Kami pulang dari Fuente de las Batallas sekitar pukul empat sore. Begitu sampai di hotel, aku dan Maria langsung masuk ke kamar kami. Entahlah dengan Diego dan Samuel. Mungkin mereka juga langsung masuk ke kamar mereka. Aku tidak tahu, karena tadi aku buru-buru menarik tangan Maria untuk pulang dan masuk ke kamar, sebab aku sedang terkena “masalah genting”. Masalah yang hanya dipahami oleh wanita. Masalah yang mungkin pernah dialami oleh wanita mana pun ketika mereka sedang datang bulan.
Namun, sekarang masalah itu telah teratasi. Dan kini, aku sedang rebahan dengan nyaman di atas sofa balkon kamar hotelku. Novel Mrs Dalloway terbuka dalam genggaman kedua tangan, halaman-halaman terakhirnya sedang ditelusuri oleh mataku—dibaca kata demi kata.
Pandanganku perlahan naik, lalu bergeser ke kanan untuk memperhatikan warna langit. Birunya puncak langit masihlah cerah, tapi di pinggirannya, mulai muncul semburat emas dan kekuningan yang menggantung hangat.
Aku menyalakan ponsel, melihat bahwa rupanya kini telah masuk pukul tujuh malam. Ya, sekarang ini sudah malam, tapi matahari di Spanyol belum benar-benar turun. Bahkan, sejam yang lalu barulah masuk waktu salat asar. Sungguh berbeda dengan suasana pukul tujuh malam di Indonesia.
Aku mematikan ponsel, lalu menaruhnya di dekat sandaran sofa. Tak ingin kegiatan membacaku terhambat oleh benda elektronik itu. Apalagi, novel yang sedang kupegang ini sudah hampir selesai aku baca. Aku hanya perlu fokus pada tulisan-tulisan di depanku ini beberapa menit lagi.
Tapi—ah, sulit sekali.
Novel ini bagus, tapi terasa agak “penuh di kepala”. Aku jadi butuh waktu yang lebih lama dari biasanya untuk bisa menyelesaikan novel ini. Ditambah lagi, ini adalah kali pertama aku kembali membaca buku fiksi, setelah menghabiskan waktu nyaris dua bulan hanya berkutat dengan buku sejarah—yang kubaca sejak aku mulai menulis blog edisi Spanyol—tepatnya Granada—ku.
Kalau saja di siang hari pada akhir bulan April itu Diego tidak membawaku ke toko buku Re-Read Granada, aku pasti tidak akan bisa membaca buku fiksi dalam waktu dekat. Sebab buku-buku fiksi yang aku punya, semuanya aku tinggalkan di Indonesia. Hanya buku-buku yang “berguna” untuk tulisan blog-kulah yang kubawa ke negeri asing ini.
Pandanganku naik lagi, melewati kertas-kertas usang dari buku bekas yang sedang kupegang ini, melirik sekilas ke arah balkon kamar Diego dan Samuel yang memang berada tepat di sebelah kiri balkon kamarku dan Maria. Dari posisiku yang masih rebahan di atas sofa beige ini, aku tak dapat melihat dengan jelas ke arah balkon itu. Karena meskipun posisi rebahanku sedang menghadap lurus ke arah balkon kamar Diego, tapi ada pembatas yang berupa tembok rendah dan kaca buram tinggi yang memisahkan balkon kami.
Perlahan, wujud kaca buram tinggi itu menghilang. Digantikan dengan munculnya bayangan Diego.
Diego yang sedang berdiri di depan pintu kamar hotelku sambil menyerahkan sebuah bungkusan. Sarapan untukku. Yang dia cari sendiri dari resto halal di Zaidín.
Diego, yang hanya tersenyum setelah aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Yang tidak berkata apa-apa lagi setelah menyatakan tujuannya mengetuk pintu kamar hotelku tadi pagi, yang kemudian pergi menuju kamar hotelnya sendiri—sambil diiringi tatapanku.
Juga Diego, yang tadi siang makan bersamaku di bawah naungan payung oktagonal putih.
Diego.
...
“Astaghfirullah,” bisikku pelan. Buru-buru kuganti posisiku jadi duduk bersandar di sofa. “Ngapain, sih, aku?”
“Fokus, Zara, fokus!” Telapak tanganku memukul pelan keningku. Merutuki diri karena lagi-lagi terdistraksi dari buku yang sedang kubaca,
... gara-gara terbayang Diego, pula.
“Astaghfirullah, Zara ... ih! Ngapain, sih, kamu?!”
Aku mengangkat novelku tinggi-tinggi, menghadapkannya tepat di depan wajahku. Agar mataku bisa fokus pada cetakan tulisan berwarna hitam di dalamnya, dan tidak berlari ke mana-mana lagi.
Deretan kalimat di novel Mrs Dalloway itu pun kembali aku baca. Tenggelam aku di dalamnya. Hingga beberapa saat setelahnya, kata terakhir dan titik terakhir dalam novel tersebut sampai di mataku, membuatku akhirnya dapat menutup halaman terakhir itu.
Novel karya Virginia Woolf itu pun kulempar pelan ke dudukan sofa di sebelahku. Sementara itu, sambil memeluk lutut, mataku memandang lesu ke arah jendela-jendela dari bangunan tinggi yang berdiri di seberang Hotel Meliá.
Aku menghela napas panjang. Sedang mencerna novel yang baru saja selesai aku baca. Sedang meraba-raba perasaan yang timbul setelah munculnya titik terakhir itu.
Rasanya ... benar-benar “penuh”.
Rasanya aku baru saja membaca banyak hal sekaligus, padahal tidak ada yang benar-benar “terjadi”.
Setelah merasa puas memandang kosong ke arah deretan bangunan di hadapanku, aku pun kembali menyalakan ponsel. Jemariku menelusuri layar datar benda persegi panjang itu, mencari-cari aplikasi yang sudah lama tidak aku buka.
Ikonnya masih sama. Polos, berwarna biru tua, dengan gambar pensil berwarna putih yang menghiasinya dengan sederhana.
Aku mengetuk aplikasi catatan bacaan itu.
Daftar lama yang kususun sejak bertahun-tahun lalu itu pun muncul kembali ke hadapan mataku. Isinya sudah banyak sekali. Ratusan judul novel dengan nama penulisnya berderetan mengikuti nomor urut. “Mereka semua” diurutkan berdasarkan waktu bacaan.
Aku menggulir daftar itu dengan cepat, lalu menekan tombol edit. Jemariku mengetikkan nomor baru di bagian paling bawah, lalu menuliskan judul novel yang baru saja selesai kubaca di samping nomor terbaru itu. Nama penulisnya pun tak lupa kucantumkan.
Selesai.
Jari-jari tanganku masih menggantung di layar. Aku tidak langsung menutup daftar bacaan fiksi itu. Sebaliknya, aku justru menggulir lagi, kali ini ke bawah—untuk melihat daftar lama yang pernah kubuat.
Di tengah deretan itu, ada satu nama yang membuat gerakanku terhenti.
Denna.
Aku terdiam selama sepersekian detik.
Sudah lama aku tidak melihat nama itu. Padahal, dulu aku cukup sering membaca novel buatannya. Baik novelnya yang sudah terbit dan tersedia di toko buku mana pun—di Indonesia, ataupun novelnya yang belum terbit dan masih berstatus on going di aplikasi menulis dan membaca novel online.
Namun, novelnya yang terakhir kali kubaca adalah novel online yang belum terbit itu. Ya ... pada saat itu, sih, novelnya yang satu itu masih berstatus on going dan belum terbit. Tapi tidak tahu, deh, kalau sekarang bagaimana.
Jemariku kembali bergerak di layar, memutuskan untuk menutup aplikasi catatan bacaan itu. Hingga kemudian, mataku menangkap ikon aplikasi novel online yang dulu sering aku gunakan.
Aku ingin membuka aplikasi itu untuk mengecek apakah novel Denna yang terakhir kubaca sudah terbit atau masih on going. Selain itu, aku juga ingin sambil mengecek apakah dia sudah menulis karya-karya baru lagi atau belum.
Jemariku menggantung di atas layar ponsel, agak ragu ingin melakukan itu sekarang. Sebab pikiranku masih dikuasai oleh novel yang baru saja selesai aku baca. Dan sepertinya, aku tidak sanggup kalau harus menambah beban pikiranku dengan membaca novel berjenis “berat dan dalam” semacam itu lagi.
Jadilah, aku memutuskan untuk mematikan ponselku saja. Sambil menggenggam benda elektronik itu dengan tangan kananku, aku meraih novel Mrs Dalloway menggunakan tangan yang satunya. Kemudian, aku pun beranjak dari sofa, lalu melewati pintu balkon untuk masuk kembali ke kamarku.
***
Sekitar satu jam setelahnya, pada pukul delapan malam, kami berempat bertolak dari Hotel Meliá ke arah selatan, lebih tepatnya menuju sebuah department store yang berada di distrik Realejo. Sesampainya di sana, kami memilih untuk mengeksplorasi toko serba ada tersebut dari lantai paling atasnya terlebih dahulu.
Lantai paling atas di toko itu adalah area buku. Rak-rak buku kayu berwarna cokelat muda, dengan bentuk persegi yang memanjang ke sepanjang tembok dan menjulang ke atas, juga dengan bentuk bulat yang mengisi tempat di tengah-tengah ruangan; masing-masing mencuat dari lantai kayu berwarna cokelat tua.
Aku melangkah pelan, membelai deretan buku-buku itu baik dengan jemariku maupun pandanganku. Warna-warna cantik dari sampulnya begitu memanjakan mata, tapi juga membuatku mengernyitkan dahi sebab tak adanya plastik yang membungkus mereka.
Waktu itu, ketika aku, Diego, dan Abue mendatangi Re-Read Granada, fenomena semacam ini juga aku temukan. Tapi pada saat itu aku tak terlalu heran, sebab buku-buku yang dijual di Re-Read Granada adalah buku-buku bekas.
Namun, mengapa buku-buku baru di sini juga tidak terlindungi bungkus plastik?
Sungguh mengherankan.
“Kamu mau beli buku yang mana, Zara?”
Aku terkesiap, kaget karena sebuah suara yang tiba-tiba terdengar itu. Ketika aku berbalik ke belakang, kulihat Diego—dengan setelan pakaiannya yang nyaris sama dengan yang dipakainya tadi siang—tengah berdiri menghadapku dengan senyum mengembang di wajahnya.
Warna cokelat pada rambut bergelombangnya jadi semakin terlihat, sebab jauh di atas kepalanya, menyala lampu-lampu yang membawakan cahaya putih terang. Cahaya itu juga memberi gerlap pada matanya yang besar dan berwarna cokelat tua, membuat mata yang menyerupai kacang almon itu jadi begitu menarik perhatian.
Alis tebal yang berbentuk lurus dan sedikit melengkung tajam di ujungnya itu tampak naik sebelah, disusul terdengarnya suara dari pemilik yang sama, “Hei? Kok malah bengong, sih?”
“Hah? Eh—nggak, gak apa-apa.” Buru-buru aku berbalik dan mengalihkan pandangan; kembali menghunjamkan tatap ke arah buku-buku bersampul merah muda, ungu, dan cokelat di depanku.
Jari-jariku yang mendadak agak gemetar menelusuri permukaan sampul buku-buku itu. Kusentuh satu-satu pada bagian judulnya yang sedikit timbul, seakan sedang mengabsen tiap-tiap judul—padahal aku bahkan tak paham pada kata yang tertulis di sana.
Sampai kemudian, jemari lain ikut menempel di salah satu sampul buku. Kehadiran jemari yang ukurannya lebih besar dari punyaku itu, pun, membuat pergerakan jariku langsung terhenti. Aku menoleh ke kanan, mengangkat pandangan, dan menemukan Diego sedang berdiri di sebelahku.
“Mau kubantu carikan buku untukmu?” tawarnya, dengan senyum yang kembali mengembang.
“Eum ....” Aku menggeleng. Menunduk, memilih untuk menatap ke arah buku-buku yang diletakkan di rak paling bawah dibandingkan wajah Diego. “Di sini bukunya kebanyakan berbahasa Spanyol. Kalaupun ada yang berbahasa Inggris, pasti jenis bukunya gak cocok sama apa yang aku mau. Aku jadi ngerasa ragu buat beli,” kataku kemudian.
“Gak apa-apa. Beli aja yang berbahasa Spanyol, biar kamu bisa sekalian belajar bahasanya nanti. Nah, sekarang, coba ikut aku dulu sebentar.”
Aku langsung menghadap ke kanan lagi, tapi Diego sudah menghilang—berjalan pergi. Segera saja kususul langkahnya, sambil bertanya, “Ke mana?”
“Ikut aja. Gak jauh, kok.” Dan benar saja, tak sampai satu menit setelah berkata demikian, Diego berhenti di depan tumpukan buku yang dijajar di atas sebuah dudukan besar dan lebar.
Aku memosisikan diri di sebelah kanannya, berdiri sedikit jauh agar tubuh kami tidak terlalu berdekatan.
Pandangan Diego tertunduk ke arah tumpukan buku bersampul warna-warni dan bergambar ceria yang ada di hadapan kami. “Kamu coba beli buku anak-anak aja dulu. Soalnya bahasa Spanyol yang ada di buku cerita anak, ‘kan, strukturnya belum terlalu susah. Di dalamnya juga belum ada kata-kata yang rumit,” ujarnya.
Tangan kananku meraih salah satu buku. Sebuah buku yang di sampulnya terdapat gambar langit malam, bulan purnama besar, anak perempuan berambut biru dan bermata cokelat terang yang sedang naik skuter bersama seekor kucing hitam, dan deretan rumah yang lampu-lampunya tampak menyala.
“Boleh, deh, aku mau coba baca buku yang ini ...,” Aku membuka buku itu, melihat-lihat isi di dalamnya. “... tapi nanti pas aku baca ini, kamu sambil ajarin aku, ya? Soalnya, ‘kan, aku sama sekali belum paham bahasa Spanyol.”
“Oke, dengan senang hati.”
Eh? Sebentar ....
Aku menoleh ke kiri. Dan tepat setelah melihat senyuman aneh yang Diego lemparkan kepadaku, barulah aku menyadari sesuatu.
Kenapa juga harus Diego yang kumintai tolong?
“Gak jadi, deh. Aku minta tolong ke Maria aja,” ucapku, sesegera mungkin setelah kesadaran itu menghampiriku.
“Emang kenapa kalau sama aku? Aku juga bisa, kok, ngajarin kamu.”
“Hmm ....” Ya, tidak salah, sih. Memang benar. Memang, dia juga bisa mengajariku.
Akan tetapi, tetap saja ....
Aduh, aku harus jawab apa? Aku tidak mempunyai alasan yang bagus yang bisa aku berikan padanya.
Karena aku tak kunjung menyampaikan alasan mengapa aku tiba-tiba tidak mau diajari olehnya, pria yang kini memakai jaket denim di luar kaus hitamnya itu pun berkata, “Udahlah, sama aku aja.”
Aku tersenyum tipis. “Iya, deh.”
Diego tampak tersenyum senang mendengar responsku. Lalu, setelah aku mengambil satu buku cerita anak lagi, pria Spanyol itu pun memintaku untuk menemaninya melihat-lihat buku seni—meninggalkan Maria dan Samuel yang sejak tadi sibuk berduaan di depan rak novel romansa.
Sepanjang perjalanan menuju rak buku seni itu, aku termenung.
Kenapa aku mau-mau saja menuruti permintaan Diego?
Aku, ‘kan, tidak akan paham juga dengan buku yang ingin dibeli Diego. Pun, pastinya Diego sudah lebih mengenal tempat ini dibandingkan diriku—mengingat identitasnya yang merupakan pria Granada, jadi harusnya dia tidak memerlukan kehadiranku selama masa pencarian buku yang dia inginkan itu.
“Awas, nabrak!” Lengan kanan Diego terbentang di hadapanku secara tiba-tiba, membuatku langsung menghentikan langkah.
Aku mengerjapkan kedua mata. Bingung dan kaget, karena baru menyadari bahwa rupanya kami sudah tiba di depan rak buku seni itu dan aku hampir saja menabrak salah satu rak kayunya.
“Bengong lagi. Kenapa, sih? Lagi capek? Lemes? Mau aku anter balik aja, gak, ke hotel?” tawar Diego.
Aku langsung menggeleng. “Nggak, nggak. Aku baik-baik aja, kok.”
Karena bukan itu masalahnya.
Bukan, bukan yang itu. Melainkan yang lain.
Yang lain ... sesuatu yang aneh.
“Ya udah. Bentar, ya, aku cari buku yang mau aku beli dulu.”
“Iya.”
Menit-menit setelahnya hanya kuhabiskan dengan melihat buku-buku seni yang besar dan tebal yang dipajang di rak kayu, langit-langit ruangan yang berwarna putih, tulisan-tulisan berbahasa Spanyol yang tak kuketahui artinya, juga Diego yang sibuk menumpuk buku di tangannya.
“Kamu beli bukunya banyak banget,” komentarku, begitu melihat ada lima buku seni yang sedang ia pegang.
“Yang dua ini titipan Samuel, satunya titipan Maria—karena mereka tau aku pasti bakal ke bagian rak ini kalau ke toko buku, dua sisanya baru punyaku. Tapi aku belinya pakai uang Samuel semua, soalnya dia lagi traktir aku—karena udah bantuin rencananya buat nembak Maria sampe berhasil, dan katanya aku boleh beli yang aku mau—apa pun dan berapa pun itu.”
“Wah, Samuel baik sekali.” Aku jadi teringat kelakuan Diego akhir-akhir ini yang sering memberiku ini dan itu. Membayari tiket teater, membayari kamar hotel—meski Maria dan Samuel pun diperlakukan sama, dan membelikan makanan juga.
Mengingat hal tersebut, aku jadi berpikir, apakah pria Spanyol memang seroyal itu?
“Ya, dia memang sahabat yang baik. Maria juga. Makanya persahabatan kami bisa tetap awet sejak masa kuliah sampai sekarang.”
“Kalau gitu, kamu jangan ledekin mereka lagi, dong! Udah ditraktir, masa masih ngeledek, sih?”
“Biarin aja. Soalnya mereka alay, sih. Emang pantes diledekin.”
Aku menutup mulut, menahan tawa. “Ih, parah banget!”
Berbeda denganku, Diego malah tertawa dengan terlampau santai. Sampai-sampai aku harus menegurnya agar tidak tertawa terlalu keras.
Yah ... meskipun tempat ini adalah toko buku dan bukan perpustakaan, tapi tetap saja ... biasanya orang yang suka membaca buku itu, orang yang juga menyukai ketenangan, bukan?
Setelah merasa puas melihat-lihat dan memilih-milih buku, kami berempat pun berjalan bersama menuju kasir untuk membayar belanjaan buku kami. Seusai itu, kami turun ke lantai dua untuk menuju area pakaian.
Begitu sampai di area tersebut, mata kami langsung disuguhi oleh pemandangan baju bayi dan anak-anak yang lucu. Maria dan Samuel langsung berjalan cepat—mendekat ke arah tempat baju-baju mungil itu dipajang. Melihat pasangan baru itu menghampiri area tersebut sambil bergandengan tangan dan tertawa dengan ceria, aku dan Diego dengan kompak bersitatap.
“Tuh, ‘kan, Zara! Kubilang juga apa? Mereka memang menggelikan.”
“Jangan gitu! Kayak kamu gak pernah alay aja kalau pacaran,” omelku.
Kami lanjut berjalan, mengikuti arah Maria dan Samuel pergi dengan langkah santai.
Kulihat Diego memandangiku dengan kedua alis yang bertaut. “Emang kamu tau kalau aku pernah punya pacar?”
“Ya ... nggak, sih. Tapi kupikir, kayaknya gak mungkin juga kalau kamu gak pernah pacaran.”
“Maksudnya?” Kebingungan semakin menyelimuti wajah Diego, tapi aku tak berkeinginan untuk menjawab rasa bingungnya itu.
Maka dari itu, aku hanya mengendikkan bahu, lalu berjalan mendahului Diego untuk menghampiri Maria dan Samuel. Pasangan manis itu kini tengah memegangi sebuah baju mungil berwarna abu-abu dan sebuah rok pendek berwarna putih nan bertabur gambar bunga biru-merah yang juga mungil. Sepertinya itu setelan pakaian untuk anak perempuan.
Diego yang kemudian menyusul, langsung mengomentari kelakuan Maria dan Samuel begitu sampai di dekat kami, “Heh, Sinting! Baru sehari pacaran, udah milih-milih baju bayi aja!”
Samuel menoleh singkat, lalu kembali fokus dengan pakaian mungil di tangannya sambil berkata, “Kenapa, sih? Iri, ya? Makanya, pacaran sana!”
Diego berdengkus sebal, lalu pergi menjauh dari pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Karena tidak mau menjadi nyamuk di antara mereka, aku pun memilih untuk mengikuti langkah Diego saja. Aku tak tahu dia akan berjalan ke area pakaian yang mana. Tapi yang jelas, begitu tiba di pinggir area pakaian bayi dan anak-anak, pria itu malah berhenti melangkah.
Tangan kirinya yang terbebas dari tas belanja tampak menyentuh pelan salah satu setelan baju bayi perempuan; sebuah blus putih kecil berkerah bundar dengan lis biru tua, yang dipadukan dengan bloomer kotak-kotak biru kehijauan yang mengembang manis di bagian paha. Sebuah setelan yang menggemaskan, yang akan menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.
“Aku pengen banget punya anak perempuan,” katanya pelan.
“Emang udah nemu calon ibunya?” Pertanyaan itu tidak kurencanakan, sungguh! Aku saja kaget pada mulutku sendiri.
Diego menoleh padaku. Tersenyum. “Udah, kok.”
Karena sudah telanjur bertanya yang aneh-aneh, sekalian saja kulanjutkan, “Siapa?” tanyaku iseng.
Diego tak langsung menjawab. Ia justru memperlebar senyumannya, membuang pandangan ke arah lain, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. “Rahasia,” katanya kemudian.
Aku mematung di tempatku berdiri, memandangi punggung Diego yang semakin menjauh dengan tangan kiri yang menggenggam tali tas belanja dengan erat.
Kepalaku sibuk mencerna banyak hal.
Jawaban Diego, hal yang sedang terjadi saat ini,
... juga perasaanku sendiri.
“Hei, tungguin kami, dong!” seru Maria dari arah belakang, membuatku jadi tersadar dan langsung berusaha untuk mengembalikan fokusku lagi.
Begitu ia dan Samuel berhasil menyusulku, pun kami sudah lanjut jalan bertiga dengan beriringan—sebab Diego berjalan beberapa langkah di depan kami, aku berkata, “Gak jadi beli baju bayinya?”
“Nggak, lah. ‘Kan bayinya aja belum dibik—”
“—Samuel ...!” tegur Diego.
Samuel dan Maria langsung tertawa, sedangkan aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah manusia-manusia di sekitarku ini.
“Sayangku Maria, ayo kita masuk duluan aja! Aku males kalau kita harus deket-deket sama dua nyamuk ini terus. Yuk!” Samuel menarik tangan Maria. Kemudian, mereka pun berjalan cepat memasuki area pakaian pria—membuatku dan Diego langsung menghentikan langkah sebab tercengang.
Bisa-bisanya dua manusia itu terang-terangan mengatai kami!
“Ternyata betul apa katamu,” ucapku sambil menghampiri Diego.
“‘Kan udah bilang,” balas Diego. Saat kami tengah melanjutkan langkah bersama—memasuki area yang dihampiri Maria dan Samuel, ia mengeluh, “Pasangan itu benar-benar mengiritasi mataku.”
“Mataku juga.”
Aku menoleh pada Diego, Diego juga menoleh ke arahku. Kami pun tertawa bersama.
Tawa kami mereda begitu kami memasuki area pakaian pria. Melihat pajangan setelan pakaian untuk orang yang jenis kelaminnya berbeda untukku itu, membuatku jadi mengernyitkan dahi.
Sebetulnya aku tak mengerti mengapa aku malah ikut-ikutan masuk ke sini, tapi karena kupikir para sahabatku pun sedang ada di sini, jadilah aku memilih untuk terus lanjut saja.
Di salah satu sudut ruangan, kulihat Maria sedang memilihkan kemeja untuk Samuel. Ia mengangkat kemeja biru keunguan di tangannya tinggi-tinggi—sambil menyejajarkannya dengan tubuh Samuel, mencoba melihat apakah kemeja tersebut cocok atau tidak untuk dipakai oleh kekasihnya itu.
“Wah, cocok banget, deh, warnanya. Kamu jadi keliatan makin tampan kalau pakai ini,” komentar Maria.
Samuel tersenyum lebar. Tampak gembira sekali. Saking gembiranya, ia sampai mendaratkan ciuman singkat di pipi kiri Maria. Melihat adegan yang tak ramah untuk jomlo itu, aku pun memilih untuk kabur ke tempat mana pun yang aku bisa.
“Daripada kabur, mending kamu bantuin aku buat milih baju aja, deh. Lebih bermanfaat.”
Aku menengok ke belakang, melihat bahwa Diego sedang mengekoriku. “Bermanfaat buat siapa? Aku gak ngerasa itu bermanfaat buatku, tuh,” sahutku.
“Yah,” Diego menghentikan langkahnya. Ia bersedekap, matanya melihat ke sembarang arah—tampak sedang berpikir keras. “bermanfaat ... buatku?” Dia malah terdengar seperti tidak yakin dengan perkataannya sendiri.
Aku terus berjalan, hampir keluar dari area pakaian pria ini. Kutinggalkan pria Granada itu di belakangku. “Nggak, ah. Mending aku keluar dari sini dan nyari es cincau aja,” kataku asbun.
“Duh, jadi kangen es cincau, nih, aku. Apa aku pulang ke Indonesia besok aja, ya?” Nah, ‘kan. Otakku mulai ngaco.
“Es cincau? Apa itu?”
“Udahlah, kamu gak bakal ngerti juga kalo aku kasih tau.”
“Ya udah, daripada ngomongin hal yang gak bakal aku ngerti, mending kamu bantuin aku buat pilih baju.”
“Gak ma—”
“—Udah, ayo!” Diego menarik tas belanjaanku, membuatku jadi otomatis mengikuti ke mana pun kakinya melangkah.
“Kamu tuh nyebelin, ya?!” omelku sambil bersedekap, begitu kami tiba di depan tempat khusus jaket-jaket pria dipajang.
“Iya, emang. Tapi, ‘kan, kamu juga sama,” balasnya.
“Enteng banget tuh lidah!” gerutuku dalam hati.
“Kamu tuh—”
“—Sssttt! Jangan berisik, Zara! Nanti diliatin orang-orang, loh.” Diego menunjuk salah satu manekin yang berada di dekat kami. “Mending kamu liat pakaian di manekin itu aja, deh! Cocok gak kalau aku pakai itu?”
Aku mendelik sebal, tetapi tetap memperhatikan pakaian yang kini sedang dipakai oleh si manekin. Manekin tanpa kepala itu tampak mengenakan sweter tipis warna abu terang yang dipadukan dengan jaket kulit hitam beritsleting penuh di depan, juga sebuah celana slim fit warna abu gelap yang bermotif garis tipis.
Sambil masih bersedekap dan memasang ekspresi kesal, aku menjawab, “Sweter sama jaketnya, sih, bagus. Cocok. Tapi celananya keliatan aneh.”
Diego tersenyum lebar. Lebar sekali sampai gigi-gigi depannya yang putih itu kelihatan semua. “Oke. Aku bakal ambil dulu sweter sama jaketnya. Buat celananya, nanti kita cari lagi aja.”
“Kita?!” Aku menaikkan sebelah alisku.