Elegi untuk Cinta yang Terlambat

Deeasha
Chapter #2

Misi Mencari Informasi

Layar ponsel yang menyala di tengah kegelapan kamar memantulkan cahaya biru ke wajah Aluna. Sudah dua jam ia bergelut dengan kolom pencarian Instagram, namun hasilnya nihil. Jemarinya lincah mengetikkan berbagai kombinasi nama: Adrian, Adrian TNI, Adrian Batalyon, hingga Sersan Adrian. Hasil yang muncul hanyalah deretan akun pria bernama Adrian yang sama sekali tidak mirip dengan pria kaku yang ia temui di lapangan voli beberapa hari lalu.


Aluna menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tumpukan bantal. Langit-langit kamarnya seolah berubah menjadi lapangan voli dengan sosok bernomor punggung tujuh yang sedang melompat tinggi. Tatapan tajam itu, suara baritonnya yang singkat, dan caranya mengabaikan Aluna benar-benar menghantui pikirannya.


"Masa pria sezaman sekarang nggak punya media sosial sih?" gerutu Aluna pada bantal gulingnya. "Atau jangan-jangan dia pakai nama samaran? Atau dia tipe yang menutup diri dari dunia luar?"


Rasa penasaran itu bukannya surut, justru semakin membakar. Aluna bangkit kembali, duduk bersila di atas kasur dengan semangat baru. Ia beralih ke akun resmi Batalyon tempat ayahnya bertugas. Ia mulai menyisir satu per satu foto lama, berharap ada wajah Adrian yang tertangkap kamera dalam kegiatan kedinasan atau olahraga.


Satu foto, dua foto, sepuluh foto... Aluna terus menggulir layar hingga jempolnya terasa pegal. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah unggahan dari tahun lalu. Sebuah foto tim voli Batalyon yang sedang merayakan kemenangan di tingkat daerah. Di pojok kiri belakang, berdiri seorang pria dengan wajah yang jauh lebih muda namun tetap memiliki rahang tegas yang sama.


"Ketemu!" seru Aluna tertahan.


Ia segera memeriksa bagian tag atau tanda di foto tersebut. Sayangnya, tidak ada nama Adrian di sana. Akun Batalyon hanya menandai akun-akun perwira tinggi dan beberapa sponsor. Aluna tidak menyerah. Ia membuka kolom komentar. Ada puluhan komentar berisi ucapan selamat, dan ia mulai membacanya satu per satu.


Mantap, Sersan!

Luar biasa tim voli kita!


Hingga matanya tertuju pada sebuah komentar dari akun bernama @don_pradana: Semangat terus buat Bang @adrian.vltra, spike-nya ngeri!


Jantung Aluna berdegup kencang. `@adrian.vltra`. Nama itu terdengar sangat tidak biasa, jauh dari kata pasaran. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetikkan nama pengguna tersebut di kolom pencarian.


Sebuah akun muncul. Foto profilnya bukan wajah, melainkan siluet seorang pria yang berdiri menghadap senja di tepi pantai. Sangat minimalis. Aluna segera menekan profil tersebut.


"Ya ampun... dikunci," desah Aluna kecewa.


Profil itu diprivat. Hanya ada tulisan Requested jika ia menekan tombol ikuti. Jumlah pengikutnya tidak banyak, hanya sekitar seratus orang, dan ia hanya mengikuti sedikit akun. Biodatanya pun kosong, tidak ada keterangan pangkat, kesatuan, apalagi nomor telepon. Adrian benar-benar membangun benteng, bahkan di dunia maya.


Tok tok tok.


"Aluna, ayo keluar. Makan malam sudah siap," suara ibunya terdengar dari balik pintu.


"Iya, Bu! Sebentar!" sahut Aluna cepat. Ia segera mengunci ponselnya dan menyembunyikannya di bawah bantal, seolah-olah ibunya bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui dinding kayu.

Lihat selengkapnya