Malam itu terasa mencekam. Suara kaki bergedebukan di atas tanah hingga debu beterbangan. Suara jangkrik dan hewan malam enggan berbunyi, mungkin merasa takut karena bayangan hitam berkelebat. Meskipun gerakannya cepat, tidak ada suara yang ditimbulkannya. Badannya seolah ringan seperti kapas namun gesit. Di belakangnya tidak hanya satu atau dua, mungkin lebih dari tujuh mengikutinya dari belakang. Di depannya tampak empat orang berlari diantaranya seorang kakek, laki-laki dan perempuan dewasa yang tampaknya pasangan suami istri, karena terlihat seorang anak perempuan sesekali memanggil ibu dan ayah. Masing-masing wajah terlihat panik hingga menerabas apa saja yang dilaluinya.
Sesekali menoleh ke belakang, lalu memastikan jalanan di depannya mampu dilalui tanpa harus melihat. Tak lama setelah itu, salah satu sosok hitam melesat lebih jauh hingga tahu-tahu satu sosok berpakaian serba hitam berdiri di depan empat orang itu menghadang, mengagetkan empat orang itu. Selain pakaiannya, wajah sosok itu tertutup kain hitam yang menutup seluruh wajahnya. Hanya kedua matanya yang terlihat. Itupun tertutup oleh topi lebar. Sosok itu berkacak pinggang. Tanpa mereka sadari, di belakang mereka telah berdiri orang-orang yang berpakaian sama hitam.
Kakek itu meracau dalam ketakutannya, berusaha bernegosiasi untuk keselamatan keluarganya. Namun kalimatnya tak karuan karena dalam posisi terdesak demikian. Anak kecil itu memeluk pinggang ibunya sambil menangis. Tak bergeming, apapun yang mereka berempat lakukan tak bereaksi pada sosok penghadang di depannya. Malah, keempat orang itu bertambah panik ketika melihat orang itu menggenggam gagang pedangnya. Mereka hampir tidak menyadari bahwa sosok itu memiliki pedang di punggung. Ketika pedang itu ditarik pelan-pelan dari sarungnya...
"Haaahhh!!!!!" teriakan Kakek Dima bergema di kamarnya. Ia terbangun dari tidur karena mimpi. Sambil mengusap dadanya yang nyeri, ia berusaha mengatur nafasnya. Ia merasa mimpi barusan begitu nyata dan menyeramkan. Sesaat kemudian, Jade memanggilnya di balik pintu kamar.
"Kakek...! Kakek baik-baik saja?" suara Jade terdengar khawatir.
"Ya, Jade. Kakek tidak apa-apa. Masuklah" Kakek Dima mencoba menenangkan diri.
Jade masuk ke dalam kamar menghampiri kakeknya untuk memastikan. Kakek Dima melihat jam di dinding kamar.
"Waduh, ternyata sudah siang ya. Kenapa Jade tidak membangunkan Kakek" kata Kakek.
"Jade mau membangunkan Kakek, lalu tadi Jade mendengar Kakek teriak. Kakek kenapa?"
"Oh, tidak apa-apa, Nak. Kakek hanya bermimpi buruk. Lihat sudah jam enam pagi" Kakek Dima mengalihkan pembicaraan agar Jade tidak mengkhawatirkannya lagi. Ia turun dari ranjangnya segera melipat selimut dan merapikan tempat tidurnya. Melihat kelakuan kakeknya, Jade heran.
"Ayo Jade bersiap untuk bersekolah, Kakek akan mengantarmu. Pulang sekolah nanti Kakek juga akan mengajarkan ilmu bela diri baru dan..."
"Dan...?" Jade mengulang kalimat kakeknya yang terputus.
"Sudahlah, hari ini Senin, kan? Kau harus berangkat pagi." Kakek Dima mendorong badan cucunya keluar dari kamarnya. Selama ini dia selalu memastikan bahwa cucunya sekolah dengan aman. Dengan mengantar jemput Jade sekolah. Dan menjamin agar Jade berhati-hati ketika memberikan informasi tentang dirinya dan keluarganya.
Jade merasa bosan menunggu di luar kamar kakeknya. Biasanya, jam setengah tujuh mereka dalam perjalanan ke sekolah. Tapi hari ini kakeknya masih bersiap dalam kamar. Jade ingin menerobos masuk ke dalam kamar kakeknya, kebetulan pintu kamarnya tidak ditutup dengan benar. Jade mendekati pintu kamar, dengan ragu dia membuka pintu itu perlahan. Jade mengintip kakeknya yang hampir selesai. Jade menyadari lengan kakeknya memiliki tato. Selama ini yang Jade tahu kakeknya selalu memakai pakaian lengan panjang, mungkin alasannya untuk menutupi tato, pikirnya. Jade tidak menyangka bahwa kakeknya sempat menjadi badung dengan menato lengannya. Ia ingin menanyakan pada kakeknya namun takut jika kakeknya marah, apalagi ibunya. Ia memilih menyimpan rahasia itu sendiri.
Mendengar langkah kakeknya mendekat, Jade menjauhi pintu. Begitu pintu terbuka, kakeknya sudah siap dengan sweater. Pertanyaan Jade tentang tato itu tak tertahankan. Ia ingin menanyakannya. Tanpa menunggu waktu lama, Jade berangkat sekolah diantar kakeknya dengan motor matic.
Di perjalanan, Jade maupun kakeknya terdiam. Kakek Dima yang memikirkan cucunya hampir terlambat, Jade memikirkan tato kakeknya. Tak lama Jade memiliki ide.
"Kakek, dulu waktu Kakek masih muda kayak siapa? Atau Kakek mengidolakan siapa?"