iya, gak apa-apa. Tapi nanti setelah nonton, kita kumpul berempat lagi, ya?!”
Hei, Samuel! Tahan senyuman bodohmu itu, Kawan!
“Iya. Nanti kita kumpul lagi, kok.” Samuel melirikku lagi, memberi tatapan yang seolah mengatakan, pergi sana!
Maka dari itu, kuputuskan untuk langsung membawa Zara pergi, “Ayo, Zara, kita masuk ke tempatnya sekarang! Pertunjukannya bakal mulai jam setengah sembilan.”
“Iya, ayo.” Zara melepas genggamannya pada tangan Maria. “Kami pergi duluan, ya!” pamitnya pada Maria dan Samuel, sedangkan aku hanya menggoyang-goyangkan tangan kananku sebagai salam perpisahan.
Akhirnya kami benar-benar terpisah, terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang berisikan aku dan Zara masuk ke Auditorio García Lorca untuk menyaksikan pertunjukan teater balet Swan Lake, sedangkan kubu yang berisikan Maria dan Samuel masih menunggu di lobi—sebab konser musik yang akan mereka tonton di Anfiteatro La Nube baru akan dimulai pada pukul sembilan malam nanti.
“Aku yakin, kamu pasti akan lebih suka pertunjukan teater ini dibanding konser musik. Makanya kubilang pada Samuel, biar kamu dan aku nonton pertunjukan Swan Lake aja,” kataku pada Zara, saat aku mengeluarkan ponselku di pintu masuk untuk menunjukkan kode tiket kepada petugas.
Ya, inilah rencanaku untuk Zara.
Rencana untuk menonton berdua saja dengannya.
Dengan begitu, Samuel jadi tak perlu merasa terganggu dengan kehadiranku dan Zara di antara dirinya dan Maria; dan aku pun bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Zara.
“Kenapa kamu yakin sekali?” balas Zara, balik bertanya.
“Karena kupikir, suara musik yang keras hanya akan merusak jiwa penyairmu.”
Zara langsung tertawa mendengar jawabanku, membuatku jadi ingin tertawa bersamanya.
“Baiklah. Liat aja nanti,” ujarnya kemudian.
Kami pun memasuki ruangan Auditorio García Lorca itu, berjalan bersisian di atas lantai kayu, sambil mengedarkan pandangan mencari kursi kami. Kursi-kursi di sini berjajar rapat dan berlapis kain merah marun, bagaikan kelopak mawar yang disusun rapi di atas tanah berundak.
Kami berjalan melewati lorong sisi kanan, menuruni anak tangga yang begitu pendek dengan langkah hati-hati. Di sekitar kami, para pria dan wanita lain—dengan bermacam rentang usia—juga sedang menghampiri kursi mereka sendiri.
Aku menghentikan langkah di sebelah barisan kursi yang ditandai dengan huruf “J”, mengecek ponselku untuk memastikan kursi kami lagi, lalu bergeser untuk mempersilakan Zara masuk duluan. “Kursi kita di sini.”
Zara pun masuk ke barisan kursi itu, disusul aku yang kemudian duduk di sebelah kanannya.
Ketika aku duduk di kursiku, dapat kurasakan empuknya sandaran kursi langsung menyapa punggungku. Sambil bersandar santai, kulihat pemandangan sekeliling kami. Di barisan depanku, seorang pria yang tampak sebaya denganku terlihat melepas jaket dan menaruhnya di sandaran kursi sebelum duduk.
Agak jauh di depan sana, panggung pertunjukan terlihat jelas. Besar dan megah, tetapi masih kosong dan agak gelap, sebab pertunjukannya masih belum dimulai. Sementara itu, dinding kayu cokelat madu membentang di kanan, kiri, dan belakang kami; kehadirannya ditemani oleh langit-langit panel kayu bergelombang yang menaungi kepala kami. Langit-langit itu dihiasi dengan lampu-lampu kecil berwarna kuning lembut, serupa bintang yang bertabur di langit malam.
Aku dan Zara duduk di barisan paling tengah, posisi yang bukan hanya membuat kami bisa menatap panggung dengan nyaman, tapi juga membuat kami bisa melihat ke seluruh penjuru ruangan. Melihat orang-orang hilir mudik mencari kursi sambil berbisik pelan, lampu panggung yang berwarna biru, dan lampu langit-langit yang perlahan dimatikan.
Tirai panggung dibuka sepenuhnya, disusul munculnya suara musik dari orkestra—melodi lembut nan dramatis dari balet Swan Lake yang mengalun memenuhi ruangan.
Aku melirik gadis yang duduk di sebelah kiriku. Gadis itu duduk tegak di kursinya, dengan kedua tangan terlipat rapi di atas pangkuannya. Sepasang matanya menatap serius panggung di hadapan kami.
Perlahan, aku menggeser pandanganku ke kanan—ikut melihat ke arah yang sedang Zara tatap dengan sungguh-sungguh. Punggungku kusandarkan ke belakang, mencoba mencari posisi duduk yang nyaman agar bisa fokus melihat ke depan.
Namun, gagal.
Sebab lagi-lagi tatapanku malah berlari ke arah kiri, memusatkan perhatian pada gadis yang wajahnya kini sedang disinari cahaya redup dari panggung. Seorang gadis yang netra gelapnya tampak sesekali mengikuti gerakan para penari dengan penuh konsentrasi, terlihat sangat takut untuk melewatkan satu gerakan pun.
Alisnya sedikit terangkat saat musik berubah, tatapannya pun ke sana-kemari mengikuti lengkungan gerakan balerina di panggung.
Senyumanku terbit di bawah gelapnya langit-langit ruangan.
“Serius banget nontonnya,” komentarku dalam hati.
Suara musik yang berubah menjadi lebih tenang dan penuh perasaan, membuatku terpancing untuk kembali menatap panggung. Rupanya adegan telah berubah.
Kini, seorang pebalet pria tengah melangkah mendekati balerina berpakaian putih dan bermahkota indah. Mereka adalah Pangeran Siegfried dan Odette.
Siegfried bergerak perlahan mendekati Odette yang berdiri di bawah cahaya kebiruan—yang bagaikan cahaya bulan di danau. Gerakan mereka pelan, hati-hati, dan tampak ragu—bagaikan dua orang yang masih belum memercayai perasaan mereka sendiri.
Odette memutar tubuhnya dengan gerakan lembut, lengannya membentuk garis panjang seperti sayap. Ia tampak begitu rapuh, seolah setiap gerakan kakinya yang halus menceritakan tentang kutukan yang mengikatnya.
Siegfried mengulurkan tangan dengan gerakan perlahan. Gerakan yang tidak menuntut untuk segera disambut, melainkan gerakan yang menawarkan rasa aman dan kepercayaan.
Odette menghabiskan beberapa detik dalam dekapan ragu, sampai kemudian memberanikan diri untuk melangkah mendekat.
Kala tangan mereka akhirnya bertemu, musik orkestra pun naik sedikit. Nada biola mengalun panjang, lembut memanjakan telinga tapi penuh emosi yang meremas dada.
Dalam gerakan tarian itu, Siegfried menyampaikan sebuah janji.
Janji bahwa ia akan mencintai Odette.
Janji bahwa ia akan setia kepadanya.
Siegfried pun berdiri di depan Odette, tubuh tegapnya tampak seperti sedang melindungi sang putri angsa dari dunia luar. Gerakan mereka menyatu, intim, dan lembut—setiap langkah dan putaran bagaikan irama musik yang merdu.