Elemen

dian wahyuni
Chapter #1

Jade


Di pinggir hutan dekat perkampungan, terlihat seorang gadis kecil manis berlari sambil memegang topi bundar yang dipakainya. Ia memakai celana kargo pendek, kaos putih berlengan pendek dan rompi yang terdapat beberapa saku di dada. Gadis itu tampak riang menerabas ranting pohon yang mengenai siku bahkan betisnya. Sejurus kemudian larinya terhenti karena di depannya terdapat kubangan lumpur yang cukup lebar. Sejenak dia mengatur nafas sambil memegangi dadanya yang ngos-ngosan. Dia mengambil ancang-ancang mundur. Bersiap lari dan melompat melewati kubangan lumpur itu dan, hap! Gadis itu berhasil melewatinya.


Jade, nama gadis itu. Kakinya mendarat dan menapak dengan sempurna setelah melewati kubangan. Sepatu yang menjadi alas kakinya menjadi kotor karena cipratan lumpur di sepanjang jalan yang dilewatinya. Jade kembali menghentikan larinya tatkala melihat pohon kecil yang seperti baru sajaq melihat sekitar dari tempatnya berdiri. Beberapa tanaman baru ia dapati masih baru. Ia yakin kakeknya berada di sana.


Jade melangkah pelan sambil celingukan mencari sosok kakeknya. Beberapa langkah di depannya, ia mendapati pohon murbei yang penuh dengan buah di setiap rantingnya. Buahnya banyak yang telah masak. Jade senang bukan main dan menghampirinya. Jade tersenyum dan bergumam sebelum tangannya meraih buah murbei itu.

"Aku minta izin minta buahmu, ya.. Nanti kau hasilkan buah yang lebih banyak lagi untuk yang lain. Aku minta tidak banyak kok"

Jade mengulurkan tangannya untuk memetik buah murbei dari yang berwarna ungu. Satu petikan langsung dicicipinya. Jade meringis ketika murbei itu memberi rasa sedikit asam di mulutnya. Tapi itu tak berarti apa-apa karena bagi Jade karena buah di hutan merupakan harta karun baginya. Jade mengeluarkan plastik kecil dari sakunya. Ia selalu membawa plastik kecil setiap kali akan pergi ke hutan. Jaga-jaga jika menemui momen seperti ini.


Jade memetik buah murbei dengan hati-hati. Ia memilih buah murbei yang benar-benar sudah matang untuk memenuhi kantong plastik itu.

"Ibu pasti akan sangat senang jika aku membawa buah ini untuk dijadikan selai" pikirnya.

Jade adalah anak pecinta hutan dan isinya. Ia sering ikut kakek dan orang tuanya ke hutan jika libur sekolah atau di waktu senggang. Baginya, hutan adalah potongan surga. Ketika Jade sedang asyik memetik buah murbei, seseorang memanggilnya.

"Jade..!"

Jade menoleh kaget.

"Eh, Baskara. Jantungku mau copot tau..! Kalau nyapa yang sopan kenapa" protes Jade.

Baskara, teman sekelas Jade itu hanya terkekeh melihat kejengkelan Jade. Ia mendekati Jade yang kembali memetik buah murbei dan mengabaikan kehadirannya. Baskara ikut memetik buah murbei itu tanpa kata-kata. Tangannya meraih dengan cepat buah murbei yang masak dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


Karena sakunya terlalu kecil, tidak butuh waktu lama kantong saku itu telah penuh dengan buah murbei. Ia kebingungan ketika tangannya penuh dengan buah murbei. Baskara melihat kantong plastik Jade itu masih mampu menyimpan lebih banyak buah murbei timbul ide tengilnya.

"Jade, aku boleh nitip buah yang aku petik nggak? Sakuku udah penuh nih."

"Nggak mau, kamu tuh biasanya licik, curang, dan egois" Jade sebal.

"Dih, sekali ini aja percaya sama aku. Aku janji nggak akan gitu lagi ke kamu"

Lihat selengkapnya