Cahaya biru dari layar ponsel malam itu masih membekas dalam ingatan Aluna, bahkan setelah seminggu berlalu. Notifikasi *follow-back* dari akun @adrian.vltra adalah kemenangan kecil yang ia rayakan dengan guling-guling tidak jelas di atas kasur. Namun, setelah seminggu hanya berani mengintip *story* Adrian yang isinya cuma pemandangan lapangan atau kutipan motivasi prajurit, Aluna memutuskan bahwa pergerakan digital saja tidak cukup. Ia butuh aksi nyata.
Pukul setengah lima pagi, saat kabut tipis masih menyelimuti asrama militer dan kicau burung gereja mulai terdengar, dapur rumah dinas Pak Raharja sudah riuh oleh denting spatula. Aluna bergerak lincah di depan kompor. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, wajahnya polos tanpa riasan, namun matanya berbinar penuh semangat.
*Nasi goreng spesial,* batinnya. Ia memasukkan potongan sosis, bakso, dan memberikan bumbu rahasia racikan ibunya. Aroma gurih bawang putih dan cabai segera memenuhi ruangan, mengundang langkah kaki pelan dari arah kamar utama.
"Tumben sekali putri Papa sudah berkutat di dapur jam segini?" Pak Raharja muncul dengan kaus olahraga, tampak siap untuk lari pagi rutinnya.
Aluna tersentak kecil, lalu memberikan cengiran lebar. "Eh, Papa. Iya nih, Pa. Tiba-tiba pengin masak nasi goreng. Kebanyakan kemarin pas bikin, jadi sekalian aja buat sarapan Papa juga."
Pak Raharja menyipitkan mata, menatap kotak bekal berwarna kuning cerah yang sudah disiapkan di atas meja. "Itu buat siapa? Banyak sekali porsinya kalau cuma buat Papa."
"Ah, ini... buat... itu, Pa, buat penjaga di pos depan. Kasihan kan mereka jaga semalaman, pasti lapar," kilah Aluna cepat. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan tutup kotak bekal itu.
Pak Raharja terkekeh, tidak menyadari bahwa jantung anaknya sedang berdegup kencang karena kebohongan kecil itu. "Baguslah kalau kamu punya inisiatif begitu. Berbagi itu baik. Ya sudah, Papa lari dulu ya."
Setelah ayahnya berangkat, Aluna segera menyelesaikan misinya. Ia mandi secepat kilat, mengenakan dress selutut berwarna merah muda pucat yang membuatnya tampak segar, lalu memoleskan sedikit lip balm. Ia tahu Adrian sedang piket di pos jaga utama hari ini; informasi itu ia dapatkan dari menguping pembicaraan ajudan ayahnya kemarin sore.
Langkah kaki Aluna terasa ringan saat menyusuri jalan aspal menuju gerbang utama Batalyon. Jantungnya berdentum lebih keras setiap kali ia mendekat ke bangunan kecil dengan cat hijau tentara itu. Dari kejauhan, ia bisa melihat dua prajurit berdiri tegak. Salah satunya memiliki postur yang sangat ia kenali.
Adrian. Pria itu berdiri dengan sikap sempurna. Seragam PDL-nya tampak sangat rapi tanpa kerutan sedikit pun. Baret hijaunya terpasang miring dengan presisi. Ia sedang memegang papan jalan, mencatat sesuatu dengan wajah yang sangat serius.
"Pagi, Sersan!" sapa Aluna saat jarak mereka tinggal beberapa langkah.
Adrian mendongak. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Aluna. Ada kilatan terkejut yang lewat hanya dalam sepersekian detik sebelum kembali berubah menjadi datar dan dingin. Ia segera meletakkan papan jalannya dan memberikan sikap hormat.