Cermin di hadapanku yang agak berembun menampilkan sesosok pria yang tampak segar dan rapi. Pria itu baru selesai mandi, dan kini sudah berpakaian lengkap. Ia mengenakan kaus hitam berlengan pendek dan celana jeans berwarna biru muda.
Aku mengambil sepasang anting hoop perak yang duduk bersebelahan di atas meja wastafel, kemudian memasangkannya ke telinga kanan dan kiriku secara bergantian.
Merasa sedikit terganggu dengan embun yang menghiasi muka cermin, aku pun mengusapkan telapak tanganku di sana. Mengusir pergi tetesan air itu, sehingga pantulan wujudku di cermin dapat terlihat dengan lebih jelas.
Dan kini, cermin besar berbentuk segi empat itu tengah menampilkan wajah yang termenung.
“Penampilanku ... hmmm, apakah sudah cukup?”
Tatapanku jatuh ke atas meja kayu, tepatnya menuju seuntai kalung yang duduk bersandar di pinggir wastafel putih nan kotak. Kalung dengan rantai tipis berwarna perak dan liontin salib berukiran halus. Kalung itu tampak berkilauan, terbanjiri cahaya dari lampu yang menempel di langit-langit kamar mandi.
Jemariku menggapai kalung itu—
“—Hei, Diego! Kamu mandi atau bangun rumah, sih? Lama banget!” Omelan dari balik pintu mengagetkanku.
Aku membalas, “Sabar, sabar. Sebentar lagi!” lalu dengan cepat mengambil kalung itu dan memakainya di leher. Hanya dalam beberapa detik, liontin salib itu pun jatuh ke dadaku.
Aku menoleh ke cermin sekali lagi. Memandangi pantulan diriku sendiri di permukaan mengilapnya. Ujung jariku terangkat, menyentuh pelan liontin kalungku. Tatapku datar. Tiada seulas senyum di sana, tapi marah dan sendu pun tak hadir menggantikannya.
Hanya sebuah rasa yang ... biasa. Polos, seperti sehelai handuk putih yang tergantung di kapstok.
Jariku bergerak menjauh, jatuh ke pinggir tubuh. Setelahnya, aku berbalik badan, berjalan keluar dari kamar mandi bernuansa krim dan cokelat kayu ini.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, yang kulihat pertama kali adalah Samuel yang sedang telungkup di atas kasur—dengan posisi kepala menghadap televisi yang mati—sambil senyum-senyum tidak jelas. Satu tangannya mendekap bantal, satunya lagi menempelkan ponsel ke telinga.
“Iya, Sayang. Tunggu aku, ya. Nanti kita sarapan sama-sama.”
Sungguh menggelikan.
“Hei, Samuel! Mandi sana!” titahku. “Tadi aja nyuruh aku buru-buru.”
Samuel menoleh, menyengir lebar. Kemudian kembali berbicara di telepon, “Teleponnya aku tutup dulu, ya? Aku mau mandi dulu.”
Aku bersedekap. Ya ampun, mau mandi saja harus berpamitan dulu?
“Iya, Sayang. Bye ...!” Samuel pun menjauhkan ponselnya dari telinga, tapi tak kunjung beranjak dari kasur.
“Udah, sana mandi! Aku mau beresin kasur, nih.” Langsung saja kutarik bantal yang sedang didekapnya.
“Aduduh. Sabar, dong, Kawan!”
“Hm. Hm. Pergilah, mandi yang bersih dan wangi. Biar Maria, si ‘Sayang’ itu, gak kabur kebauan pas ketemu kamu nanti,” ujarku sambil membereskan tempat tidur. Menata seprai putih, selimut cokelat bermotif garis-garis, dan bantal-bantal bersarung putih dengan serapi mungkin.
“Heh, sejak kapan aku bau?!” omel Samuel.
Bukannya segera mandi, pria yang hatinya sedang dipenuhi taman bunga itu malah duduk di kursi dekat jendela. Ponsel dipegang dengan kedua tangannya.
Oh, dia pasti sedang saling berkirim pesan dengan Maria sekarang. Maklum, pasangan baru—sedang “hangat-hangatnya”.
“Oh, iya, kamu mau aku traktir apa?” tanya Samuel tiba-tiba.
“Traktir?”
“Iya. ‘Kan kemarin sore aku udah janji mau traktir kamu apa pun—kalau Maria mau jadi pacarku.”
“Oh—yang itu. Terserahlah.”
Samuel berdecak sebal. “Yang bener, kamu maunya apa?”
Aku, yang baru saja selesai merapikan tempat tidur, berjalan menghampiri kursi lain—yang bersebelahan dengan kursi Samuel dan juga berada dekat dengan jendela—dan duduk di sana. “Belum tau. Liat nanti, deh.”
Samuel geleng-geleng kepala. Ia pun menaruh ponselnya di atas meja bundar yang membatasi kursi kami, lalu beranjak pergi. “Ya udahlah,” katanya pasrah, kemudian masuk ke kamar mandi.
Sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela—yang terbuka sebagian, membuatku tertarik untuk bangkit dari kursi. Tubuhku merapat ke dinding di bawah jendela, dengan kedua tangan memegangi bingkai jendela dan wajah yang tertunduk melihat pemandangan.
Suasana Hotel Saray pada pukul tujuh pagi masihlah sepi. Di bawah sana; area halaman, kolam, dan tempat bersantai hanya diisi oleh satu-dua orang yang hilir-mudik.
Tentu masih sesepi ini, karena aku yakin, para tamu lain pasti masihlah asyik terlelap di atas kasur masing-masing.
Tadinya, aku dan Samuel pun masih ingin malas-malasan di atas kasur, bahkan mungkin lanjut tertidur sampai—paling tidak—pukul sepuluh. Apalagi, kami baru akan check-out dari hotel ini pukul dua belas siang nanti.
Akan tetapi, karena aku ingat betul kalau Zara selalu sarapan di jam yang sangat pagi, maka aku pun menguatkan diri untuk bangun pukul setengah tujuh dan bergegas mandi. Bahkan, sebelum masuk ke kamar mandi, aku tergerak untuk membangunkan Samuel dan memintanya untuk membangunkan Maria melalui telepon terlebih dahulu.
“Hoam ....” Aku menutup mulut dengan tangan, menahan kuapan yang nyaris lolos sembarangan.
Mengantuk, sungguh aku mengantuk sekali.
Ditambah lagi, semalam aku, Zara, Maria, dan Samuel baru kembali ke hotel pada pukul satu dini hari—jadilah kami tidur hanya sekitar lima jam tadi malam. Ya, kami baru pulang dari taman dan area bianglala itu pada pukul satu, sebab setelah turun dari bianglala, kami menyempatkan waktu untuk lanjut jalan-jalan santai terlebih dahulu.
Bianglala, ya ....
Senyumanku terukir perlahan, ketika kenangan adegan semalam muncul di kepala tanpa bisa kucegah.
Tadi malam, aku dan Zara keluar dari bianglala sambil ditemani keheningan. Senyum tipis sama-sama menghiasi wajah kami, tapi tak ada satu pun dari kami yang sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Perasaanku campur aduk tidak keruan. Ada rasa senang, gugup, juga sebercak kekhawatiran. Karena nyatanya, janji Zara semalam tidak benar-benar membuatku tenang.
Bayangan bahwa suatu hari nanti ia akan pulang ke Indonesia, membuat kakiku sulit untuk melangkah.
Situasi itu benar-benar kontras dengan Maria dan Samuel yang mendatangi kami sambil bergandengan dengan mesra. Wajah mereka ceria. Ada rona merah yang muncul malu-malu menemani kehadiran senyuman bibir mereka.
Yah ... memikirkan itu, membuatku jadi berandai-andai.
Bisakah nanti, pada akhirnya aku dan Zara akan berjumpa lagi—setelah sebelumnya dipisahkan oleh benua dan samudra, sebagaimana Maria dan Samuel yang akhirnya bisa bersatu—setelah sebelumnya terjebak dalam situasi rumit bernama “cinta di tengah persahabatan”?
Ya, ya. Pasti bisa. Aku harus yakin.
Tidak ada yang tidak mungkin di kehidupan ini. Ya, ‘kan?
Dulu saja, sahabat priaku itu sering kali curhat tentang Maria. Samuel bercerita bahwa sebetulnya dia sudah lama menyukai Maria, hanya saja terhalang rasa canggung dan ragu—sebab dia dan Maria sudah terlalu lama bersahabat.
Samuel bahkan sempat berkali-kali putus asa, mencoba untuk move on dan mengencani wanita lain saja, meski pada akhirnya dia menyerah juga. Maksudku, dia menyerah pada kenyataan bahwa dia tidak akan bisa menghilangkan perasaan sukanya pada Maria.
Dan, lihat saja sekarang, pada akhirnya mereka bisa bersama, ‘kan?
Memang, sejak zaman kuliah dulu—yang mana itu sudah sembilan tahun yang lalu, aku sudah bisa menebak ada sesuatu di antara mereka. Sudah kuterka bahwa dua manusia itu pasti saling menyimpan rasa.
Namun, mereka sama-sama terjebak dalam keraguan dan malah berkencan dengan orang lain.
Aku sampai muak sendiri menyaksikan kisah cinta mereka.
Yang satu curhat terus tapi tidak berani mengungkapkan rasa, satunya lagi memberi kode terus tapi tidak mau menunjukkan perasaannya dengan jelas.
Untung saja sekarang mereka sudah “resmi” berpacaran, jadi aku tak perlu berpusing-ria menyaksikan “kelakuan” mereka lagi.
“Hm-hm-hm-hm~” Dehaman bernada itu terdengar bersamaan dengan munculnya suara pintu yang terbuka. Bahkan kemudian disusul dengan mengalunnya nyanyian dari mulut Samuel.
Apa yang Samuel nyanyikan?
Tentu saja lagu romantis!
Aku menoleh ke belakang, memandangi sahabatku yang sedang menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya dengan penuh bersemangat. Wajahnya cerah sekali. Saking cerahnya, bahkan sampai membuat sinar matahari merasa kalah.
Aku menyilangkan kedua kaki dan bersedekap di depan jendela, berusaha menyelamatkan sinar matahari dari rasa malu akibat kekalahannya itu. Batinku berkata, “Yah, kalau aku jadi Samuel, aku juga pasti bakal sebahagia itu, sih.”
“Hoi! Ceria amat tuh muka!” seruku padanya.
“Iya, dong, ‘kan udah punya pacar. Pacarannya sama perempuan yang kusuka dari dulu, pula.” Samuel mengambil sisir dari atas meja, lalu menatapku sejenak untuk mengatakan, “Kamu kapan?”
“Heh?!” Kedua alisku bertautan. “Kapan apaan?”
“Punya pacar baru, lah. Masa habis putus dari pacar yang dulu, gak move on dan pacaran sama yang baru, sih?” Samuel menghentikan kegiatannya menyisir rambut sejenak. Lagi-lagi ia menatap ke arahku sambil melanjutkan ucapannya, “Atau jangan-jangan kamu kayak aku, ya, rasa sukanya udah habis di satu perempuan? Makanya tiap nyoba kencan sama yang baru, ujung-ujungnya gak sampe pacaran.”
Sialan! Kenapa dia malah membahas kencan-kencanku yang berakhir gagal itu?!
“Kalau gitu balikan aja, sana, sama Georgina!”
Aku langsung melemparnya dengan bantal mini yang ada di atas kursi. “Gila aja! Dia ‘kan udah jadi pacar orang!” omelku kesal. “Lagian aku udah move on dari dia.” Bahkan sudah sejak lama.
Makanya, setelahnya aku pun mencoba untuk berkencan dengan wanita-wanita lain. Entah itu dengan wanita yang kukenal di lokasi syuting—saat ada pekerjaan yang mengharuskanku hadir di sana, kenalan lama yang satu almamater kampus denganku, wanita asing yang kutemui di kelab, ataupun wanita yang “kutemukan” di situs kencan online.
Ya ... meskipun tak ada satu pun dari “percobaan” itu yang berhasil, sih.
“Kalau begitu ... pacarannya sama yang tadi malam aja.”
“Hah? Siapa?” Apa lagi, sih, si Samuel ini?
Dia menaik-turunkan kedua alisnya sambil menatapku dengan sorot usil. “Itu, loh ... yang kamu ajak nonton Swan Lake bareng, makan malam bareng, terus naik bianglala bareng.” Kini, giliran dia yang memandangku sambil bersedekap. “Emangnya kamu pikir, aku gak sadar sama tingkahmu akhir-akhir ini?”
Sontak saja aku membalikkan badan, memilih membuang pandangan ke luar jendela. “Aku cuma ....” Sial, kenapa aku jadi gugup begini?! “Aku cuma mau menghabiskan waktu dengan sahabat baruku. Emangnya gak boleh? Lagian, gak lama lagi, ‘kan, Zara bakalan pulang ke Indonesia. Jadi, apa salahnya kalau aku mau melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan bersama dengannya?”
“Wuih, santai, Kawan! Gak usah panik gitu, dong!”
Aku mengambil bantal mini di kursi satunya lagi, lalu segera melemparkannya ke arah Samuel. “Sialan, kau!” ujarku sebal.
“Wuahahaha!”
***
Saat ini, kami berempat sedang duduk di kursi rotan di dalam restoran Hotel Saray. Aku duduk di sebelah kanan, tepat di samping tangga menuju area makan atas—sebab kami duduk di area makan bawah. Jadi tiap kali ada tamu yang turun tangga setelah selesai makan, pasti secara tak sengaja aku akan bertatapan dengannya. Di hadapanku ada Zara, gadis berjilbab soft pink yang kini sedang mengunyah roti lapis sayurannya dengan tidak bersemangat.
Aku mengernyitkan dahi. Menerka-nerka kiranya apa yang sedang mengganggu pikiran Zara saat ini. Lamunan itu membuat garpuku hanya berputar-putar tidak jelas di antara kenyalnya hidangan spageti bolognese yang kupesan.
Ah, mendadak pasta bersaus daging merah ini membuatku tak berselera makan. Parutan keju di atasnya pun tak berhasil menggodaku untuk segera melahapnya.
Tiba-tiba, Zara menatap tepat ke mataku. Melihatku sedang memperhatikan dirinya, dia pun jadi urung memasukkan roti lapis ke dalam mulutnya lagi. Alis kirinya terangkat, mengajukan tanya dengan bermalas-malasan.
Tapi aku hanya mampu tersenyum tipis, juga menggeleng pelan. Gelas kopi amerikanoku kuraih untuk kuteguk isinya, lalu kuletakkan lagi di atas meja kayu yang membatasi kami.
Pikiranku kembali dipenuhi olehnya, “Dia ini ... sebenarnya sedang kenapa, sih?”
Aku mengedarkan pandangan, mencoba mencari jawaban di sapuan cat putih yang melapisi dinding, di setiap jarak kaki-kaki meja yang berwarna hitam, jua di gemerlap lampu bola-bola kaca. Namun, bahkan cahaya hangat dari lampu yang menggantung itu tak mampu memberiku penerangan.
Aku nyaris akan menyerah, mencoba kembali memasukkan untaian pasta ke mulutku. Sampai ketika rasa gurih dan asam pasta itu memenuhi lidahku, mataku yang liar pun menangkap sesuatu. Hiasan dinding berukiran motif geometris, hiasan berbentuk bundar yang rupanya sangat khas Moorish.
“Apa mungkin ...,” Tatapku terlempar ke arah Zara lagi, “... dia sedang mencemaskan makanan yang dihidangkan di sini?”
Makanya, dia jadi memesan makanan yang sedikit dan terkesan “asal-asalan” sekali. Makanan yang menurutnya paling aman untuk dia pesan, tapi sayangnya tak mampu untuk membangkitkan selera makannya.
Tapi, ‘kan ....
Aku melirik sekitarku lagi. Rasa-rasanya, restoran ini sangat menampilkan corak Andalusia. Deretan nama makanan yang ada di menu, pun, kelihatannya aman. Jadi, seharusnya makanan-makanan yang ada di sini sudah pasti halal, ‘kan—
—Eh, tunggu dulu.
Aku menengok ke sebelah kiriku, tepat di mana Samuel sedang mendapat suapan manis dari Maria. Suapan dari mangkuk di hadapan Maria yang berisikan sup dingin khas Spanyol, salmorejo. Sup berwarna oranye kemerahan, bertekstur kental dan creamy, juga ber-topping potongan telur rebus dan ... serrano ham.
Serrano ham itu daging babi.
Zara pasti sempat sangat mencermati buku menu yang sebelumnya kami lihat, makanya dia jadi secemas itu.
“Aku harus gimana, ya?” tanyaku dalam hati, sambil menatap Zara yang sedang meminum jus jeruknya.
Gadis itu tiba-tiba menatap ke arahku lagi. Kali ini, aku memutuskan untuk memberi lirikan sekilas ke arah roti lapis di atas piringnya, lalu kembali menatapnya. Seakan paham dengan maksud tindakanku, Zara pun menyampaikan responsnya.
Senyuman.
Ya, hanya senyuman. Senyuman yang tidak mengurangi kekhawatiran dalam hatiku sedikit pun.
“Mau coba ini?” Itu suara Samuel. Dia sedang menawarkan roti lapisnya pada Maria.
Ya, dia juga memesan roti lapis seperti Zara. Hanya saja, miliknya berisikan ayam dan bacon.
“Mau,” sahut Maria. Ia pun mencondongkan tubuh ke depan, memberi kemudahan pada Samuel untuk menyuapinya.
Melihat interaksi manis mereka, perasaanku jadi sedikit terhibur.