Pada jam istirahat, Jade dan teman-temannya yang piket pada hari itu memeriksa tanaman yang ada di depan kelasnya. Penanganan masalah pada tanaman bunga akan mereka kerjakan setelah pulang sekolah, sedangkan jam istirahat mereka gunakan untuk menyiapkan apa saja yang mereka perlukan nantinya.
Dio dan Martin mengambil beberapa pot bunga yang tergantung. Sedangkan Terra, Rhea, dan Jade memeriksa tanaman lain yang ada di bawah. Mereka memeriksa satu persatu tanaman itu. Ada tanaman yang tanahnya mengering, ada tanaman yang terkena hama, dan lainnya layu entah mengapa. Mereka berniat menemui tukang kebun sekolah untuk mencarikan solusi apa yang tepat untuk menangani tanaman kelas empat.
"Sudah kalian tenang aja, biar aku dan Martin yang nyari Pak Tito" kata Dio.
"Halah sebenarnya kalian pengen sekalian jajan kan" Rhea menimpali.
"Hehehe, nanti aku jajanin sekalian deh. Dah yaa.." Dio melarikan diri bersama Martin.
"Dasar anak cowok, mau menang sendiri" Terra mendengus.
Jade terdiam. Ia mengingat bagaimana kakeknya mengajarinya menangani permasalahan tanaman. Jade meraih tanaman yang terserang hama. Ia memetik daun yang terserang hama. Pada tanaman yang ada di pot, ia keluarkan tanahnya kemudian ia urai tanah yang mengeras dari pot itu. Kedua temannya melihat dengan heran.
"Apa yang kamu lakukan, Jade?"
"Anggap aja pertolongan pertama. Tapi nggak tau juga sih bener apa enggak. Lagian mau ngapain coba di sini nungguin Dio sama Martin. Kalian yakin mereka bakal balik cepet?"
"Iya juga ya, Dio biasanya kalo balik ke kelas pasti mepet sama bel mau bunyi" Rhea membenarkan Jade.
"Yaudah, kalo gitu kita bantuin Jade. Biar kelar satu pot juga kan lumayan" sambung Terra.
Mereka bertiga asyik Dio dan Martin kembali. Mereka membawa kantong plastik berisi jajanan.
"Kalian ngapain deh, nanti kita bakal dibantuin sama Pak Tito loh." Tegur Martin.
"Tumben kalian kali ini amanah, ada apa nih? Biasanya kan kalian balik kelasnya mepet" Sindir Rhea.
"Baru juga mau ngomong, aku sama Martin mau main. Kalian makan aja jajanan yang udah aku beliin, nih" Dio menyodorkan plastik itu pada Rhea.
"Kamu serius nih?" Rhea menyambut plastik berisi jajanan itu dengan gembira.
"Ayo Jade, kita terusin nanti aja. Kapan lagi kita ditraktir gini." Ajak Terra.
"Ayok, kalian duluan. Ini tanggung tinggal masukin ke pot." Jade masih sibuk dengan tanamannya.
Di saat Dio dan Martin sudah berlalu, Terra dan Rhea sudah membersihkan tangan mereka dan bersiap menyantap jajanan dari Dio, saat itu juga Rania mendatangi Jade.
"Udahlah, Jade. Nanti kan sepulang sekolah dibantuin sama temen sekelas."
"Bentar, Ran. Cuma satu ini kok" Jade menjawab.
"Ayo, Jade. Buruan napa sih. Ajakin Rania juga kalo mau" panggil Terra pada Jade.
"Iya ini udah!" Jade kesal pada Terra yang tidak sabaran.
Kepada bunya yang telah ia tanam, ia menyentuh permukaan tanah di dalam pot sambil bergumam.
"Kamu harus bertahan, kamu pasti bisa tumbuh kembali dengan lebih cantik dan segat. Kemudian semua akan sayang padamu"
Rania melongo melihat kelakuan temannya. Ia biasa dengan kebiasaan Jade yang selalu memberikan kalimat positif pada pohon atau tanaman. Rania memperhatikan bagaimana sahabatnya meletakkan bunga yang baru saja ditanam dengan hati-hati. Seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. Baru Jade membersihkan tangannya lalu bergabung bersama Terra dan Rhea.
---
Setelah melewati hari Senin yang panjang, akhirnya tiba waktu pulang. Tetapi tidak dengan kelas empat yang telah diberikan tugas oleh Ibu Azalea untuk memperbaiki dan merawat tanaman. Dio dan Martin sudah bergegas mencari Pak Tito agar membantu mereka jika memerlukan pupuk atau alat yang diperlukan.