Mata Diego, yang cokelat tuanya menyerupai atap Sala de las Dos Hermanas, sampai detik ini masih tertuju ke arahku. Ada binar yang terpancar dari sepasang mata itu. Binar yang tak benar-benar kupahami maksudnya.
Mungkin penantian, mungkin pula kekhawatiran.
Atau justru ... rasa tidak nyaman?
“Hola, Diego. ¿Qué tal?”
Ucapan berbahasa Spanyol itu seakan menyadarkan Diego dari lamunannya, membuat pria tersebut langsung memutus pandangannya dariku. Ia menoleh, tersenyum tipis pada wanita bermata hazel kehijauan yang tengah menatapnya dengan ramah.
“Bien,” balas Diego. Ia kembali menatapku. Tapi hanya sekilas, sebab setelahnya ia kembali menoleh ke arah wanita itu. Dan mengatakan sesuatu yang nadanya seperti seperti sebuah pertanyaan, “¿Qué haces aquí?”
Enggan mengganggu obrolan mereka, aku pun melangkah mundur dengan perlahan. Tatapanku bahkan sudah berlari pergi, menghampiri Maria dan Samuel yang tampak terpaku memandangi kami dari depan Sala de las Dos Hermanas.
Sepatu loafer nude krimku mengetuk-ngetuk lantai marmer Patio de los Leones, membawaku menjauh dari sepasang muda-mudi Spanyol yang tengah bercengkerama itu.
Namun, baru beberapa langkah kakiku pergi, suara Diego malah mencuri perhatian indra pendengaranku. Pun penglihatanku. Sebab begitu suaranya terdengar, kepalaku langsung menoleh ke arahnya. Mataku langsung mencari matanya.
“Mau ke mana?” tanya Diego.
“Sala de las Dos Hermanas,” jawabku.
“Nanti aja, bareng aku. Kemarilah dulu,” pintanya.
Aku melarikan pandang ke bawah. Menekuri marmer putih, berusaha mencari ketenangan dari lantai yang mengilau itu. Tapi mataku malah menangkap noda-noda kecokelatan di marmer tersebut, sebagaimana noda-noda rasa tak nyaman telah mulai menggelayuti hatiku.
“Wah, siapa itu?” Suara wanita tadi ikut terdengar. “Diego, kenapa kamu enggak memperkenalkan dia padaku?”
Ia pun berseru, “Hei, Nona! Kemarilah dulu, kita mengobrol sebentar!”
Kugenggam tali tasku erat-erat. Lalu, dengan berat hati, aku pun kembali menghampiri Diego dan wanita tadi. Senyum kusimpulkan di wajah kala mata kami bertiga telah saling bersitatap.
Oh, sungguh, amatlah cantik wanita yang sedang berdiri di samping Diego ini!
Matanya yang berbentuk almon itu dihiasi bulu mata tebal nan lentik dan alis yang melengkung lembut, hidungnya ramping-lurus dan berujung kecil, dan bibirnya—yang tebal dan penuh itu—tampak menawan sekali dibalut lipstik warna nude-rose.
Bibir itu menyuguhkan senyuman indah, menyambut kedatanganku dengan begitu ramah. “Perkenalkan, namaku Georgina Salas,” katanya, memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangan kanannya padaku.
Aku menyambut uluran tangan itu, menjabatnya dengan lembut—takut merusak tangan halus itu. “Namaku Zara Medina,” balasku, ikut memperkenalkan diri sambil memasang senyuman ramah—seramah yang aku bisa.
“Aku baru pertama kali melihatmu di sini. Kamu asalnya dari mana?” tanya Georgina, begitu jabat tangan kami terlepas.
“Aku dari Indonesia. Ini kali pertamaku datang ke Spanyol.”
Wanita dengan dagu kecil dan rahang ramping itu memandangku dengan antusias. Alis pirangnya yang melengkung lembut bahkan sampai sedikit menukik ke atas. “Oh, ya? Terus, udah berapa lama kamu ada di sini?”
“Berapa, ya?” Mendadak otakku berjalan dengan lambat. Aku bahkan tak bisa mengingat sudah berapa lama aku ada di sini.
Ingatan itu sirna, jatuh tertumpuk di bawah kecamuk pikiran-pikiran yang menghantui kepalaku.
“Masuk bulan kedua,” Diego yang menjawab.
“Wah! Udah lumayan lama, ya? Gimana? Betah, gak, tinggal di sini?”
Aku mengangguk. Tatapanku kemudian mengalir dari wajah Georgina menuju pakaian yang sedang dikenakannya. Dress kotak merah-hitam itu mengingatkanku akan awal kedatanganku ke Spanyol yang bisa dibilang cukup kelam.
Pertemuan dan perkenalanku dengan Diego benar-benar berlangsung dengan sinis dan penuh drama, tak semulus rupa rambut pirangnya Georgina yang gelombang ringannya jatuh dengan halus ke kedua sisi lengannya.
“Oh, ya, berarti kamu tinggalnya di ...—”
“—Di penginapanku,” jawab Diego, memotong pertanyaan yang sedang Georgina lontarkan.
Wanita berpostur tinggi semampai itu semakin cerah rona wajahnya. Keceriaan itu semakin melipatgandakan kecantikan yang terpancar dari keseluruhan dirinya.
“Penginapanmu?! Ya ampun, aku jadi rindu pada Abue!” Georgina menyentuh lengan kiri Diego, memegangnya dengan erat dan bersemangat. “Hei, Abue apa kabar?”
Diego, yang entah mengapa air mukanya tampak berbeda sejak beberapa menit lalu, terlihat berusaha untuk tetap ramah ketika menjawab, “Abue baik-baik saja. Dia sehat dan bahagia—” Pria itu tiba-tiba saja menatap ke arahku. Memandangiku dengan senyuman yang terbit di wajahnya. “—Apalagi setelah Zara hadir di tengah-tengah kehidupan kami.”
Aku termangu mendengarnya.
Dan sepertinya bukan hanya aku yang tak menyangka akan mendengar jawaban semacam itu dari mulut Diego, tetapi Georgina juga. Sebab wanita itu sempat terbengong sebentar, sebelum akhirnya berhasil menguasai ekspresi wajahnya kembali.
Ia tersenyum. Senyumannya lebar, tapi bukan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi. Senyumannya hanya terdiri dari lengkungan bibir yang cukup lebar, tetapi mengatup rapat dan tampak manis sekali. Ada binar cerah, yang tak kupahami maknanya, yang kini sedang bergelora di kedua mata hazel kehijauan itu.
Kedua mata, yang ... sedang menatap lekat ke arah Diego.
“Aku rindu sekali pada Abue. Aku ingin bertemu dengannya lagi; ingin mengobrol bersama di sofanya yang nyaman, memasak bersama di dapur bernuansa koralnya, juga tertawa bersamanya lagi di balkonnya yang penuh dengan tanaman hias itu,” ujar Georgina.
Rinci sekali.
Mereka pasti pernah menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lama dan intensitas yang rutin, dulunya.
Iya, dulu.
Sebelum aku datang ke negeri ini.
Kenangan hangat nan manis itu pasti telah melekat rekat di benak mereka, orang-orang yang mengalaminya.
Georgina, Abue, dan tentu saja ... Diego.
Kedua sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis. Setipis rasa perih yang perlahan mulai menjalari hatiku.
Rasa perih yang tak kukenali asal muasalnya, tapi begitu kurasai keberadaannya.
“Sayangnya, aku di Granada ini cuma sebentar, sih—cuma buat liburan sekaligus mengunjungi orang tuaku.”
“Memangnya selama ini kamu nggak tinggal di kota ini?” tanyaku.
Georgina menggelengkan kepalanya, membuat rambutnya yang pirang dan bergelombang itu jadi bergoyang halus. “Udah sejak lulus SMA aku pindah ke Madrid, tapi keluargaku masih tetap di Granada ini.”
Aku sedikit merasa penasaran dengan alasan kepindahannya ke Madrid itu, tapi aku tak berani untuk bertanya lebih lanjut. Takut dianggap “terlalu ingin tahu”.
Namun, sepertinya Georgina peka akan rasa penasaranku. Sebab ia lantas tersenyum dan berkata, “Aku kerja jadi model dan pemain film, Zara. Dan pekerjaan semacam itu, akan lebih terasa keuntungan dan kenikmatannya bila diraih di kota besar seperti Madrid.”
Secara spontan, pandanganku mengitari penampilan Georgina. Mulai dari rambut pirang bergelombangnya yang tampak terawat dengan sempurna, hingga heels pendek hitam yang membungkus kakinya yang bersih nan mulus itu.
Aku mengangguk mengerti.
“Pantas saja dia cantik sekali,” tuturku dalam hati.
“Jadi, sekarang kamu lagi gak ada jadwal syuting film?” tanyaku, berusaha melanjutkan obrolan, meskipun sebenarnya gelombang kelelahan telah mulai menerjangku.
“Iya, lagi gak ada, makanya aku jadi bisa pulang ke Granada untuk berlibur. Tapi sayangnya, ini hari terakhirku bisa liburan di sini. Soalnya besok aku udah harus balik lagi ke Madrid buat mengurusi proyek film baru,” ungkap Georgina, membuatku menganggukkan kepala usai mendengar penjelasannya.
Kepalaku sudah tertunduk lagi, kesadaranku sudah akan “lari” dari interaksi ini. Akan tetapi, suara Georgina yang kembali terdengar membuatku refleks mengangkat kepala.
“Omong-omong, aku gak nyangka, deh ...,” kata wanita cantik itu, sembari memandangi Diego dengan senyuman manis yang terpatri di wajahnya, “... kalau setelah putus dariku, kamu bakal pacaran dengan wanita yang ‘tertutup’ seperti ini. Apakah usia dewasa telah mengubah seleramu, Diego?”
Hah?
Pacar? Wanita tertutup?
Maksudnya aku?
“Bukan!” bantahku dengan cepat, sambil kepalaku memutar satu fakta yang baru saja aku ketahui.
Jadi, Georgina itu mantan pacarnya Diego?
Pantas saja ....
“Aku bukan pacarnya. Kami cuma teman,” kataku lagi, memperjelas bantahanku sebelumnya.
“Ya, benar. Kami hanya teman, Georgina, hanya teman!” sambung Diego, sambil menekankan dua kata terakhir yang ia ucapkan.
Aku tertegun. Berdiri terdiam, dengan pandangan yang memandang heran ke arah Diego. Rahang pria itu mengeras, kedua matanya menyala tajam sekali. Dan alisnya ... menukik dalam, mempersembahkan rengutan yang begitu kentara. Air mukanya yang sejak tadi memang terlihat kurang nyaman, kini jadi semakin keruh—bak orang yang perasaannya tengah jatuh memburuk saja.
Tapi mengapa?
Mengapa dia tampak kesal begitu?
Apakah karena ... sebetulnya Diego masih mencintai Georgina, makanya dia jadi takut kalau wanita itu akan salah paham—karena melihat interaksi kami berdua?
“Yah ... sepertinya memang demikian.” Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan kecamuk perasaan aneh yang sejak tadi sibuk mencengkeram hatiku ini.
Akan tetapi, kalaupun benar seperti itu, lalu apa makna dari ekspresi Diego sebelumnya? Apa arti dari ekspresinya itu, ekspresi yang ia perlihatkan, beberapa saat setelah ia dipeluk dan dicium oleh Georgina itu?
Apakah ekspresi itu adalah ekspresi rasa malunya, yang muncul sebab dia merasa tak nyaman disentuh “seakrab” itu oleh seorang wanita, di saat ia sedang berada di hadapanku?
“Ya, ya, baiklah ... aku paham, kok.” Mataku kembali menghampiri Georgina. Dan, berbeda dengan Diego yang tampak merengut menahan kesal, wajah wanita itu justru dilengkapi senyuman yang percaya diri. Senyuman yang menjadi pengiring kata-kata yang ia ucapkan kemudian, “Sangat-sangat paham.”
Mataku berpindah-pindah dari senyuman Georgina ke rengutan Diego.
Kemudian, kebingungan dan rasa penasaran ini pun membawaku ada sebuah gagasan gila,
Apakah mungkin, justru sebetulnya Diego takut akulah yang cemburu?
Namun, mengapa pria itu harus berpikir demikian? Dia, ‘kan, tidak menyukaiku.
Lagi pula, kenapa juga aku harus cemburu? Aku, ‘kan, juga tidak menyukai Diego.
Kami berdua hanyalah teman. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi sahabat, sekarang.
Ya, hubungan kami hanya sebatas itu. Jadi, tentu saja di antara kami tidak ada yang namanya rasa suka ataupun cemburu—
“—Zara, boleh tolong fotoin kami?”
“Hah?!”
Georgina tersenyum. Ekspresinya biasa saja, tetap ramah seperti sebelumnya. Tak ada pertanda dia merasa bertanya-tanya akan keterkejutan yang baru saja lolos dari bibirku ini. “Iya, buat kenang-kenangan, dong. Soalnya, ‘kan, kami jarang banget ketemu. Padahal selain pernah bersama sebagai sepasang kekasih, dulunya kami ini teman sekelas semasa SMP dan SMA, loh!” ujarnya, sambil membuka tas—sepertinya ingin mengambil ponsel.
Aku buru-buru mengambil ponselku. “Jadi pertemuan ini bisa dibilang reuni kecil-kecilan, ya?” ucapku, sambil memberi kode bahwa biar ponselku saja yang kugunakan untuk memotret mereka.
“Iya!” sahut Georgina dengan ceria.
“Gak usah, lah,” tolak Diego.
“Udahlah, gak apa-apa. Kalian, ‘kan, dulunya teman semasa sekolah. Jadi anggap aja ini foto reunian,” kataku sembari mengangkat ponsel, bersiap untuk mengambil gambar.
“Coba, deh, kalian berdirinya tepat di depan Air Mancur Singa-nya.” Aku berjalan ke pinggir, bergeser pelan ke arah kanan. Lalu kembali memberi instruksi, “Coba geser lagi! Lebih ke tengah, biar Sala de las Dos Hermanas bisa jadi latar belakang foto kalian.”
Georgina langsung menurut. Wanita bergaun kotak merah-hitam itu menggerakkan kedua kakinya yang terbalut heels pendek hitam untuk bergeser, agar posisi mereka bisa lebih pas berada di tengah-tengah Sala de las Dos Hermanas.
Namun, Diego diam saja. Matanya yang cokelat tua malah memandangku dengan penuh amarah. Tatapan nyalangnya itu membuatku nyaris saja menjatuhkan ponsel ke atas marmer—saking takutnya.
Tapi aku mengalihkan pandangan, berusaha mengabaikan tatapan yang dilingkupi oleh rasa kesal itu. “Cepat, dong, Diego! Aku pegal, nih, pegang ponsel terus,” omelku, dengan suara yang nyaris saja terdengar bergetar.
“Sini, dong!” Georgina yang merasa gemas, pun, menarik lengan Diego agar ia berdiri lebih dekat dengannya.
Jadilah, kini, wanita bergaun kotak merah-hitam dan pria berkaus beige muda itu pun berdiri berdampingan tepat di depan Air Mancur Singa—dengan Sala de las Dos Hermanas yang berdiri memanjang dengan anggun menjadi latar belakang mereka.
Melalui layar ponselku, kutatap kedua insan rupawan itu. Lengan Georgina belum beranjak dari tubuh Diego, justru kini tampak merangkul lengan pria itu dengan santai. Ia melingkarkan lengannya ke lengan Diego yang terbalut jaket denim krim itu. Tubuhnya yang langsing dan cantik itu pun merapat ke sisi Diego dengan begitu rileks, seakan itu adalah tempat yang biasa ia tempati.
Georgina tersenyum lebar. Bibirnya yang dihiasi lipstik nude-rose itu bagaikan mawar berwarna pucat yang tengah merekah. Perpaduan kulit cerahnya dengan pemilihan warna pakaian dan makeup-nya benar-benar berhasil menonjolkan kecantikannya; membuatnya tak tampak kusam walau di belakangnya menjulang bangunan berwarna cokelat tanah yang dipadu cokelat tua.
“Senyum, Diego,” pintaku, sebab pria itu masih saja tampak kaku dan kesal.
Usai Diego berhasil sedikit melunakkan ekspresi wajahnya, aku pun menekan tombol kamera dengan cepat—langsung mengambil beberapa gambar sekaligus, kemudian menjauhkan ponsel dari depan wajahku untuk menatap sepasang mantan kekasih itu.
“Cukup? Atau mau lagi?”
“Cukup, Zara. Setelah ini kita harus lanjut jalan lagi. Lagi pula, Samuel dan Maria pasti sudah menunggu kita sejak tadi,” jawab Diego, sambil melepaskan rangkulan Georgina di lengan kirinya.
“Eh, iya ....” Aku lantas tersenyum canggung pada Georgina. “Georgina, nanti fotonya aku kirim ke Diego, ya? Biar dia yang kirim ke kamu.”
“Berarti nanti mereka akan berkomunikasi lagi, dong?” cetusku dalam hati.
“Oke. Makasih, ya, Zara!” Georgina berjalan mendekat padaku, kembali menyalamiku. “Kamu baik dan cantik sekali. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti.”
“Lalu kenapa? Bukankah itu bukanlah urusanku?”
Aku mengangguk dan kembali tersenyum untuk merespons pujiannya padaku. Kemudian bertanya, “Apa kamu udah mau pulang?”
“Entah mereka nantinya berkomunikasi lagi, bertemu lagi, atau menjadi sepasang kekasih lagi, pun, seharusnya itu tidak menjadi masalah buatku.”
“Iya, nih, aku harus segera pulang, soalnya habis ini mau ada acara sama keluargaku. Mau quality time bersama, sebelum aku kembali ke Madrid besok.” Wanita itu menyentuh bahu kiriku dengan pelan. “Nanti, kapan-kapan, aku akan main ke rumah Diego. Aku udah kangen banget dengan tempat itu, ingin bertemu dengan Abue juga. Semoga pas aku datang nanti, kamu belum pulang ke Indonesia, ya!”
“Seharusnya aku tidak merasa kenapa-kenapa. Ya, karena, memangnya kenapa?”
Aku tertawa kecil. “Iya. Semoga kita bisa ketemu lagi.”
“Itu urusan Diego dan Georgina, bukan? Diego dan Georgina—mantan pacarnya. Jadi, tentu saja tidak ada sangkut pautnya denganku ...,”
Kini Georgina beralih memandang Diego. Ia melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Diego! Salam untuk Abue, Maria, dan Samuel, ya?!”
“... yang hanyalah temannya.”
Diego mengangguk mengiyakan. Maka Georgina pun pergi dari hadapan kami, menjauh dari aku dan Diego, yang kini berdiri canggung di atas marmer Patio de los Leones.
Angin sore berembus pelan, menggoyang-goyangkan ujung outer beige muda dan kerudung dusty-rose yang aku kenakan, membawa sedikit kesejukan kepada tempat yang sempat dilingkupi hawa panas ini.
Kami berdiri berhadapan meski jarak kami tak terlalu dekat. Diego tepat di dekat Air Mancur Singa, sedangkan aku berada beberapa langkah di depannya. Mata pria itu tertuju padaku, sorotnya tajam dan gelap. Sudah bukan amarah lagi, kini emosi lain pun berkelebat di iris matanya. Emosinya rumit, bercampur, dan tak dapat aku pahami.
Jadilah aku membuang pandang, memilih untuk mendongak ke atas, memandangi langit di atas kepala kami. Langit yang kini warna birunya mulai tampak sedikit pucat, dengan tak satu pun awan yang menghiasi. Puncak pohon-pohon yang mencuat dari balik Sala de los Reyes bergerak pelan, seakan menggantikan tugas para awan untuk menemani langit sore ini.
Mataku bergeser lagi, kini memandang ke arah Sala de los Reyes yang berada di sebelah kananku, yang di bawah kolom-kolom penuh ukirannya, kini tengah diramaikan oleh para pengunjung yang sedang menikmati keindahannya. Langkah kaki para pengunjung yang ada di sana, yang ada di Sala de los Abencerrajes—yang berada di belakangku, yang ada di Sala de los Mocárabes—yang berada di sebelah kiriku, dan yang ada di sekitar Patio de los Leones ini terdengar bagai bersahut-sahutan.
Percakapan mereka yang terdengar dalam berbagai bahasa pun sampai ke telingaku, mengisi bergantian dengan suara kamera ponsel dan gemercik air dari Air Mancur Singa.
Sepatuku masih diam menapak di atas marmer putih. Tak bergerak sedikit pun. Hanya tatapanku yang terus melangkah pergi, bergeser ke sana-sini, sampai akhirnya ia menemui fasad Sala de las Dos Hermanas yang membentang panjang dengan begitu eloknya.
Di depan fasad itu, berdiri deretan kolom ramping yang berjumlah banyak dan tampak amat tipis. Sementara itu, di bagian atasnya terdapat menara kecil berbentuk persegi dengan jendela lengkung terbuka. Bangunan beratap genteng tanah liat warna cokelat tua itu terlihat mewah, tetapi penuh wibawa.
Apalagi, tak jauh di depannya berdiri Air Mancur Singa dengan anggun. Air mancur itu berbentuk baskom bundar besar yang ditopang oleh dua belas patung singa marmer. Marmernya berwarna putih kusam dengan sedikit noda kecokelatan yang menempel padanya akibat pergeseran zaman. Permukaan marmernya pun tampak halus, walau sudut-sudutnya sudah tak terlalu tajam lagi sebab telah terkikis oleh waktu.
Dan, di depan air mancur yang tepiannya dihiasi prasasti karya Ibnu Zamrak itu, sedang berdiri seorang pria, yang tampaknya sejak tadi belum juga beranjak dari perasaan rumitnya. Diego masih terpaku di sana, tatapannya jatuh tepat ke sepasang netraku.
Aku tak tahu apakah sejak tadi ia tetap memandangiku, atau ikut mengedarkan pandang ke sekitar sebagaimana yang dilakukan aku, tapi yang jelas ... begitu pandangan kami bertemu, ia perlahan berjalan menjauhi Air Mancur Singa itu.
“Ayo, kita masuk. Maria dan Samuel pasti sudah menunggu kita di dalam sana,” ujarnya, sambil terus berjalan di atas marmer halaman yang licin, putih, dan memantulkan cahaya matahari sore itu.
Aku menghela napas. Lalu, dengan hati yang masih memikul beban sesak yang tak kumengerti, aku pun menyusul langkah Diego untuk memasuki Sala de las Dos Hermanas.
Begitu sampai di dalam bangunan yang bentuknya melebar itu, mataku langsung dianugerahi dengan keindahan kubah muqarnas-nya. Langit-langit kubahnya yang berbentuk seperti stalaktit itu selalu berhasil memberi penghiburan pada hatiku.
Dari bawah sini, langit-langit itu bukan hanya tampak seperti stalaktit yang rumit, tapi juga menyerupai bunga raksasa yang seolah sedang mekar di atas kepala kami. Hanya saja, bunga raksasa itu terlihat agak tajam, sebab susunan bunganya terdiri dari ratusan—bahkan mungkin ribuan—bentuk geometris kecil.
Aku memperhatikan jendela-jendela kecil yang terpasang di tiap-tiap bawah kubah. Masing-masing sisi bawah itu diisi dengan sepasang jendela yang permukaannya berhias ukiran berpola geometris, membuat cahaya yang masuk jadi lebih terkontrol tingkat cerahnya, sehingga ruangan gading keemasan ini pun jadi dapat berkilau dengan sempurna.
Motif tumbuhan, arabesque, motif jalinan seperti anyaman, dan pola geometris yang lebih rumit dan rapat juga menghiasi dinding-dinding ruangan. Motif dan pola tersebut memenuhi permukaan dinding yang terbagi menjadi bidang-bidang besar, masing-masing dipisahkan oleh pita-pita kaligrafi bertuliskan “wa la ghalib illa Allah”.
Berbeda dengan suasana di Patio de los Leones tadi yang lebih terbuka dan ramai, suasana ruangan di dalam Sala de las Dos Hermanas ini lebih tertutup dan sunyi. Suara langkah kakiku, Diego, beserta para pengunjung lain pun terdengar lebih bergema di sini.
Dan karena itulah, keheningan yang menyelimutiku dan Diego ini jadi terasa makin mencekik.
Aku melangkah perlahan, melanjutkan kegiatan menyusuri ruangan ini sambil memandangi pria yang tengah berjalan di depanku. Pria berambut cokelat tua itu tak menoleh barang sekalipun, apalagi mengeluarkan sepatah kata. Bahkan, di saat akhirnya ia berhenti melangkahkan kaki, ia tetap tak mengindahkan kehadiranku sedikit pun, membuat tangan kananku jadi tergerak untuk meremas sisi rok span moka susu yang kini kukenakan.
Saking kencangnya remasan tanganku, aku sampai sempat berpikir kalau mungkin saja kain rokku akan kusut akibat remasan itu. Tapi aku tetap tak peduli.
Aku tak peduli, bahkan meskipun tajamnya kuku tanganku akan menembus kain rok dan melukai telapak tanganku.
Aku tak peduli!
Aku hanya ingin pria itu menoleh ke sini, melihat mataku lagi. Aku ingin dia berjalan di sampingku seperti sebelumnya, bukan di depanku terus-terusan seperti ini.
Kepalaku mendongak ke atas, menatap langit-langit kubah muqarnas yang cantik jelita itu lagi. Yang penuh pola dan ukiran, yang bentuknya rumit namun memanjakan mata itu. Aku juga mengedarkan pandang ke sana-kemari, mengelilingi ruangan yang dindingnya penuh dengan ukiran rumit nan elok ini.
Kupandangi semuanya, segala hal di dalam ruangan ini; yang indah, tetapi tak kupahami maknanya sama sekali.
Padahal sebelumnya, Diego pasti akan menjelaskan kepadaku mengenai segala keindahan arsitektur ini.
Harusnya sekarang juga begitu.
Harusnya sekarang dia menjelaskan kepadaku arti tiap-tiap sudut kubah muqarnas itu.