Debum bola yang menghantam semen lapangan terdengar seperti ledakan kecil di tengah cuaca panas yang menyengat. Debu tipis beterbangan, beradu dengan aroma rumput kering dan keringat ratusan pria berseragam yang memenuhi pinggir lapangan voli Batalyon. Teriakan yel-yel membahana, menciptakan atmosfer yang begitu maskulin dan kaku, namun entah mengapa, Aluna merasa jantungnya berdetak jauh lebih kencang daripada genderang yang dipukul para prajurit di sisi kiri.
"Masuk!" teriak wasit dibarengi tiupan peluit yang melengking.
Aluna berjengit kecil di kursinya. Ia duduk di jajaran kursi VIP, tepat di sebelah ayahnya, Pak Raharja, yang tampak gagah dengan seragam dinas hariannya. Di sekeliling mereka, para perwira menengah sibuk berdiskusi kecil sambil sesekali bertepuk tangan. Aluna sebenarnya sudah bosan. Baginya, kunjungan ke batalyon ayahnya selalu berarti satu hal: protokol yang membosankan dan senyum sopan yang melelahkan. Namun, pagi ini berbeda.
"Hebat juga anggota baru itu, ya, Pak Raharja," ucap seorang pria di sebelah ayahnya, Kolonel Gunawan.
"Siapa? Sersan Adrian?" sahut Pak Raharja sambil menyipitkan mata, menatap ke arah lapangan. "Dia memang atlet andalan di divisinya. Disiplinnya luar biasa."
Aluna diam-diam mencuri dengar. Matanya segera memindai lapangan, mencari sosok yang baru saja disebut. Di sana, di tengah lapangan yang panas, seorang pria berdiri dengan posisi siap. Kaus olahraganya yang berwarna hijau lumut basah kuyup oleh keringat, menempel ketat di tubuhnya yang tegap dan atletis. Rambut cepaknya basah, dan wajahnya... Aluna menahan napas sejenak.
Wajah itu tidak tersenyum. Dingin, datar, namun memiliki ketajaman yang menghujam. Rahangnya yang tegas mengatup rapat, menunjukkan konsentrasi penuh. Namanya Adrian. Sersan Adrian.
Bola kembali melambung. Tim lawan melakukan servis yang cukup tajam, namun Adrian bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia melompat, mengejar bola yang hampir menyentuh tanah, dan melakukan dig sempurna. Bola melambung tinggi, siap untuk diumpan kembali. Saat rekan setimnya memberikan umpan manis, Adrian kembali melesat.
Kali ini, ia melompat sangat tinggi. Otot-otot lengannya menegang saat ia menarik tangan kanannya ke belakang. Untuk beberapa detik yang terasa sangat lambat bagi Aluna, Adrian seolah berhenti di udara, menantang gravitasi dengan tatapan yang mengunci target di seberang net.
Brak!
Spike keras itu menghantam lantai lawan tanpa sempat dibendung. Lapangan pecah oleh sorakan. Para prajurit berhamburan merayakan poin kemenangan, namun Adrian hanya mengusap keringat di dahinya dengan ujung kaus, lalu kembali ke posisi semula tanpa ekspresi berlebihan. Tidak ada selebrasi gila. Hanya sebuah anggukan kecil pada rekan setimnya.
"Sangat tenang," gumam Aluna tanpa sadar.
Pak Raharja menoleh, menatap putrinya dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa, Aluna? Kamu bilang tadi malas ikut Papa karena panas?"
Aluna tersentak, pipinya mendadak terasa lebih panas daripada suhu udara di sekitarnya. "Ah, itu... maksud Aluna, permainannya memang seru, Pa. Ternyata nonton voli lebih asyik daripada duduk di kantor Papa."
Pak Raharja terkekeh, tidak menyadari binar yang berbeda di mata putrinya. "Itu Sersan Adrian. Dia memang menonjol. Bukan cuma fisiknya, tapi mentalnya juga baja. Anak buah yang jarang mengeluh."