Malam pun tiba, keluarga Kakek Dima berkumpul di ruang tengah bercengkerama. Mereka selalu melakukan kegiatan seperti ini setiap kali Wira pulang bertugas. Jade menagih janji kepada ayahnya selama bertugas di hutan. Wira menceritakan pengalamannya ketika tidak sengaja bertemu beruang madu, aneka jenis monyet, sampai berbagai hewan melata.
"Ketika kita bertemu dengan hewan-hewan liar di hutan, kita tidak boleh mengagetkannya. Kita harus tenang. Jangan lari apalagi membelakanginya. Mereka akan waspada pada manusia, mereka bisa menerka kita teman atau ancaman" jelas Wira yang membuat putrinya terkesima dengan pengalaman ayahnya.
Hampir tengah malam, Indu menyuruh putrinya tidur. Belajar dan mendengarkan cerita ayahnya dirasa telah cukup. Jade sempat menolak, namun kembali patuh setelah ayah dan kakek menasehatinya dengan bijak. Sebenarnya Jade memang sudah mengantuk. Tidak membutuhkan waktu yang lama Jade terlelap dalam tidurnya.
Di lain sisi, kakek dan ayahnya yang masih di ruang tengah membicarakan hal serius. Sedangkan Indu sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.
"Sepertinya Jade akan mewarisi takdir kakek buyutnya." Kakek Dima berbicara lirih.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Yah? Kumohon kali ini jangan salah lagi. Ayah tahu Jade masih terlalu kecil dan tidak tahu apa-apa"
"Kali ini pasti ramalan itu benar. Pemegang kekuatan inti ada yang terpilih ketika mereka masih bayi, Kau ingat?" Kakek Dima meyakinkan putranya.
"Itu dia. Aku takut Jade akan gagal karena ia tak diajarkan mengendalikan kekuatan. Sedangkan selama ini kita tahu Jade adalah anak normal sepertinya teman-temannya" Wira bersikeras.
"Kita harus pantau Jade. Dan jangan sampai orang lain tahu. Apalagi keluarga kita keluarga yang saat ini keberadaannya dicari oleh kerajaan"