Sampai di desa Baskara pamit pulang. Tinggal Jade dan kakeknya, mereka berjalan menuju rumah. Di sepanjang jalan mereka bertemu dengan warga swetempat. Mereka saling menyapa dan menawarkan mampir. Namun Kakek Dima menolak dengan halus. Sejak keberhasilannya mengembalikan hutan yang hampir mati, Kakek Dima disegani oleh warga. Sejak saat itu ia dianggap pahlawan desa.
Meskipun kini banyak penerus Kakek Dima dan mengikuti jejaknya, Kakek Dima tetap ingin bermanfaat bagi hutan. Ia akan ke hutan pada pagi hari dan kembali saat siang atau menjelang sore. Kakek Dima melakukan semua itu dengan ikhlas.
Jade dan kakeknya tiba di sebuah rumah sederhana bercat putih. Jade mendahului kakeknya berlari memasuki rumah memanggil ibunya.
"Ibu..! Lihat, Apa yang kubawa..."
Jade melepas sepatunya dan melempar asal karena ingin memberikan buah murbei yang dipetiknya dari hutan. Ia mendengar ibunya menyahut, Jade mengikuti arah suara ibunya. Di ruang tengah ibunya yang sedang memilah bahan makanan mentah yang akan ditempatkan di kulkas melihat baju Jade kotor oleh cipratan lumpur.
"Jade..! Sudah ibu peringatkan hati-hati sama lumpur. Ini kenapa bajumu ada noda merah?"
"Maaf, Ibu. Tadi Jade cari kakek di hutan mau kasih lihat baju baru ini. Jade buru-buru jadi harus lari di hutan. Nggak tahu kalo lumpurnya nyiprat ke baju. Tadi Jade juga petik buah murbei hutan buat dibikin selai" Jade mencoba menjelaskan sambil mengulurkan plastik berisi buah murbei.
"Baiklah, lain kali hati-hati. Wah, terimakasih ya. Buah murbeinya kelihatan masih segar"
Tak lama Kakek Dima menyela.
"Oh, ternyata Jade menyusul Kakek ke hutan ingin pamer baju, ya?"
"Iya, Kek. Lihat, bajuku. Baju petualang. Ayah membelikannya untukku"
"Jadi Ayahmu sudah pulang?" Tanya Kakek Dima.
"Sudah, Kek. Sekarang dia tidur" ibu Jade menjawab.
"Biarkan saja dulu. Dia pasti lelah. Aku juga mau bersih badan lalu istirahat"
Setelah Kakek Dima beranjak. Jade bermain-main dengan ikan di akuarium. Ibunya melanjutkan kegiatannya. Ibu Jade adalah menantu Kakek Dima. Namanya Indu. Wanita biasa yang hidup sederhana dan kebetulan menjadi pasangan Wira, ayah Jade. Tidak seperti ibunya, ayah Jade memiliki nama yang cukup terkenal di desanya. Meskipun memilih hidup sederhana dan masyarakat tidak tahu asal-usul Wira dan Kakek Dima yang masih memiliki hubungan kerabat dengan kerajaan, Wira berprofesi sebagai peneliti hutan. Wira bertugas di hutan terdekat. Tetapi tidak setiap hari ia bisa pulang ke rumah. Dalam satu bulan hanya beberapa kali dia pulang ke rumah.
Keluarga Jade tidak bisa lepas dari alam. Bahkan hutan telah mendarah daging dari kakek hingga dirinya. Yang ditunggu dari ayahnya saat pulang, cerita pengalaman ayahnya ketika di hutan selama bertugas. Ia selalu menunggu ayahnya bercerita tentang binatang yang terekam kamera pengintai, atau bahkan binatang aneh yang belum pernah terlihat di hutan. Jade selalu penasaran, apakah hewan yang ada dalam dongeng pernah dijumpai ayahnya.
Karena rasa rindu Jade dan ketidaksabaran pada cerita ayahnya, ia mengendap-endap masuk kamar ibunya dan mendapati ayahnya sedang tidur. Jade mendekati badan ayahnya yang meringkuk memunggunginya. Jade melihat wajah ayahnya dengan iba, tidur dengan pulasnya. Namun Jade teringat saat ia pura-pura tidur, ayahnya menggelitik hidungnya. Tindakan ayahnya berhasil menggagalkan rencana Jade mengelabui ayahnya. Jade ingin melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah pipi ayahnya. Jade memanggil ayahnya pelan.
"Ayah..banguuunn..."
Tetapi ayahnya tidak memberikan respon. Jade melakukannya sekali lagi.
"Ayah..ayo banguun..ceritain di hutan Ayah ketemu apa ajaa..."
Ayah Jade hanya menggeliat. Tahu-tahu ibunya sudah berada di belakang Jade.
"Jade, biarkan ayah istirahat sebentar. Ayah pasti kelelahan" lirihnya.
"Tapi Jade ingin dengar cerita Ayah sekarang.." balas Jade.
Ayah Jade menggeliat lagi. Merasa terganggu keributan kecil itu, Wira mencoba bangun dan memastikan apa yang terjadi.