Bab 2: Uji Coba Kehendak Sang Penguasa
Pintu aula obsidian itu tertutup dengan suara dentuman berat yang menggema, mengunci dunia luar yang penuh dengan kepanikan tentara koalisi. Di dalam, cahaya hanya berasal dari obor sihir berwarna ungu yang menari-nari di dinding, memberikan bayangan panjang yang eksotis pada lekuk tubuh para wanita yang masih berlutut di sana.
Kian menyandarkan punggungnya di singgasana tulang naga. Rasanya luar biasa—dingin namun memberikan sensasi kekuatan yang tak terbatas.
"Mendekatlah, Althea. Lilith," perintah Kian pelan.
Kedua wanita itu merangkak maju. Althea, sang High Priestess, bergerak dengan keanggunan yang suci namun matanya berkaca-kaca oleh antisipasi. Lilith, di sisi lain, bergerak seperti predator yang akhirnya diizinkan untuk menerkam mangsanya.
Kian mengulurkan tangannya. Althea segera menggenggam jemari tuannya dan menciumnya dengan khidmat, sementara Lilith menyandarkan kepalanya di lutut Kian, membiarkan sayap hitamnya menyelimuti kaki sang penguasa.
"Katakan padaku," Kian memulai, suaranya rendah dan penuh selidik. "Apa yang kalian rasakan sekarang? Apakah kalian merasa... berbeda?"
Althea mendongak, wajahnya yang cantik kini hanya berjarak beberapa inci dari tangan Kian. "Tuanku... sebelumnya, pikiran kami seolah dipandu oleh sebuah 'kehendak luar'. Kami tahu kami harus mencintaimu, tapi itu terasa seperti melodi yang dimainkan dari kejauhan. Namun sekarang..." ia menelan ludah, suaranya bergetar. "Melodi itu kini menjadi badai. Setiap sel di tubuhku berteriak bahwa aku hanya ada untuk memuaskanmu."